Kamis, 29 Mei 2014

Khutbah Jum'at: NARASI INDAH DALAM SEJARAH KEPEMIMPINAN ISLAM



NARASI INDAH DALAM SEJARAH KEPEMIMPINAN ISLAM
Penyusun: Nanang Masaudi

الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اما بعـد
قال الله تعالى: اعوذبالله من الشيطان الر جيم
يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا
Jama’ah Jum’at rahimakumullah,
Bagi kita yang mengenal sejarah Islam pastilah telah memiliki pandangan positif tentang betapa sempurnanya ajaran agama ini hingga sanggup membentuk karakter para pendahulunya menjadi pejuang bahkan pemimpin yang hebat. Di antara para sahabat assabiqunal awwalun yang begitu lekat dalam ingatan kita yaitu sosok para sahabat seperti Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar bin Khatthab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abu Thalib ditambah lagi dengan para tabi’in yang pernah menjadi pemimpin di kalangan ummat Islam. Bila mengenang kembali aksi-aksi fenomenal mereka di zaman Rasulullah dan di masa-masa kekhalifahan, maka sangat terasa kenangan sejarah itu menumbuhkan sebuah kerinduan akan hadirnya kembali karakter-karakter kepemimpinan seperti mereka. Hampir tidak kita temukan indikator-indikator yang menjadi bukti kegagalan mereka, yang ada justeru adalah kisah-kisah sukses tentang kepemimpinan mereka. Mari kita simak penggalan-penggalan kisah kepemimpinan inspiratif beberapa di antara mereka:
Abu Bakar Shiddiq, sang pemimpin waraa’.
Dalam sebuah penggalan pidatonya yang terkenal, Abu Bakar Shiddiq dengan lantangnya mengatakan:
“… orang yang kalian nilai kuat, sebenarnya kuanggap lemah. Adapun yang kalian pandang lemah adalah orang yang kuat dalam pandanganku.
Inilah kalimat yang menggambarkan keberanian dan keadilan beliau sebagai pemimpin. Tidak membuka peluang untuk berkongsi terhadap kekuatan-kekuatan besar. Akan tetapi lebih memilih untuk menjadi penguat bagi mereka yang lemah. Tidak seperti yang terjadi saat ini, kekuasaan justeru hanya menguntungkan orang-orang dekat, pengusaha-pengusaha kakap, perjabat teras dan kalangan elit lainnya. Sedangkan rakyat kecil dimarjinalkan, pedagang kecil digusur, orang bodoh dibodoh-bodohi dan dibohongi, pegawai rendahan dibentak-bentak, dan bila tak berduit jangan mimpi memperoleh pelayanan lebih.
Bahkan beliaupun tak segan mengangkat pedang untuk memerangi mereka yang telah murtad, mereka yang enggan menjalankan perintah Allah dengan meyebarkan kesesatan, dan mereka yang tidak mau lagi mengeluarkan zakat. Penyimpangan iman pasca wafatnya Rasulullah ini telah menggerakkan Abu Bakar untuk membentuk 11 unit pasukan perang untuk memberantas para pelakunya. Begitulah sosok seorang  khalifah Abu Bakar Shiddiq. Apa yang pernah dikatakan dan dilakukan Abu Bakar sebagai pemimpin adalah sebuah komitmen imaniyah antara Allah, dirinya dan ummat yang dipimpinnya ketika sudah diangkat sebagai khalifah. Inilah yang melahirkan kegigihan dalam mewujudkan ucapan janji itu.
Yang terjadi pada pemimpin kita saat ini adalah bukan hanya disumpah menyebut nama Allah saat dilantik, bahkan sebelum terpilihpun telah mengumbar janji-janji manis dan kemudian mengkhianati sumpah itu dan mengingkari janji-janjinya. Mereka menjanjikan jalan ke ‘syurga’ tapi yang ada adalah jalan ke ‘neraka’. Mereka menjanjikan cahaya terang tapi yang ada adalah gelap gulita. Mereka sesumbar tak akan mengambil gaji sepeserpun, tapi yang dia kumpulkan adalah tunjangan-tunjangan, gratifikasi, mark-up, komisi perjalanan dinas, dan hadiah-hadiah  jatah proyek. Mereka berkomitmen untuk mengemban tugas dalam 5 tahun, tapi belum seumur jagung periode kepemimpinan kembali tergoda untuk meraih jabatan yang lebih tinggi dan menjanjikan kekuasaan dan materi.
