Minggu, 19 Juli 2015

MEREKA YANG CIPTAKAN TERORIS, MEREKA PULA YANG MENUDUH

by  Quito Riantori


Sesuai prinsip dialektika Hegel, kaum Globalis 1] menciptakan 2 kekuatan yang saling berlawanan : Demokratik Liberal yang diwakili Barat, versus Terorisme, yang diwakili Islam politis, untuk memaksa kita agar menerima pilihan akhir mereka, yaitu Tatanan Dunia Baru (New World Order). 2]
Barat (AS, Uni-Eropa) dan Islam telah berupaya memperbaiki hubungan yang telah lama memburuk akibat agresi militer yang senantiasa dilakukan tentara-tentara Barat terhadap negeri-negeri yang mayoritas berpenduduk Muslim hingga saat ini.
Barat hanya melakukan retorika dengan slogan-slogan perdamaian dan keamanan dunia, di balik itu mereka justru melakukan aksi-aksi penjarahan gaya baru demi menguras kekayaan alam negeri-negeri Muslim, dengan terlebih dahulu menyebar isu Terorisme di berbagai penjuru dunia. Mitos “Benturan Peradaban” (Clash of Civilizations) Barat dan Islam terus didengungkan ke seluruh penjuru dunia, semata-mata dalam rangka mengobarkan sentimen Dunia terhadap Islam.

