Cari

29 April 2013

Contoh Makalah Terstruktur: Riwayat Pribadi




MAKALAH TERSTRUKTUR 
SELEKSI CALON ANGGOTA BAWASLU PROVINSI GORONTALO TAHUN 2018

BAGIAN I
REKAM JEJAK PRIBADI DAN SKOR INTEGRITAS

1. Profil Pribadi
a. Sejarah Kelahiran
   Secara singkat riwayat kehidupan saya dapat diceritakan berawal dari sebuah jazirah kecil bernama Gorontalo. Di daerah inilah saya terlahir sebagai seorang anak yang tumbuh dengan segala dinamika kehidupan dengan segala keterbatasan dari sepasang suami isteri, Thamrin Masaudi (alm) dan Asma Ahmad. Rumah sederhana di pojok pertigaan jalan Arif Rahman Hakim menjadi saksi bisu kelahiran saya sebagai anak pertama yang dilahirkan oleh ibu saya. Senin, tanggal 15 Oktober 1980 bertepatan dengan 5 Zulhijjah 1400 Hijriyyah tercatat sebagai hari pembuka sejarah kehidupan saya di atas muka bumi.

b. Tumbuh Menjadi Dewasa dan Berkeluarga
  Terlahir sebagai anak pertama dari sebuah keluarga sederhana, kedua orangtua saya menyematkan saya sebuah nama yang cukup sederhana pula, Nanang Masaudi. Saya tumbuh dan besar di tengah keluarga yang menjunjung nilai-nilai agama dan adat. Walaupun hidup dalam keterbatasan, namun kedua orangtua saya masih menganggap pendidikan adalah kebutuhan penting bagi masa depan anak-anak mereka. Setelah menyelesaikan pendidikan SD, almarhum ayah memutuskan untuk memasukkan saya ke pondok pesantren Alkhairaat kota Gorontalo. Momen penting tersebut terjadi setahun sebelum meninggalnya almarhum ayah. Ketika memasuki awal tahun kedua atau saat kelas 2 MTs, maka resmi pula saya menyandang status sebagai anak yatim bersama keempat adik saya. Di bawah didikan pesantren itulah saya menerima dasar-dasar pendidikan agama yang cukup menambah pemahaman agama saya tentang Islam. Itulah barangkali yang menjadi harapan kedua orang tua terutama almarhum ayah yang kesehariannya menghabiskan waktunya untuk memenuhi nafkah keluarga sebagai pedagang dan hampir tidak memiliki kesempatan untuk mendidik anak-anak.
    Singkat cerita, di tengah kondisi ekonomi keluarga yang terseok-seok saya dapat menyelesaikan kuliah S1 di Universitas Negeri Gorontalo pada tahun 2006, meski pada waktu itu adik-adik saya terpaksa tidak melanjutkan sekolah. Di almamater itu pula saya dipanggil mendedikasikan diri selama dua tahun sebagai pengajar tidak tetap. Di samping itu, pekerjaan sebagai seorang News Anchor di Mimoza Channel saya jalani sebagai pekerjaan sampingan. Tiga tahun kemudian saya diangkat sebagai CPNS oleh pemerintah Kota Gorontalo dalam jabatan guru. Kehidupan yang saya jalani setelah itu bergerak cukup stabil. Bersama sang isteri bernama Nurlaila Maksud yang saya nikahi pada tanggal 26 Oktober 2008 dan tiga puteri kecil bernama Aira Khairani Masaudi (8), Alika ‘Izzunnisaa Masaudi (6), dan Azkiyyah Ghinayya Masaudi (5), saya menjalani kehidupan bersama mereka dengan rasa syukur dan kesabaran sambil berusaha terus menghidupkan nilai-nilai positif di tengah keluarga saya. Sembilan tahun sudah saya menjalani kehidupan bersama keluarga tercinta ditemani oleh sang Ibu mertua di sebuah rumah sederhana tepatnya di perumahan Misfalah Rasaindo blok G nomor 6 kota Gorontalo.