Ingatlah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
وَأَوْفُوا بِالْعَهْدِ إِنَّ الْعَهْدَ كَانَ مَسْئُوْلاً
Dan penuhilah janji, sesungguhnya janji itu pasti dimintai pertanggungjawabannya.” (Al-Isra`: 34)
Umar bin Khatthab, khalifah Pemberani yang gemar blusukan.
Efek keberaniannya meyebabkan syeitan-syeitan menjauh dari jalan yang akan dilalui olehnya. Namun, sang khalifah begitu mudah meneteskan air mata jika ada rakyatnya yang kelaparan. Dia tak akan nyenyak tidur sampai dia dapat memastikan perut-perut rakyatnya telah terisi makanan. Suatu ketika pada saat melakukan blusukan, Khalifah Umar menemukan seorang ibu yang memasak batu hanya untuk menghibur anak-anaknya yang menangis kelaparan karena tak lagi memiliki makanan. Pada saat itu juga Umar sendirilah yang memikul sekarung gandum yang diambil dari gudang Negara.
Bila Umar tak ingin diketahui oleh orang saat melakukan blusukan dan dilakukan di saat larut malam, maka blusukan pemimpin kita saat ini dilakukan ditengah gegap gempita liputan media. Sang pemimpin tak akan turun dari mobil jika kamera wartawan belum siap menyorotnya. Blusukan dilakukan semata-mata untuk melambungkan popularitas sang pemimpin. Inilah model pemimpin yang gemar membohongi rakyatnya dengan tampilan luar belaka. Keasliannya ternyata tak seperti apa yang nampak. Kebohongan menjadi bahasa yang enteng diucapkannya.
Jama’ah Jum’at rahimakumullaah,
Masih begitu banyak para pemimpin di kalangan Islam yang memiliki rekam jejak dengan segala aksi fenomenal mereka. Diantara mereka adalah, Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang pernah dikisahkan bahwa beliau mematikan lilin istana ketika berbincang dengan putranya dengan alasan bahwa tidak pantas bagi seorang khalifah menikmati cahaya lilin yang dibeli dari uang rakyat ketika membicarakan masalah keluarganya. Dia juga pernah diberikan kuda tunggangan peliharaan terbaik untuk kenderaan dinasnya, tapi dia malah menolaknya dan memerintahkan untuk menjual kembali kuda itu dan uangnya disimpan di baitul maal. Di masa kekuasaannyalah tidak lagi ditemukan para penerima zakat. Penurunan angka kemiskinan yang cukup fantastis menjadi indikator kesuksesannya yang paling fenomenal di bidang ekonomi. Bandingkan dengan pemimpin saat ini. Kita akan temukan rumah-rumah dinas para penguasa yang berjejal di halamannya mobil-mobil mewah. Tidak jarang fasilitas negara justeru digunakan untuk kepentingan pribadi dan keluarga mereka. Di akhir masa jabatannya, rakyat miskin malah bertambah, hutang negara membengkak, kurs mata uang semakin merosot, tapi ironisnya harta kekayaannya dalam LHKPN terakhir justeru membuncit.
Gubernur Said bin Amir al-Jumahi yang pernah memimpin Syam atau Hims di zaman kekhalifahan Umar bin Khatthab juga memiliki sebuah kisah yang fenomenal. Saat diminta  oleh sang khalifah untuk menjadi Gubernur di  Syam, apa jawaban Said? Bukan ungkapan  kegirangan atau ucapan terima kasih. Namun seperti orang yang tertimpa musibah dia menolak amanah itu dan berkata: “Demi Allah, jangan kau timpakan fitnah kepadaku dan jangan kau kalungkan amanah ini di leherku, jangan wahai Umar!”.
Dengan tertegun khalifah Umar kemudian menjawab: “Kalian limpahkan seluruh urusan kalian ke pundakku, apakah kalian akan biarkan aku sendirian menanggung beban ini?”. Lantaran jawaban Umar itulah akhirnya dengan terpaksa Said pergi ke Homs untuk menjadi Gubernur. Di kemudian hari justeru  namanyalah yang tertera sebagai salah satu penduduk termiskin di negeri yang dipimpinnya sendiri. Bandingkan kembali dengan kondisi saat ini. Demi sebuah kekuasaan para pemimpin saling sikut dan saling menjatuhkan. Keserakahan menjadi kasat mata nampak dihadapan kita. Nomor urut 1 menjadi rebutan para caleg. Kekuasaan telah menjadi sebuah gaya hidup. Pesta pora kemenangan dirayakan sebagai simbol kebanggaan padahal beban amanah yang begitu berat terkalung di leher-leher mereka.