Upaya mereka tersebut juga membuahkan hasil dengan terciptanya satu kelompok baru, yaitu Kelompok Islam Liberal, yang sebenarnya lebih tepat dikatakan sebagai Islam ala Barat.
Keberhasilan Barat menciptakan kelompok ini tak lepas dari PENCITRAAN Barat atas Islam sebagai sebuah agama radikal, fundamental, keras, tak bertoleransi, dengan diperkuat fakta-fakta adanya kelompok Islam radikal yang sebenarnya keberadaannya merupakan rekayasa Barat yang telah lama menciptakan kelompok ini, dan semakin mencuat ke permukaan dengan penokohan seorang teroris yang bak hantu, seorang Wahabi fanatik bernama Osamah bin Laden.
Peter Goodgame, di dalam artikelnya, The Globalists and the Islamists, mengatakan bahwa kaum Globalis mempunyai andil dalam pembentukan dan pembiayaan seluruh organisasi teroris Abad 20, termasuk Mujahidin Afghanistan. Dan sejarah muka-dua (kemunafikan) mereka masih bisa kita lihat, pada abad 18, ketika Organisasi Rahasia Inggris (British Freemasons) menciptakan sekte Wahabi Saudi Arabia, untuk tujuan imperialistis mereka.
DARI WAHABISME KE TERORISME
Agen Rahasia Inggris, Hempher, bertanggung-jawab atas pembentukkan ajaran ekstrim Wahabi, yang disebut-sebut di dalam Mir’at al-Haramain, tulisan seorang mantan panglima pemerintah Turki bernama Ayyub Sabri Pasha antara 1933-1938. Pemerintah Inggris di dalam jajahan-jajahannya sering terlibat dalam penciptaan sekte-sekte, dengan tujuan memecah-belah dan menaklukkan (to Divide and Conquer), sebagaimana kasus sekte Ahmadiyyah Qadiyyan di India pada abad 19, dan Wahabi di Arab Saudi demi menguasai Semenanjung Arab, yang akhirnya dinamai Saudi Arabia.
Rincian konspirasi ini digambarkan secara gamblang dalam dokumen “kecil” yang sudah banyak diketahui : The Memoirs of Mr. Hempher 3] yang dipublikasikan dengan berseri (dalam 7 bagian) di dalam surat kabar berbahasa Jerman, Spiegel, yang kemudian juga dipublikasikan surat kabar terkemuka Perancis. Seorang dokter Libanon menerjemahkan dokumen ini ke dalam bahasa Arab dan dari sini dokumen tersebut diterjemahkan ke bahasa Inggris dan berbagai bahasa.
Dokumen ini merupakan laporan pertanggung-jawaban tangan pertama, oleh Hempher dalam misinya untuk pemerintah Inggris, yang mengirimnya ke Timur Tengah untuk menemukan cara meruntuhkan Kesultanan Turki Utsmani (the Ottoman Empire).
Di antara cara-cara busuk pemerintah Inggris adalah mensponsori rasisme, nasionalisme, alkohol, perjudian, perzinahan, dan melucuti hijab perempuan-perempuan Muslim. Namun strategi terpenting mereka adalah ajaran-ajaran anti bid’ah ke dalam pemikiran kaum Muslim dan kemudian mengkritik Islam untuk menjadi sebuah agama teror. Untuk tujuan ini, Hempher menempatkan secara khusus seseorang bernama Muhammad Ibn Abdul-Wahhab. 3b]
Sebagai bagian strategi Memecah-belah dan Menaklukkan (Devide & Conquer), pemerintah Inggris ingin mengadu-domba Muslim Arab dengan saudara Turki mereka. Satu-satunya cara untuk mewujudkannya adalah menemukan celah atau lasan dengan menggunakan hukum Islam sehingga orang-orang Arab (badui) ini dapat menyatakan bahwa orang-orang Turki telah menyimpang dari agama Islam. Akhirnya, Muhammad bin Abdul-Wahhab dijadikan alat oleh pemerintah Inggris agar bisa menyatakan secara tidak langsung gagasan busuk ini kepada kaum Muslim Jazirah Arab ini.
Pada dasarnya, Ibn Abdul-Wahhab ini hanya menyusun gagasan sederhana dengan membid’ahkan tindakan-tindakan semisal berdoa kepada para awliya’ (kekasih Tuhan) dan mengkafirkan saudara-saudara seiman mereka, orang-orang Turki, sehingga dengan demikian orang-orang Arab badui – pengikut Ibn Abdul-Wahhab – ini dibolehkan secara hukum untuk membunuh/memerangi siapa saja (termasuk orang-orang Turki) yang menolak gagasan pembaharuan mereka dan memperbudak wanita-wanita serta anak-anak mereka.
Gagasan Ibn Abdul-Wahhab ini berlaku untuk siapa pun di dunia ini, kecuali mereka yang bersedia menerima gagasan Wahabi yang telah jauh menyimpang ini. Tentu saja Gerakan Wahabi ini tidak berarti apa-apa jika tanpa bantuan dari keluarga Saudi, yang meskipun menyatakan sebaliknya, sebenarnya mereka adalah keturunan para pedagang Yahudi (Jewish merchants) dari Irak.
Para ahli hukum dari Ahlus-Sunnah wal Jamaah pada masa itu mencap kaum Wahabi telah menyimpang dan mengutuk fanatisme dan ketidaktoleranan mereka. Meskipun demikian, kaum Wahabi justru memperlihatkan kejijikan mereka – karena menganggap diri merekalah yang sebenarnya beriman – tanpa pandang bulu membantai kaum Muslim dan non-Muslim.
Kemudian kaum Wahabi menghancurkan semua makam-makam dan tanah suci kaum Muslim. Mereka mencuri harta benda peninggalan Nabi (saw), termasuk kitab-kitab berharga, karya-karya seni dan barang-barang berharga yang tak terkira banyaknya lalu mengirimnya ke kota. Kitab-kitab kuno berharga yang ditulis di atas kulit, dijadikan sandal oleh Wahabi-wahabi kriminal ini.
Kesultanan Turki Utsmani ini berhasil mematahkan pemberontakan Wahabi yang pertama, namun sekte Wahabi ini dibangkitkan kembali di bawah kepemimpinan Saudi Faysal I. Gerakan ini kemudian dipulihkan kembali sampai sekali lagi dibinasakan pada ujung abad 19.
Setelah Perang Dunia I, wilayah-wilayah kekuasaan Kesultanan Turki Utsmani dipecah-pecah menjadi rezim-rezim boneka. 4]
Karena membantu pemerintah Inggeris (pihak Barat) dalam mengikis-habis kekuasaan Kesultanan Turki Utsmani, Ibn Saud dihadiahi dengan mendirikan Kerajaan Saudi Arabia (the Kingdom of Saudi Arabia) pada 1932.
Setahun kemudian, pada 1933, keluarga Saudi memberikan konsesi minyak kepada California Arabian Standard Oil Company (Casoc), yang merupakan afiliasi perusahaan minyak Standard Oil of California (Socal, sekarang Chevron), yang dikepalai oleh agen Rothschild, dan Rockefeller, yang semuanya adalah kerjasama perusahaan-perusahaan minyak Amerika Serikat. 5]
Sejak itu, Kerajaan Saudi Arabia telah menjadi sekutu paling utama Barat di Timur Tengah, tidak hanya siap menyediakan akses cadangan minyak yang berlimpah, tetapi juga melunakkan agresi Arab terhadap Israel.
Berkaitan dengan kemunafikan nyata rezim ini (Saudi), adalah perlu menindas secara brutal orang-orang yang berbeda paham dengan mereka. Aspek-aspek penting lainnya adalah MELARANG KERAS para ulama membicarakan POLITIK, agar dengan demikian tak seorang pun bisa mengkritik rezim ini.
Di dalam buku The Two Faces of Islam, Stephen Schwartz menulis, “Mereka (para pangeran dan raja Saud) senang mengunjungi kedai-kedai minuman (keras), tempat judi (casino), rumah-rumah bordil…mereka membeli mobil-mobil mewah, jet-jet pribadi, kapal pesiar yang seukuran dengan kapal perang.
Mereka menanam modal dengan membeli karya-karya seni Barat yang mereka sendiri tidak memahami atau menyukainya dan sering menyakiti perasaan ulama Wahabi. Mereka berfoya-foya sekehendak hati mereka, menjadi pelindung (patron) perbudakan seks internasional dan eksploitasi anak-anak.”
Itulah hasilnya, agar tampak mendukung Islam, rezim Saudi dan ulama-ulama bonekanya telah mengembangkan sebuah Islam versi mereka (Wahabi) yang menekankan rincian aturan-aturan agama, dengan membantu memahami realitas politik yang lebih luas.