c. Aktivitas Keseharian di Luar Pekerjaan
       Bekerja sebagai dosen pada jurusan Bahasa Inggris Universitas Negeri Gorontalo selama 2 tahun memberikan sebuah pengalaman akademik yang sangat berharga bagi kehidupan saya. Kemudian tak berselang lama setelah diangkat sebagai pegawai negeri sipil di lingkungan pemerintah kota Gorontalo saya langsung dipekerjakan sebagai Guru Bahasa Inggris di Madrasah Ibtidayyah Alkhairaat kota Gorontalo. Selama menjalani pekerjaan sebagai guru madrasah ibtidaiyah selama 3 tahun, kemudian beralih menjadi guru Madrasah Tsanawiyah Alkhairaat bersamaan pula menjadi pembina santri pondok pesantren Alkhairaat kota Gorontalo saya sering berinteraksi dengan banyak orang dari berbagai kalangan, mulai dari para santri, para ustadz/ustadzah, orangtua santri dan pejabat-pejabat yang menjadi komisariat yayasan. Nuansa relijius tempat saya bekerja telah memberikan perubahan pada warna orientasi dalam arah pandangan hidup saya. 
      Aktivitas lainnya yang saya jalani di luar pekerjaan saya sebagai ASN adalah berupa kegiatan sosial, kegiatan keagamaan, dan pelatihan. Kegiatan sosial berupa pembinaan para relawan sosial di Rumah Zakat dan juga aksi-aksi sosial untuk para korban bencana menjadi kegiatan insidentil yang saya geluti. Memberi pelatihan kepemudaan dan mengisi program-program kajian sekolah dan kampus juga menjadi agenda yang hampir setiap pekan saya jalani. Menjadi imam bagi jamaah mesjid sekaligus pengurus kegiatan sosial dan hari besar Islam di mesjid kompleks tempat tinggal saya juga menjadi rutinitas keseharian yang saya lakukan.

d. Organisasi dan Jabatan yang Digeluti
       Sejak menjadi santri MTs dan pondok pesantren Alkhairaat kota Gorontalo saya mulai menjajaki dunia keorganisasian. Debut organisasi yang pertama kali saya jalani yaitu sebagai pengurus PPIA (Persatuan Pelajar Islam Alkhairaat) yang di sekolah umum dikenal dengan OSIS. Sejak saat itu di setiap jenjang sekolah yang saya geluti selalu bergabung menjadi pengurus OSIS. Posisi puncak yang pernah saya raih dalam karir keroganisasian sekolah adalah sebagai Ketua OSIS Madrasah Aliyah Negeri Gorontalo (1999 – 2000). Tidak berhenti sampai di situ, gairah aktivisme saya mulai terpupuk ketika bergabung dengan organisasi ekstra kemahasiswaan sejak semester awal. Bergabung di FKMM (Forum Komunikasi Mahasiswa Muslim) Cabang Gorontalo menjadi awal karir sebagai aktivis mahasiswa hingga diberi mandat menjadi ketua caretaker pada tahun 2002. Pada tahun 2005 saya juga pernah menjadi bagian dari aliansi mahasiswa dan rakyat bernama Gemaratu (Gerakan Mahasiswa dan Rakyat Bersatu) yang kala itu menuntut pemberantasan praktek premanisme yang merambah ke dalam sendi-sendi pemerintahan dan lembaga legislatif. Beberapa aliansi mahasiswa yang pernah saya geluti juga adalah FAK (Forum Anti Korupsi) dan ADAT (Aliansi Dakwah Terpadu). Memasuki jenjang semester 3, saya juga ikut menggeluti organisasi intra universiter sebagai ketua bidang keagamaan di Himpunan Mahasiswa Jurusan, ketua bidang keagamaan di Senat Mahasiswa Fakultas, kemudian mencalonkan diri sebagai calon Ketua BEM UNG pada tahun 2004 dan berakhir dengan kekalahan, dan akhirnya hanya bisa mencapai puncak karir keorganisasian di intra kampus sebagai ketua Bidang Pembinaan Organisasi Badan Eksekutif Mahasiswa pada tahun itu juga. Salah satu tanggungjawab yang paling berkesan ketika menjadi pengurus BEM UNG adalah ketika diamanatkan menjadi ketua panitia PBK-PK (Pembinaan Belajar di Kampus dan Pembinaan Kerohanian) bagi Mahasiswa Baru tahun 2004 yang jumlahnya kala itu sekitar 2000-an mahasiswa yang terbagi di enam fakultas. Itulah pertama kalinya pembinaan mahasiswa yang menghilangkan tradisi perpoloncoan bergaya OSPEK di UNG dan pertama kali menerapkan pembinaan kerohanian bagi agama masing-masing mahasiswa baru.
       Ketika tidak lagi mengemban status mahasiswa saya kemudian bergelut di beberapa organisasi kemasyarakatan, organisasi keagamaan dan organisasi kepemudaan di daerah, di antaranya pada Lembaga Pemberdayaan Masyarakat kelurahan Dulalowo Timur sebagai ketua, di Badan Keswadayaan Masyarakat kelurahan Dulalowo sebagai anggota, di KNPI kecamatan Kota Tengah sebagai ketua bidang keagamaan, di KNPI Provinsi Gorontalo sebagai pengurus bidang kominfo, di FKUB Provinsi Gorontalo sebagai anggota, di Forum Remaja Kreatif Insan Madani sebagai ketua, di Komite Nasional untuk Rakyat Palestina provinsi Gorontalo sebagai ketua korps muballigh, di MUI kota Gorontalo sebagai sekertaris II, di Himpunan Pemuda Alkhairaat kota Gorontalo sebagai ketua bidang, dan juga saat ini sedang mengemban tugas sebagai sekertaris badan ta’mir Mesjis Rahmatullah 2 sekaligus menjadi imam tetap di mesjid tersebut.