Sosok berikutnya yang patut untuk dikenang adalah panglima kaum muslimin, Sholahuddin al-Ayyubi. Separuh hidupnya didedikasikan untuk membebaskan negeri-negeri muslim dari cengkraman bangsa-bangsa penindas. Sang Panglima pantang menyerah tatkala berada di medan jihad hingga begitu disegani oleh pemimpin-pemimpin dunia pada saat itu. Baginya, tak sejengkalpun tanah kaum muslimin layak dihinakan oleh siapapun. Baitul Maqdis di Jerussalem, Mesir, Siria dan dua kota ummat Islam Mekkah dan Madinah terjaga kehormatnnya di tangan Jenderal, panglima sekaligus khalifah kaum muslimin ini. Malu rasanya untuk membandingkan beliau dengan para pemimpin saat ini. Saat Palestina terjajah, Mesir dihinakan, Muslim Rohingya dibantai, Muslim Afrika Tengah di bakar hidup-hidup karena keimanan mereka, semuanya diam. Hanya kecaman dalam pidato kenegaraan yang mereka andalkan untuk menutupi kelemahan mereka. Para pemimpin muslim terjebak pada alsan klasik konsep negara bangsa yang membatasi persaudaraan hanya sampai pada batas-batas negara, sunggh tak berperikemanusiaan. Saksikan putra terbaik Islam! Sholahuddin al-Ayyubi, tanpa mengandalkan pidato kenegaraan, beliau terjun ke medan tempur demi kehormatan tanah dan darah kaum muslimin.
Jama’ah Jum’at rahimakumullaah,
Allah menghadirkan begitu banyak kisah-kisah kepemimpinan baik yang buruk maupun yang diwarnai kesuksesan tidak lain adalah untuk menjadi peta bagi arah berperilaku bagi pemimpin di era kini dan di masa mendatang. Allah ceritakan kisah Fir’aun dan Namrudz di dalam al-Qur’an tidak untuk diikuti, tapi untuk diambil pelajarannya. Sejarah menghadirkan kisah kepemimpinan para suksesor agama Allah agar para pemimpin memiliki banyak pilihan sebagai patron bagi arah dan perilaku kepemimpinan mereka.
Para pemimpin sukses di zaman dahulu itu lahir ketika belum terdapat media sebagai alat propaganda dan ketika belum berkembangnya sistem politik. Saat ini peran-peran politik rakyat dilibatkan secara langsung dalam suksesi kepemimpianan sebagai imbas diterapkannya sistem demokrasi modern. Ummat Islam yang menjadi komponen terbesar di negara yang besar ini harus dapat memanfaatkan potensi besar itu untuk kepentingan bangsa dan Negara yang berkeadilan (adil bagi semua anak bangsa) dan berdaulat secara ekonomi dan politik (tanpa adanya tekanan-tekanan dan kendali dari pihak asing).
Untuk para calon pemimpin dan para pemimpin di level manapun hendaknya menyempatkan diri menyelami kembali sejarah para pemimpin Islam sebagai sumber inspirasi dan sebagai bentuk ikhtiar positif dalam memberi arah dan warna bagi karakter kepemimpinannya. Para pemimpin muslim selayaknya dapat memberi ruang bagi terciptanya aksi-aksi populis tanpa rekayasa. Kisah-kisah kepemimpinan di masa kejayaan Islam telah menguak begitu banyak narasi yang kaya akan hikmah kepemimpinan yang sesungguhnya hingga menjadi layak untuk diteladani. Para pemimpin seharusnya sadar dengan sepenuhnya bahwa Kepemimpinan itu ada untuk melayani, bukan untuk selalu dilayani. Kepemimpinan hadir sebagai bentuk pengorbanan, bukan malah mengorbankan orang lain. Kepemimpinan eksis bukan untuk mengejar materi, tetapi untuk menebar lebih banyak manfaat. Kepemimpinan bukan untuk menambah tinggi kebanggaan tetapi sebagai peluang untuk menguji ketawaddhuan. Kepemimpinan juga seharusnya menjadi sarana efektif menerapkan konsep rahmatan lil ‘alamin, bukan malah menjadi musibah lil ‘alamin.