Perilaku mereka yang mendorong penafsiran hukum-hukum Islam secara literal, secara otomatis mengijinkan Bin Laden mengeksploitasi al-Quran untuk pembenaran tindakan membunuh orang-orang yang tak berdosa.
Akhirnya, keberlimpahan petro-dollar Rothschild memenuhi koper-koper keluarga Saudi memungkinkan mereka mempropagandakan Islam versi mereka yang nilainya rendah (Wahabisme) ke seluruh penjuru dunia, terutama ke AS, di mana mereka mensubsidi di atas 80% masjid-masjid di sana, versi Islam yang menggantikan kesadaran politik pengikutnya dengan desakan dogma pada fanatisme ritual.
Pada 1999, Raja Fahd dari Kerajaan Saudi Arabia menghadiri pertemuan Bildberg, untuk mendiskusikan perannya dalam minatnya yang lebih jauh untuk pemerintahan dunia. Secara jelas, keluarga Saudi merupakan bagian dari manuver kebohongan dari The Illuminati Network. 6]
Keterlibatan mereka dalam akumulasi petro-dollar merangsang mereka untuk membiayai terorisme global, dari Afghanistan sampai Bosnia, hanya dengan tujuan agar dunia membenci dan melawan Islam.

_________________________________________
Catatan Kaki :
[1] AS, Zionis Israel & Uni-Eropa (pent.) David Livingstone, Wahhabi Terrorism To Destroy Islam – No More Islamic Than Billy Graham
[2] Istilah New World Order ini mencuat lagi ketika AS, Israel dan Uni-Eropa memaksa pemerintah Libanon mengikuti keinginan-keinginan mereka, dan menghasut mereka agar bersedia melucuti senjata Hizbullah yang berhasil mengalahkan Israel pada perang 32 hari pada Juli 2006 lalu. Barat menginginkan agar umat Islam tidak berpolitik. Sesuai pesanan Barat, syekh-syekh Wahabi termasuk Bin Baz, pun berfatwa mengharamkan berorganisasi dan berpolitik.
[3] Anda bisa download dokumen ini di 
[3b] Muhammad Ibn Abdul-Wahhab mengajarkan ajaran-ajaran yang tak pernah diajarkan oleh alim-ulama Islam sebelumnya, seperti Anti Bid’ah Yang Berlebihan, Anti Ziarah Kubur, Anti Maulud Nabi Saw, Anti Khurafat, Anti Tawassul, dan Pengkafiran atas seluruh Umat Islam kecuali golongan mereka sendiri.
Fanatisme yang ditanamkan paham Ibn Abdul Wahhab akan dapat Anda rasakan jika Anda bertemu dengan siapa pun baru pulang belajar Islam di Makkah maupun di Madinah. Dan tidak perlu jauh-jauh, di Indonesia pun ada sebuah lembaga yang mengajarkan IDEOLOGI WAHABI yang tak bisa dipungkiri merupakan ajaran paling mendasar terorisme, mengingat jiwa Takfirisme-nya.

[4] Hal ini pula yang ingin dilakukan oleh AS dan sekutu-sekutunya dinegeri-negeri Islam. (pent)
[5] Tampaknya ini pula yang sedag diusahakan oleh AS di Irak dan Afghanistan.
[6] Sebuah organisasi rahasia yang berbasis di Inggris.