e. Interaksi Khusus Dengan Orang-Orang Tetentu
       Dalam pergaulan sosial saya sering berinteraksi dengan orang-orang dari berbagai kalangan dan dari latar belakang yang berbeda-beda. Di antara orang-orang yang dapat diceritakan interaksi saya dengan mereka antara lain :

- Herman, usia 23 tahun, mahasiswa/marbot mesjid.
       Beliau sering berinteraksi dengan saya dalam hal-hal yang berhubungan kegiatan memakmurkan mesjid, seperti sholat 5 waktu, tarhib Ramadhan, pelaksanaan jumatan, pengumpulan, pembagian dan pengelolaan zakat dan infak jamaah, dll. Keberadaan beliau sangat membantu saya dalam menjalankan tugas sebagai imam mesjid dan menghidupkan rutinitas ibadah sholat 5 waktu di mesjid yang jaraknya kurang lebih 80 meter dari kediaman saya. Bersama 4 marbot mesjid lainnya yang tinggal di mesjid Rahmatullah 2 kelurahan Pulubala, beliaulah yang membantu mengkoordinasikan tata laksana surat menyurat badan ta’mir mesjid dan menjadi petugas imam cadangan bila imam tetap berhalangan.

- Abdur Rahman Djafar, Lurah Pulubala.
       Beliau adalah kepala pemerintahan di mana saya tinggal. Bersama beliau tidak saja mendiskusikan program-program untuk masyarakat, tapi saling berkoordinasi dalam kegiatan-kegiatan sosial kemasyarakatan seperti peringatan hari-hari besar Islam dan pelaksanaan jenazah. Di beberapa upacara adat juga kadang-kadang bertemu dengan beliau.

- Drs. Arijadi, mantan sekertaris KPU dan mantan anggota Bawaslu provinsi Gorontalo.
       Bersama beliau masih terus membangun komunikasi bersama mantan ketua Bawaslu ibu Siti Haslina Said, SH,MH. 
- KH. Drs. Abdul Muin Mooduto, pimpinan pondok pesantren Alkhairaat.
Beliau adalah guru sekaligus sesepuh kami di lingkup keluarga besar Alkhairaat kota Gorontalo. Ketika masih aktif sebagai pengajar di madrasah bersama beliau kami kerap berdiskusi tentang masa depan pondok pesantren. Saya sendiri pernah mengupayakan TVRI memproduksi liputan khusus tentang pesantren Alkhairaat kota Gorontalo dengan beliau sendiri sebagai narasumber. Setelah saya tidak lagi aktif mengajar di madrasah kadang-kadang beliau masih memberi kesempatan saya untuk mengisi muhadharah atau ceramah pembinaan bagi para santri.

- KH. Drs. Abdul Rasyid Kamaru, Qodhi kota Gorontalo.
      Kerap bertemu di berbagai acara keagamaan sekaligus tempat menimba ilmu. Sejak saya mahasiswa sering ke rumah beliau yang kebetulan salah seorang putera beliau adalah sahabat saya di masa kuliah. Beliau adalah sosok orang tua sekaligus guru yang santai dan sabar namun tidak kehilangan kharismanya.