Di setiap diri manusia terbebani amanah kepemimpinan yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Rasulullah bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ الْإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا وَمَسْئُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا وَالْخَادِمُ رَاعٍ فِي مَالِ سَيِّدِهِ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ قَالَ وَحَسِبْتُ أَنْ قَدْ قَالَ وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي مَالِ أَبِيهِ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

"Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpinnya. Imam adalah pemimpin yang akan diminta pertanggung jawaban atas rakyatnya. Seorang suami adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung jawaban atas keluarganya. Seorang isteri adalah pemimpin di dalam urusan rumah tangga suaminya, dan akan dimintai pertanggung jawaban atas urusan rumah tangga tersebut. Seorang pembantu adalah pemimpin dalam urusan harta tuannya, dan akan dimintai pertanggung jawaban atas urusan tanggung jawabnya tersebut."
Keahuilah, semakin besar kapasitas kepemimpinan seseorang, maka senakin besar pula kadar pertanggungjawabannya di hadapan Allah.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَلَّ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ. أَقُوْلُ

Kamis, 22 Mei 2014

Khutbah Jum'at: PRESIDEN YANG MENENTRAMKAN IMAN


KHUTBAH JUM'AT
PRESIDEN YANG MENENTRAMKAN IMAN

الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اما بعـد
قال الله تعالى: اعوذبالله من الشيطان الر جيم
يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.
Jama’ah Jum’at rahimakumullah, 
   Kepemimpinan atau dalam terminologi Islam disebut sebagai imamah atau imaroh adalah perkara ibadah yang dihukumi fardhu kifayah. Bahkan dalam situasi genting ketika martabat dan eksistensi umat Islam sedang terancam maka boleh jadi perkara ini dapat dihukumi wajib bagi setiap pribadi-pribadi muslim untuk memilih pemimpin yang dapat menyelamatkan kehormatan, eksistensi, hingga akidah ummat Islam. Sebagai contoh, pada suksesi kepemimpinan nasional saat ini ummat Islam memiliki peluang secara tidak langsung untuk menentukan siapa pemimpin Jakarta selanjutnya sebagai konsekwensi dari Undang-undang yang mengharuskan seorang gubernur untuk melepaskan jabatannya apabila nanti terpilih sebagai presiden dan secara otomatis berdasarkan Undang-undang nomor 32 tahun 2004 maka kekuasaan gubernur itu jatuh ke tangan wakil gubernur yang dalam hal ini secara aqidah jelas berbeda dengan mayoritas warga yang dipimpinnya.

Hukum atau undang-undang buatan manusia memang tidak mempersoalkan masalah iman atau aqidah, karena negara kita bukanlah negara agama, tetapi sebagai ummat yang juga harus taat kepada Tuhannya maka kita tidak boleh sedikitpun meragukan hukum yang telah dibuat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala seperti dalam firman berikut ini:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasara menjadi pemimpin bagimu; sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim” (QS. Al Maidah: 51)

Pada ayat yang lain Allah Subahanahu wa Ta’ala juga berfirman:

لَا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ فِي شَيْءٍ إِلَّا أَنْ تَتَّقُوا مِنْهُمْ تُقَاةً وَيُحَذِّرُكُمُ اللَّهُ نَفْسَهُ وَإِلَى اللَّهِ الْمَصِيرُ

“Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi pemimpin dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri-Nya (atau siksa-Nya). Dan hanya kepada Allah kembali (mu)” (Ali Imran: 28)
Pengecualian untuk boleh mengangkat pemimpin yang tidak beriman pada ayat di atas hanya dalam rangka siasat untuk memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Tapi saat ini ummat Islam sama sekali tidak memiliki alasan itu, karena kita bukanlah minoritas yang terpaksa harus bersiasat untuk mengalah demi memelihara diri dari tindakan zhalim, justeru kita adalah ummat yang memiliki izzah (kekuatan) sebagai mayoritas dan tidak dalam ancaman atau tekanan yang membahayakan diri kita. Sehingganya, menjadi sebuah kewajiban bagi ummat Islam untuk memanfaatkan peluang suksesi kepemimpinan nasional ini tidak hanya sekedar untuk menjalankan ibadah dan melahirkan pemimpin nasional bagi bangsa ini tetapi sekaligus juga menyelamatkan kehormatan ratusan ulama dan haba’ib yang berdomisili di Jakarta, 8.2 juta jiwa ummat Islam yang hidup di Jakarta, 5600 majelis ta’lim, 3148 mesjid (dikurangi 2 karena telah diratakan dengan alasan pembangunan), serta seluruh kantor dan markas pusat organisasi dan pergerakan Islam berada di daerah yang kelak bakal dipimpin oleh seorang yang bernama lahir Zhong Wanxie dan saat ini sedang menjabat sebagai wakil gubernur.

Apakah ini isu SARA?! Tidak! ini bukan isu, karena kitab suci al-Qur’an tidak berisi kumpulan isu-isu. al-Quran berisi keterangan-ketarangan yang benar tanpa keraguan, laa roiba fiihi. Al-Qur’an juga tidak sedang melakukan manuver politik menjelang pilpres, karena keterangan dalam ayat ini sudah ada sejak ribuan tahun sebelum pilpres dilaksanakan. Al-Quran mengandung petunjuk bagi mereka yang ingin memilih jalan yang selamat dan menentramkan, hudal lil muttaqiin. Jangan jadikan kata 'SARA' sebagai penghalang seorang muslim dalam menyampaikan kebenaran, karena kebenaran dari Allah lebih tinggi nilainya dari apapun.
Jadi, kepada Siapa seharusnya suara ummat Islam dikontribusikan sebagai bentuk jihad siyasah?
Jawabannya adalah kepada sosok yang dapat menentramkan ummat Islam. Tak ada memang makhluk yang sempurna. Tidak ada sosok pemimpin yang tanpa cacat. Namun, kaidah fiqih telah mengarahkan bahwa boleh memilih siapa saja di antara dua pilihan yang baik. Bila yang satu buruk dan yang lainnya baik, maka pilihlah yang baik itu. Tapi bila kedua-duanya buruk, maka pilihlah yang paling sedikit keburukannya. Artinya, bila yang satu telah nyata kebohongannya, maka berbaiatlah kepada pemimpin yang janji dan komitmennya tegas dan dapat dipertanggungjawabkan. Bila yang satu telah berkongsi atau bahkan telah ditunggangi oleh kepentingan yang ingin memarjinalkan Islam maka berbaiatlah kepada figur yang bertekad untuk mandiri dan berdaulat. Dan bila pilihan yang satu akan berdampak bagi kemudharatan izzah ummat Islam di suatu tempat maka ambillah pilihan yang menjamin kemaslahatan bagi semua ummat manusia di segala tempat.
Begitulah pentingnya kepemimpinan bagi ummat Islam. Memilih pemimpin bukanlah perkara sederhana, ia merupakan hajat besar kehidupan manusia. Memilih pemimpin tidak sekedar perkara cabang dalam agama, namun bagian dari masalah prinsip. Saking pentingnya perkara kepemimpinan, Rasulullah berpesan dalam sabdanya:
إِذَا خَرَجَ ثَلاَثَةٌ فِيْ سَفَرٍ فَلْيُؤَمِّرُوْا أَحَدُهُمْ
Jika kalian bepergian bertiga, maka angkatlah salah seorang sebagai pemimpin.” (HR Abu Dawud).