Minggu, 12 Juli 2015

Khutbah Idul Fitri 1436 H: EFEK DAN KEUTAMAAN TAQWA BAGI DIRI, KELUARGA, DAN KEHIDUPAN BANGSA


Oleh : Nanang Masaudi
الله اكبر 9× لااله الا الله والله اكبر , الله اكبر ولله الحمد
الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونتوب إليه ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا من يهدي الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له. أشهد أن لا اله الا الله وأشهد أن محمدا عبده ورسوله. اللهم صل وسلم على نبينا محمد وعلى اله وأصحابه أجمعين. أما بعد فيا عباد الله أوصيكم ونفسي بتقوى الله وطاعته لعلكم تفلحون.

Ma’asyiral Muslimin wal Muslimat Jamaah Shalat Idul Fitri Rahimakumullah !.
Gema takbir dan tahmid terus bersahutan sejak malam hingga pagi ini sebagai pekik kemenangan dan ekspresi kesyukuran orang-orang beriman di atas medan perjuangan bernama Ramadhan. Kemenangan melawan hawa nafsu yang cenderung melahirkan laku buruk manusia, seperti amarah, dendam, bakhil, tamak, iri dan dengki. Rasa syukur pula nampak menghiasi hari kemenangan ini atas nikmat yang besar yakni pakaian taqwa yang menjadi hadiah terbaik di bulan ramadhan. Keimanan kita kini telah menemukan ketaqwaannya melalui jalan-jalan terjal dan berliku selama ramadhan dan hanya mereka yang bersabarlah yang dapat mencapai kemenangan gemilang. Olehnya itu merekalah yang layak bergembira di hari agung ini. Sungguh kerugian yang teramat besarlah bagi mereka yang gagal menapak jalan kemenangan di bulan suci yang telah meninggalkan kita dan belum tentu akan menemui kita kembali. Bagaimana tidak dikatakan rugi, karena kegagalan itu berarti kegagalan meraih meghfirah, kegagalan meraih pehala yang besar, kegagalan meraih jannah-Nya, kegagalan memperoleh fitrah, kegagalan meraih kemuliaan seribu bulan, kegagalan meraih rahmat-Nya dan kegagalan meraih pakaian taqwa. Kesempatan itu kini telah pergi dan boleh jadi usia hayat kita justeru berakhir di tahun ini, wallahu a’lam bisshowab. Namun, jangan patah arang, sehari saja usia kita tersisa segeralah mendekat kepada Allah sedekat-dekatnya dengan penyesalan yang sungguh-sungguh niscaya kita akan menemukan Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Bila usia kita panjang maka persiapkanlah iman kita sejak dini hingga ketika ramadhan itu kembali maka kegagalan hari ini akan menjadi pelajaran penting untuk meraih sukses di Ramadhan yang akan datang.
الله أكبر, الله أكبر, الله أكبر, ولله الحمد
Kepada mereka yang tengah merayakan kemenangan di hari Idul Fitri ini, selamat atas kemenangan yang telah diraih dan karena kemenangan ini pula layaklah kiranya menerima ucapan atau ungkapan doa ‘minal ‘aa-idiin wal faa-izin’ (semoga kita termasuk orang-orang yang kembali dan orang-orang yang menang). Sebulan penuh kita telah di-tarbiyah oleh Allah melalui Ramadhan. Dengan puasa kita telah memenangkan banyak hal di medan perjuangan ini. Bahkan di sepuluh hari terakhir kita semakin tenggelam dalam dzikir dan perenungan sebagai bentuk usaha keras taqarrub ilallah untuk meraih kemuliaan lailatul qadar sekaligus sebagai peristirahatan jiwa dan pikiran kita dari kepenatan urusan dunia dan segala beban-bebannya. Kemenagan telah diraih dan panji taqwa telah berkibar dengan gagah di hati-hati orang-orang yang beriman.
Jama’ah ‘Ied Rahimakumullah!
Ketaqwaan adalah status kemuliaan seorang hamba di sisi Allah SWT. Ini adalah gelar dunia dan langit yang tak mampu ditandingi oleh seribu gelar dunia sekalipun. Taqwa adalah aset peradaban umat manusia yang paling haqiqi. Peradaban yang memiliki nilai tinggi tidak hanya mengandalkan simbol-simbol kemajuan fisik belaka, seperti gedung-gedung tinggi, jalan-jalan yang lebar, dan rumah-rumah super mewah. Lebih dari itu peradaban identik dengan nilai-nilai haqiqi yang membawa pada keteraturan, kedamaian dan kesejahteraan. Itulah sesungguhnya alamat adanya keberkahan dalam kehidupan. Hilangnya taqwa akan meyebabkan hilangnya keberkahan. Bila keberkahan telah diangkat dari kehidupan seseorang atau suatu negeri maka masalah-masalah yang menyempitkan akan datang silih berganti.