2. Teladan Hidup
a. Karakter Teladan yang Menjadi Acuan Nilai Kehidupan
       Sebagai manusia yang tidak luput dari banyak kekurangan dan kelemahan, saya berusaha untuk mengambil manfaat dari kebaikan-kebaikan orang yang dapat dijadikan sebagai acuan hidup. Apa yang menjadi kelebihan-kelebihan mereka terutama yang berhubungan dengan nilai dan karakter dalam kehidupan menjadi daya dorong untuk terus mengikhtiarkan tersebarnya kebaikan. Buah pikir dan buah amal mereka menjadi sumber inspirasi hidup untuk menjadikan kehidupan manusia menjadi memiliki makna. Di antara sekian banyak orang-orang inspiratif (selain Rasulullah dan sahabatnya serta para tabi’ wat tabi’iin), saya amat mengagumi sosok seperti Hasyim Asy’ari, Buya Hamka, HOS Cokroaminoto. Tokoh-tokoh nasional yang saya banggakan seperti Prof. Dr. Mahfud MD, SH., Prof. Dr. Jimly Ashshiddiqie. Di daerah, saya juga mempunyai kekaguman pada sosok yang sangat berkesan seperti Prof. Dr. Jasin Tuloli, M.Pd dan almarhum dr. Rahman Pakaya.

b. Cerita tentang Dokter Rakyat
      Tidak terhitung lagi berapa kali saya pernah berobat pada beliau (Almarhum dr. Rahman Pakaya). Sejak masih kecil sampai sudah memiliki anak, beliau tetap mejadi andalan ibu saya dan saya sendiri, termasuk untuk anak-anak saya.
      Dokter paling murah sejagad, itulah barangkali salah satu alasan kenapa ibu saya yang hanya seorang pedagang mainan pada waktu itu gemar membawa anak-anaknya yang sakit ke dr. Rahman (1980-1990-an).
       Tarifnya pada saat itu menurut orang-orang kira-kira antara Rp. 5000-Rp. 10000. Beliau itu dokter ‘pribadinya’ para rakyat jelata. Itulah kesaksian saya. Hal lainnya yang tidak bisa saya lupakan dari beliau adalah sekitar tahun 2006, pagi di hari lebaran dalam keadaan sakit saya diantarkan adik saya ke rumah dr. Rahman. Saya sempat pesimis tidak akan mendapatkan pelayanan di hari libur seperti itu, tapi ternyata dia tetap mau melayani. Barangkali karena melihat kondisi saya yang memang tampak sakit dan berwajah pucat. Alhamdulillaah suntikannya manjur.
       Sering sekali dia bertanya, “Bapak kerja dimana?”. Saya mengerti pertanyaan itu. Barangkali penampilan saya seperti orang susah. Beberapa kali juga saya sering mendapat potongan harga sampai hanya membayar 20 ribu rupiah, bahkan pernah hanya menebus obat saja. Cerita ini ternyata tidak hanya saya yang mengalami, hampir semua pasien yang pernah berobat kepadanya pernah merasakan kemurahan hatinya.
       Innaa lillaahi wa innaa ilaihi roji’un! Beliau kini telah tiada, tapi kepergiannya meninggalkan begitu banyak kesan yang sangat inspiratif bahwa kehidupan haruslah memberi manfaat bagi sebanyak-banyaknya orang, karena orang hidup yang tidak dapat memberi manfaat maka itulah ‘kematian’ yang penuh kehinaan. Semoga kesaksian saya dan orang-orang yang pernah menerima jasa almarhum menjadi syafa’at di akhirat. Dari Anas ra. berkata, “Pada suatu ketika ada jenazah lewat, kemudian para sahabat memuji atas kebaikan jenazah itu, kemudian Nabi saw. bersabda: “Wajib baginya”. Kemudian pada saat yang lain ada jenazah lewat, kemudian para sahabat menceritakan kejelekan jenazah itu, kemudian Nabi SAW bersabda: “Wajib baginya”. Lantas Umar bin Khattab bertanya: “Apakah yang yang wajib baginya itu?” Beliau menjawab: “Terhadap orang yang kamu puji kebaikannya, maka wajib baginya surga, dan terhadap orang yang kamu katakan jahat, maka wajib baginya neraka. Kamu sekalian adalah merupakan saksi Allah yang ada di muka bumi ini”. (HR. Bukhari Muslim).

c. Nilai atau Karakter yang Menonjol dari Sosok Teladan
      Saya sangat mengagumi nilai dan karakter yang terpancar dari pribadi tokoh-tokoh yang saya sebutkan di atas. Integritas dan ketegasan mereka yang lembut dan penuh kebersahajaan memancarkan pesona kejiwaan mereka yang begitu dalam. Mereka tidak hanya cerdas, tapi memiliki kekayaan jiwa yang tergambar dari kekuatan tutur kata mereka. Karya-karya mereka tidak hanya membumi, tapi juga menggetarkan petala langit. 