Sikap masa bodoh ummat Islam terhadap perkara ini tentulah akan memberikan dampak yang fatal bagi kehidupan ummat Islam sendiri. Sebagai bahan renungan mari kita cermati realitas berikut ini. Belum dua tahun pemerintahan baru saat ini, di Jakarta kini proyek-proyek ‘basah’ seperti monorail dan pengadaan Bus Way ternyata justru ‘dikuasakan’ kepada pengusaha-pengusaha yang bermasalah dengan ummat Islam. Di Kalimantan Tengah, 90 persen pejabat muslim diganti serta bantuan untuk mesjid dan madrasah dipersulit, padahal jumlah ummat Islam disana cukup besar. Di belahan dunia lainpun karena keteledoran ummat Islam dalam masalah ini, Islam mendapatkan perlakuan yang tidak adil. Di Nigeria, ummat Islam dilarang untuk menunaikan ibadah haji, padahal jumlah ummat Islam di negara itu lebih dari 70 persen dari total penduduk. Di Palestina, kaum muda muslim dilarang sholat di mesjidil Aqsho. Di Myanmar, ummat Islam Rohingya di-genosida oleh militer. Di Afrika tengah ummat Islam dibakar, dicincang dan kemudian dimakan mentah. Inilah sekelumit saja fakta yang menunjukkan apabila ummat berada di bawah kekuasaan orang-orang yang tidak beriman. Sungguh miris memang, ketika jumlah ummat Islam minoritas atau tidak sedang berkuasa, ummat Islam sering diperlakukan secara tidak adil. Sebaliknya, ketika ummat Islam berjumlah mayoritas, toleransi mereka begitu tinggi terhadap ummat lain, dan ketika seorang muslim menjadi pemimpin maka semua golongan diperlakukan secara adil, dihargai hak-haknya, dan dilindungi jiwanya, apapun agamanya. Peristiwa Fathu Makkah, pembebasan Jerussalem oleh Shalahuddin al-Ayyubi, dan tindakan Khalifah Umar bin Khatthab memenangkan seorang Yahudi ketika bersengketa tanah dengan seorang gubernur muslim menunjukkan betapa toleransi terhadap hak kemanusiaan dan perlindungan jiwa terhadap ummat manusia harus dihormati dan ditegakkan. Tapi sayangnya ummat Islam sendiri banyak yang tidak peduli dengan kenyataan ini.

Jama’ah Jum’at Rahimakumullaah,

Dalam perkara untuk mengetahui bagaimana tata cara beribadah sholat, maka kita harus mengikuti seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah. Sabdanya: “Sholatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku sholat”. Demikian pula dalam perkara ibadah yang lain termasuk dalam perkara imamah atau imaroh khususnya masalah syarat dan tata cara memilih pemimpin, maka kita harus mempelajarinya dan bertanya kepada ulama yang memahami masalah tersebut. Bila apa yang telah dituntunkan dalam al-Qur'an dan hadits nabi dan yang ditunjukkan dalam sikap dan perkataan para ulama bertolak belakang atau tidak sesuai dengan sikap dan pilihan kita dan kita tetap ngotot dengan sikap dan piihan kita tersebut, maka sadarilah bahwa benih-benih kemunafikan telah mulai merasuki ke relung-relung hati kita. Iman kita telah terhempas dan pudar oleh benih kemunifikan itu. Kepada golongan ini, Allah Subahanahu wa Ta’ala mengancam dalam firman-Nya:

بَشِّرِ الْمُنَافِقِينَ بِأَنَّ لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا الَّذِينَ يَتَّخِذُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ أَيَبْتَغُونَ عِنْدَهُمُ الْعِزَّةَ فَإِنَّ الْعِزَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا

Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih (yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah(An Nisa: 139)

Dalam sebuah haditspun Rasulullah bersabda:
من استعمل رجلا من عصابة وفي تلك العصابة من هو أرضى لله منه فقد خان الله وخان رسوله وخان المؤمنين

Barangsiapa memilih seseorang menjadi pemimpin untuk suatu kelompok, yang di kelompok itu (dia tahu) ada orang yang (lebih baik) lebih diridhoi Allah dari pada orang yang dipilihnya, maka ia telah berkhianat kepada Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman.”