Simaklah firman Allah SWT berikut ini:
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى ءَامَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَآءِ وَاْلأَرْضِ وَلَكِن كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”.  (QS. Al A'raf: 96)
الله أكبر, الله أكبر, الله أكبر, ولله الحمد
Taqwa menjadi modal penting dalam menampilkan jatidiri seorang hamba di hadapan Sang Khaliq bahkan menjadi perkara yang tidak bisa ditawar-tawar lagi dalam menciptakan sebuah masyarakat madani  dalam satu negeri yang  baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur, negeri yang aman, damai dalam limpahan berkah Allah SWT.  Janganlah menilai kemuliaan seseorang hanya dari merk pakaiannya atau jumlah harta yang ia miliki dan jangan pernah mengukur kemajuan sebuah bangsa atau masyarakat hanya dari gedung-gedung pencakar langitnya, tetapi lihatlah dari ciri-ciri ketaqwaannya. Pandanglah cara mereka memperoleh rezeki, interaksi sosialnya, ghiroh keagamaannya, kehidupan politiknya, hingga tentu saja adalah tentang ibadahnya. Aspek-aspek kehidupan itu akan menunjukkan karakter seseorang atau suatu bangsa di sebuah negeri. Jika karakternya buruk maka itulah alamat kerusakan, namun jika karakternya baik maka demikian itulah pribadi yang mulia yang kelak akan membentuk peradaban masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemuliaan. Allah SWT berfirman:
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa di antara kalian.” (QS. Al-Hujurat : 13)
Jama’ah ‘Ied Rahimakumullah!
Apa sajakah efek dan keutamaan taqwa dalam diri pribadi, keluarga dan kehidupan bangsa? Mari kita simak uraian berikut ini:
Pertama, Efek dan Keutamaan Taqwa dalam Kepribadian Seorang Muslm.
Taqwa adalah pakaian terbaik bagi diri kita. Kadang kita sedih ketika baju kesayangan kita ternyata rusak oleh mesin cuci. Jika yang rusak itu adalah pakaian biasa mungkin tak ada kekesalan. Persoalannya pakaian tersebut adalah yang terbaik dan termahal. Itulah hakekat pakaian, setiap kita memiliki satu yang terbaik dan termahal di antara sekian yang ada. Demikian juga sepatutnya seorang mu'min ketika kehilangan pakaian terbaiknya. Allah menyediakan satu pakaian terbaik untuk mereka, yaitu taqwa.
... وَلِبَاسُ ٱلتَّقْوَىٰ ذَٰلِكَ خَيْرٌ ...
"...dan pakaian taqwa itulah yang paling baik." (QS. al-A'raf: 26)
Bila kita sanggup jatuh bangun mengumpulkan harta untuk membeli pakaian bagus dan perhiasan mahal dan bersedih karena kehilangannya, maka kitapun harus jauh lebih kuat untuk jatuh bangun demi meraih dan kemudian menjaga pakaian terbaik dari Allah. Sebaliknya, kemalangan terburuk adalah karena hilangnya pakaian itu dari diri kita. Ramadhan telah menuntun kita untuk meraihnya dan Istiqomah adalah sikap terbaik untuk merawatnya agar tetap bersih.
Ketaqwaan akan melahirkan sifat-sifat terbaik dalam diri seseorang. Tidak hanya dalam perkara hablum minallah, tetapi juga hablum minannas. Ibadah-ibadah mahdhah kita seperti sholat, puasa, zakat, haji, dan dzikrullah tak akan memiliki nilai bila kita buruk dalam menata hubungan dengan alam sekitar, seperti manusia, lingkungan dan makhluk hidup lainnya. Orang-orang yang bertaqwa adalah agen-agen rahmatan lil’alamin yang selalu membawa kebaikan dan kedamaian. Mereka bagaikan pohon yang buahnya lebat. Tidak pernah berhenti memberikan manfaat bagi siapapun selama mereka hidup. Bahkan terhadap yang berbuat jahat kepada mereka sekalipun, selalu ada kata maaf. Pohon yang dilempari batu selalu menjatuhkan buahnya kepada yang melemparinya. Begitulah filosofi yang selalu melekat pada diri orang-orang yang bertaqwa hingga Allah banyak memberikan pujian kepada mereka.
Ibnu Abbas berkata: " Sesungguhnya amal kebaikan itu akan memancarkan cahaya di dalam hati, membersitkan sinar pada wajah, kekuatan pada tubuh, kelimpahan pada rezeki dan menumbuhkan rasa cinta di hati manusia kepadanya. Sesungguhnya amal kejahatan itu akan menggelapkan hati, menyuramkan wajah, melemahkan badan, mengurangi rezeki dan menimbulkan rasa benci di hati manusia kepadanya." 
الله أكبر, الله أكبر, الله أكبر, ولله الحمد
Bukan karena jabatan kita menjadi mulia. Bukan juga karena ilmu kita menjadi mulia. Bukan juga karena harta, kecantikan, dan gelar. Semua itu hanyalah citra yang melekat pada diri yang sungguh amat merepotkan pemiliknya. Jabatan akan membuat pemiliknya cenderung merasa selalu kuat dan berada di atas. Ilmu akan membuat pemiliknya bersikap harus selalu benar alias tidak boleh salah. Harta akan membuat pemiliknya menjadi takut kehilangan dan merasa cukup hingga merasa tidak membutuhkan orang lain, justeru orang lainlah yang membutuhkan dia. Kecantikan akan membuat pemiliknya sibuk dengan peralatan kecantikan dan segala tetek bengeknya dan dekat dengan fitnah atau musibah.
Gelar akan membuat pemiliknya selalu merasa bangga diri dan merasa paling hebat dibidangnya, itulah yang disebut ujub. Citra-citra yang membebani diri itu juga akan menciptakan banyak penipu di hadapan pemiliknya. Kita baru akan menyadarinya saat semua citra-citra itu hilang dari kehidupan kita. Itulah kehormatan semu yang juga hanya akan memperoleh penghormatan semu. Inilah dunia kamuflase. Ramadhan telah menyematkan  ketaqwaan kepada yang telah meraihnya. Ketaqwaan itulah yang mengantarkan pemiliknya pada kemuliaan sejati tanpa embel-embel pujian dan penghormatan semu.
Jama’ah ‘Ied Rahimakumullah!
Kedua, Efek dan Keutamaan Taqwa dalam Kehidupan Keluarga
Tidak elok kiranya bila dalam sebuah keluarga terdapat dua kutub pihak yang bertolak belakang khususnya dalam perkara aqidah dan amal sholeh. Katakanlah seorang bapak yang rajin beribadah tetapi tidak peduli dengan anaknya yang menjadi anggota geng kelompok kejahatan atau barangkali seorang isteri yang rajin ke majelis ta’lim sementara suaminya justeru menjadi germo di tempat hiburan malam. Meski terdengar seolah begitu naïf, tetapi dinamika keluarga yang kontras dalam sikap dan perbuatan masing-masing ternyata adalah perkara lazim dan ada di sekitar kita bahkan boleh jadi juga menimpa keluarga kita. Di zaman para nabipun betapa tidak sedikit pula anggota keluarga para nabi yang menolak dakwah mereka bahkan menentangnya. Seperti nabi Nuh dan anaknya Kan’an yang durhaka, juga nabi Ibrahim dengan ayahnya Azar yang justeru menjadi pemahat berhala bagi kaumnya.
Tidak enak pula rasanya membayangkan kehidupan di surga namun terbayang wajah-wajah anggota keluarga yang menderita karena terpanggang di dalam api neraka. Sungguh keadaaan yang mengusik ketenangan jiwa bila orang-orang yang kita cintai di dunia tidak terjangkau hidayah Allah. Keadaan seperti ini tentu sangat dipahami oleh Allah sehingga wajar bila kita diingatkan dalam firman-Nya:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلائِكَةٌ غِلاظٌ شِدَادٌ لا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim : 6)
“Setiap kali nyala api Jahannam itu akan padam, Kami tambah lagi nyalanya bagi mereka.” (Al-Isra’: 97)
“Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka terus merasakan azab.” (An-Nisa’: 56).
Begitulah dahsyatnya api neraka yang tentu sangat jauh berbeda dengan api di dunia. Sungguh malang bila kulit kita, atau isteri kita, atau anak-anak kita dijilat oleh api yang teramat panas itu. Na’uudzu billahi min dzaalik!
Taqwa selayaknya melahirkan kepedulian dan kasih sayang bagi orang-orang terdekat dalam keluarga kita. Nama dan wajah mereka  tak luput untuk selalu terukir dalam untaian doa-doa harian kita. Setiap anggota keluarga juga saling mendukung dalam perkara kebaikan dan taqwa dan saling mengingatkan tatkala dalam kealpaan. Komitmen keluarga yang kokoh dalam pijakan taqwa harus mengantarkan setiap anggota keluarga pada sebuah visi keluarga untuk terus bersama hingga di dalam surga. Semoga hal ini dapat kita wujudkan di tengah-tengah keluarga kita, amin yaa Robbal ‘alamin.
الله أكبر, الله أكبر, الله أكبر, ولله الحمد
Ketiga, Efek dan Keutamaan Taqwa dalam Kehidupan Bangsa dan Negara
Negeri-negeri yang makmur dalam naungan Islam bukanlah cerita dongeng dalam buku-buku sejarah. Negeri itu benar-benar pernah ada dalam peradaban manusia. Sebut saja masa pemerintahan Rasulullah dan para khulafaurrasyidin di Madinah, masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz pada periode dinasti bani umayyah yang mencapai kemakmuran hanya dalam kurun waktu 2 tahun 5 bulan 5 hari hingga diceritakan pada saat itu uang-uang zakat tertumpuk menggunung karena tak ada lagi penerimanya. Kemudian juga, masa pemerintahan Khalifah Harun al-Rasyid pada periode dinasti bani Abbasiyyah. Pada masanyalah ummat Islam pertama kali mengalami puncak keemasannya di segala sektor kehidupan mulai dari ilmu pengetahuan hingga ekonomi mengalami kemajuan yang cukup pesat. Tak ketinggalan, masa pemerintahan khalifah Sulaiman al-Qanuni pada periode dinasti bani Utsmaniyyah, para ahli sejarah sepakat bahwa zaman Khalifah Sulaiman Al-Qanuni (1520-1566 M) merupakan zaman kejayaan dan kebesaran yang pada masanya telah jauh meninggalkan negara-negara Eropa di bidang militer, sains dan politik. Inilah era yang disebut sebagai the golden age of Islam atau masa keemasan Islam sekaligus sebagai puncak peradaban dunia di abad pertengahan masehi.
الله أكبر, الله أكبر, الله أكبر, ولله الحمد