Allah swt berfirman :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

"Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul dan juga janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang di percayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui". (QS.A -Anfaal ayat 27)
Jama’ah Jum’at Rahimakumullaah,

Bagi mereka yang dalam perkara kepemimpinan selalu mengabaikan masalah keimanan sebagai pertimbangan utama untuk memilih pemimpin dengan hanya melihat faktor nasab atau kesukuan, maka Allah juga tak luput memperingatkan mereka melalui firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا آبَاءَكُمْ وَإِخْوَانَكُمْ أَوْلِيَاءَ إِنِ اسْتَحَبُّوا الْكُفْرَ عَلَى الْإِيمَانِ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan bapak-bapak dan saudara-saudaramu menjadi auliya bagimu, jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka auliya bagimu, maka mereka itulah orang-orang yang zalim(QS. At Taubah: 23)
Siapapun calon pemimpin, entah itu adalah orang yang senasab dengan kita, sesuku dengan kita, teman sejawat kita, saudara atau bapak kita sekalipun bila mengabaikan urusan ummat Islam dalam perkara iman atau aqidah maka tidaklah layak bagi kita untuk mengangkatnya sebagai wali atau pemimpin.

Jama'ah Jum'at rahimakumullaah,

Jika kita telah memahami bahwa kepemimpinan adalah perkara prisip dalam agama bahkan dapat memberi dampak signifikan bagi segala aspek kehidupan ummat, maka tidak dibenarkan bagi seorang muslim untuk hanya berdiam diri dalam masalah ini. Kalangan yang menjadi simpul-simpul ummat di segala lini juga harus melipatgandakan ikhtiar mereka untuk pemenangan ummat, karena usaha kaum fasik, kafir, dan munafikpun tak kalah hebatnya dalam melakukan propaganda melalui media-media mainstream untuk mengkamuflase niat-niat mereka yang sebenarnya dan untuk mengaburkan fakta yang ada serta skenario yang akan terjadi sesungguhnya.

Ummat Islam harus mewaspadai media-media propaganda politik yang membantu usaha-usaha mereka, tabayyun-lah dengan sikap skeptis segala berita dan informasi yang mengandung aib dan fitnah.
 يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِن جَآءَكُمْ فَاسِقُُ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا
"Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, ....". [Al Hujurat : 6].
Memilihlah karena Allah bukan karena unsur-unsur duniawiyah. Jangan sembarangan memutuskan hanya karena terpengaruh oleh sebuah blusukan yang direkaysa atau oleh satu atau dua berita yang dibumbu-bumbui kata-kata pemanis terhadap seorang calon pemimpin.
Kemudian yang terpenting adalah, para alim ulama harus senantiasa lebih proaktif dalam melakukan dakwah ilallah. Harus diakui memang salah satu faktor yang turut berperan atas kelemahan ummat saat ini adalah memudarnya militansi ulama dalam berdakwah baik di medan politik, ekonomi, dan pendidikan. Mereka seolah tak berdaya dihadapan pengusa zalim, idealisme mereka juga mudah terbeli oleh pengusaha dan pejabat yang fasik.
Jama'ah Jumat rahimakumullaah,
Allah telah menghendaki hanya ada dua pilihan yang saling berpasangan dalam hidup ini. Ada pilihan yang baik dan ada pilihan yang buruk, ada pilihan yang benar dan ada pula pilihan yang sesat. Tak ada pilihan ke-3 atau ke-4, padahal Allah bisa saja menghendaki adanya pilihan itu. Siapapun yang terpilih maka itulah gambaran Indonesia kita saat ini. Allah jua yang berkehendak bila pada bulan Ramadhan nanti tepatnya pada tangal 9 Juli, kita akan menentukan siapakah wali (pemimpin) bagi 200 juta lebih penduduk negeri ini. Tepat ketika kita berpuasa pada bulan itulah, kesadaran dan kepekaan iman kita sebagai muslim berada pada level tertingginya. Hanya iman yang benarlah yang dapat meilihat dengan bashiroh-nya terhadap kebenaran atas setiap kehendak-Nya. Bila kehendak Allah itu menggoyahkan iman dan menimbulkan perih dalam jiwa kita kelak, maka sesungguhnya Allah sedang menguji iman kita. Dan yakinlah sesungguhnya Allah juga hendak menyampaikan sebuah pesan sebagaimana yang terkandung dalam firman-Nya:
وَكَذَلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Dan demikianlah kami jadikan sebagian orang yang zalim sebagai pemimpin bagi sebagian yang lain disebabkan amal yang mereka lakukan.(Al An’am: 129)