Jama’ah Idul Fitri rahimakumullah!
Peradaban Islam yang telah membawa kemakmuran itu benar-benar pernah ada, namun kondisinya kini telah jauh berbeda. Jika di masa lalu negeri-negeri Islam diliputi keberkahan, maka kini negeri-negeri itu hanya ada tumpukan masalah mulai dari konflik politik, bencana sosial dan ekonomi, penetrasi budaya, hingga krisis akhlak. Hal ini tergambar dari sikap para pemimpin-pemimpin Islam dan juga kalangan muslim yang tidak memahami Islam sebagai agama yang membawa misi peradaban rahmatan lil ‘alamin.Simak saja berbagai sikap dan argumen dari berbagai kalangan yang sempat menghiasi isu-isu wacana ke-Islam-an di negeri ini. Mulai dari poligami yang dihujat di sana-sini karena dianggap menindas hak-hak perempuan, sementara perzinahan, kumpul kebo, dan prostitusi dianggap lumrah karena suka sama suka dan tidak ada yang tersakiti. Sebagai dampak isu terorisme yang digembar-gemborkan oleh mereka yang memusuhi Islam, kini jilbab besar, jenggotan, orang yang rajin ke mesjid dikesankan sebagai kelompok yang lebih seram dan harus dicurigai daripada yang tatoan, mabuk-mabukan dan judi. Yang rutin ke majelis ta’lim dituduh fanatik, sementara yang setiap akhir pekan ke bioskop dianggap gaul. Yang hafalan Qur’annya banyak dituduh militan sebagai cikal bakal teroris, sementara yang banyak hafal lagu-lagu cinta dianggap hebat dan berbakat. Yang berpakaian menutup aurat dianggap sok  alim, sementara yang telanjang justeru  dianggap trend dan modis. Yang bicaranya selalu tentang Islam dituduh sok kyai, sementara yang setiap hari rajin gossip dan ghibah dianggap up to date alias tidak ketinggalan info. Media-media Islam yang memberitakan pejuang-pejuang Islam di timur tengah dituduh berbahaya dan harus diblokir, sementara media-media yang menyuguhkan pornografi dianggap kebebasan berekspresi dan dibiarkan menjamur. Umat Islam mengadakan tabligh akbar dan takbiran keliling untuk syiar Islam dengan tertib dilarang, alasannya bikin macet dan mengganggu pengguna jalan lain. Sementara pesta rakyat tahun baru yang isinya konser dugem dan hasilnya kondom bekas dan sampah berserakan justeru dibiayai dari uang rakyat, alasannya hanya setahun sekali diadakan untuk hiburan rakyat. Sungguh menyesakkan dada, mengapa harus ummat Islam terus yang dijadikan sasaran, sebegitu bencikah mereka terhadap agama ini? Mari kita membuka mata kita, bukanlah keberkahan yang kita peroleh, yang ada hanya musibah. Bukan juga jalan keluar yang kita dapatkan, yang ada hanya tumpukan masalah. Bencana ekonomi dengan anjloknya rupiah; bencana moral berupa merebaknya korupsi, narkoba, dan pergaulan bebas; bencana hukum berupa hilangnya wibawa hukum negeri ini dan para penegaknya, bencana sosial dengan tingginya angka kemiskinan serta bencana alam tahunan cukuplah kiranya membuat kita sadar bahwa negeri ini sedang ditegur! Mumpung belum diazab dengan petaka yang membinasakan mari memperbaiki diri dan menata negeri dengan keimanan dan ketaqwaan kita.
الله أكبر, الله أكبر, الله أكبر, ولله الحمد
Jama’ah ‘Ied Rahimakumullah!
Disinilah efek ketaqwaan kita harus diwujudkan dalam semangat bersama untuk membangun negeri yang baldatun  thoyyibatun wa robbun ghofur. Negeri yang ingin mendapat curahan berkah dari langit dan dari bumi dipersyaratkan satu hal yaitu keimanan dan ketaqwaan para penduduknya terutama para pemimpinnya. Bila sebuah kekuasaan dapat dimanfaatkan untuk menegakkan nilai-nilai kebaikan tentu dapat membawa dampak kemaslahatan bagi segenap ummat. Namun bila sebaliknya maka kerusakanlah yang akan terjadi. Allah menjanjikan rezeki, keberkahan dan jalan keluar dari setiap masalah bagi orang-orang yang bertaqwa :
وَمَنْ يَتَّقِ اللهَ يَجْعَلْ لَّهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
 “Barangsiapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan jalan keluar baginya dan memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangka.” 
(Q.S. At-Thalaq: ayat 2 dan 3)

Orang-orang bertaqwa adalah para pejuang yang telah ditempa dengan kesabaran selama Ramadhan. Jumlah para pemenang itu barangkali hanya segelintir saja, tetapi hal ini tidak boleh dijadikan alasan untuk tidak memperjuangkan kebenaran. Di dalam al-Qur'an Allah menyebut hal-hal yang tidak disukai-Nya sebanyak 23 kali. Ini lebih banyak dari penyebutan hal-hal yang disukainya yaitu sebanyak 15 kali. Ada bahasa kode didalamnya dan ini telah menjadi sunnatullah, bahwa bumi akan selalu didominasi oleh kezholiman dan hal-hal yang melampaui batas. Kemenangan dan kekalahan selalu dipergilirkan antara yang haq dan yang bathil. Namun bagaimanapun al-haq tidak boleh tunduk kepada al-bathil. Meski jumlah kelompok kebaikan itu sedikit, Allah selalu menjamin kemenangan mereka dengan satu prasyarat yaitu : Sabar. 
كَم مِّن فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللهِ وَاللهُ مَعَ الصَّابِرِينَ
"Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Q.S. Al-Baqarah: 249).
Iman tak akan menemukan jalan taqwanya tanpa melalui kesabaran. Ramadhan menjadi kelas khusus bagi orang-orang beriman untuk memantapkan kesabaran mereka dan sesungguhnya merekalah yang diharapkan dapat memenangkan al-haq di negeri ini meski kekuatan kelompok bathil jauh lebih banyak. Semoga suatu saat kelak kita dapat menjelang datangnya generasi yang tercerahkan di negeri ini dan dapat membawa nasib negeri ini menjadi lebih baik.
Jama’ah ‘Ied Rahimakumullah!
Marilah kita berdoa semoga Allah SWT senantiasa meliputi kehidupan kita dengan keberkahan dan melindungi kita dari segala musibah yang membinasakan.
Yaa Allah, terima kasih atas segala hikmah yang Kau ilhamkan kepada kami hingga di hari Idul Fitri ini,
Terima kasih atas segala ilmu yang Kau fahamkan kepada kami,
Terima kasih atas segala rezeki yang  Kau lapangkan untuk kami hingga aku dapat berbagi dengan yang lain,
Terima kasih atas iman dan kesabaran yang telah Kau hunjamkan di dada kami, terima kasih yaa Allah…
Tuntunlah kami untuk meniti jalan syukur kami  pada-Mu.
Limpahkan kebaikan dalam segala urusan kami,  curahkan rahmat-Mu dalam urusan akhirat kami, dan indungilah kami dan keluarga kami beserta orang-orang yang kami cintai karena-Mu dari malapetaka yang membinasakan.
Liputi kehidupan kami dengan keberkahan di tahun ini hingga Ramadhan kembali menjalang jika Engkau menghendaki kami bertemu kembali dengannya.

Liputi kami dengan keridhoan-Mu bila kelak kami tak bertemu kembali dengan Ramadhan-Mu. Walhamdulillahi robbil ‘alamin.