Sekali lagi, jangan berdiam diri dalam perkara penting ini. Berusahalah walau hanya dengan sebait doa yang tulus:

Allahummanshurnaa ’alaa man ‘aadaanaa, walaa tusallith alainaa bidznuubinaa mallaa yakhoofuuka walaa yarhamunaa.

(Yaa Allah tolonglah kami terhadap orang-orang yang memusuhi kami dan janganlah karena dosa-dosa kami, diri kami dan negeri ini dikuasai oleh orang-orang yang tidak takut kepadamu dan tidak menyayangi kami)


بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَلَّ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ. أَقُوْلُ



Khutbah Kedua:

اَلْحَمْدُلِلّهِ حَمْدًاكَثِيْرًاكَمَااَمَرَ. وَاَشْهَدُاَنْ لاَاِلهَ اِلاَّللهُ وَحْدَه لاَشَرِيْكَ لَهُ. اِرْغَامًالِمَنْ جَحَدَبِهِ وَكَفَرَ. وَاَشْهَدُاَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُاْلاِنْسِ وَالْبَشَرِ. اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ اَلِهِ وَصَحْبِهِ مَااتَّصَلَتْ عَيْنٌ بِنَظَرٍ وَاُذُنٌ بِخَبَرٍ

اَمَّا بَعْدُ : فَيَااَ يُّهَاالنَّاسُ !! اِتَّقُوااللهَ تَعَالىَ. وَذَرُوالْفَوَاحِشَ مَاظَهَرَوَمَابَطَنْ. وَحَافِظُوْاعَلىَ الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ. وَاعْلَمُوْااَنَّ اللهَ اَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَفِيْهِ بِنَفْسِهِ. وَثَنَّى بِمَلاَئِكَةِ قُدْسِهِ. فَقَالَ تَعَالىَ وَلَمْ يَزَلْ قَائِلاًعَلِيْمًا: اِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِىْ يَاَ يُّهَاالَّذِيْنَ آمَنُوْاصَلُّوْاعَلَيْه

وَسَلِّمُوْاتَسْلِيْمًا. اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ اَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. كَمَاصَلَّيْتَ عَلىَ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلىَ اَلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ. في ِالْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌمَجِيْدٌ

اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا يَحُولُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ وَمِنْ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مُصِيبَاتِ الدُّنْيَا وَمَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا وَلَا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا وَلَا تَجْعَلْ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا وَلَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لَا يَرْحَمُنَا

اَللّهُمَّ اغْفِرْلِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ بِرَحْمَتِكَ يَاوَاهِبَ الْعَطِيَّاتِ. اَللّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّاالْغَلاَءَ وَالْوَبَاءَ وَالزِّنَا وَالزَّلاَزِلَ وَالْمِحَنَ. وَسُوْءَالْفِتَنِ مَاظَهَرَمِنْهَا وَمَابَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا هَذَاخَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِبَلاَدِالْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَارَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَااَتِنَافِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلاَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عِبَادَالله اِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْىِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ فَاذْكُرُوااللهَ الْعَظِيْمِ يذكركم وَاشْكُرُوهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ. وَلَذِكْرُاللهِ اَكْبَر