3. Integritas
a. Tingkat Keyakinan Bersih dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme.
       Dalam hidup saya tidak terlintas sekalipun keinginan untuk mengejar kejayaan hidup yang diraih dengan cara-cara tidak bermoral. Hati yang jujur dan bersih pasti akan menolak perkara-perkara yang mendatangkan kerusakan (mudharat) sosial dan ekonomi seperti korupsi, kolusi dan nepotisme. Tidak ada makhluk yang sempurna kecuali yang Maha Menciptakan sehingga Allah menjadikan manusia juga lengkap dengan keterbatasannya. Manusia bisa lapar, mengantuk, lelah, berbuat dosa, bahkan pasti mati. Korupsi, kolusi dan nepotisme adalah jenis dosa yang biasa dilakukan oleh manusia karena kelemahannya tersebut meskipun ada segelintir orang yang mencari-cari alasan pembenar untuk menghalalkan korupsi, kolusi dan nepotisme. Namun demikian kebencian terhadap korupsi, kolusi dan nepotisme tidak dapat diragukan lagi kini telah mendarah daging pada diri Saya dan mungkin pada sebagian besar orang. Hal ini tentu beralasan karena perbuatan tersebut merupakan jenis kejahatan kemanusiaan yang bisa melahirkan multiplier effect (mudharat) yang sangat luas. Bahkan efek itupun tidak hanya sekali pernah saya rasakan langsung. Kebencian itu telah ada sejak saya berkecimpung di dunia aktivisme yakni ketika masih duduk di bangku kelas 3 madrasah aliyah tepatnya pada tahun 1999. Semua organisasi yang saya geluti sejak menjadi mahasiswa seperti FKMM, Gemaratu, dan BEM justeru memiliki visi dan komitmen yang sejalan dengan apa yang saya yakini bahwa korupsi, kolusi dan nepotisme adalah musuh bersama. Komitmen ini sudah final, demi Allah saya katakan bahwa saya tidak pernah dan tidak akan pernah secara sendiri atau bersama-sama memerintahkan atau melakukan praktek-praktek tidak terpuji berupa korupsi, kolusi dan nepotisme untuk memperkaya diri ataupun orang lain. Untuk melawan niat-niat itu saya berusaha keras untuk menjadi orang yang selalu dapat menyenangkan orang lain semampu saya dengan cara-cara yang halal. Semoga Allah akan terus menguatkan saya dengan prinsip ini dan terus menjadi penopang kebutuhan kaum renta dan lemah, marbot-marbot mesjid, panti asuhan, anak-anak yatim, saudara-saudari saya yang harus mengorbankan sekolah mereka untuk saya, dan para du’at yang menyeru tanpa kenal lelah. Doa mereka semoga akan menyelamatkan saya.

b. Skor Tingkat Integritas
       Skor integritas pribadi saya 100 persen. In syaa Allah diri ini akan tetap konsisten (istiqomah) untuk menolak korupsi, kolusi dan nepotisme dengan memberikan skor terhadap tingkat integritas diri saya pada angka 100. Saya sepenuhnya sadar akan ketidak-sempurnaan diri saya sebagai manusia. Ada nafsu dalam diri manusia yang menjadi bagian dari sunnatullaah. Manusia tak luput dari dosa dan khilaf karena memang ia diciptakan Tuhan bukan sebagai malaikat yang tidak memiliki syahwat terhadap keduniaan. Namun sejahat-jahatnya nafsu dalam diri, saya tidak boleh membiarkan diri ini memiliki celah terhadap peluang melemahnya integritas. Penangkal yang mungkin bisa saya andalkan terhadap syahwat itu tentu saja adalah muraqabatullah, mu’aqabah, kesabaran dan sifat qona’ah.

c. Penjelasan Terhadap Skor Integritas Pribadi
       Sebagai manusia saya sadar betul bahwa Tuhan menciptakan saya dengan banyak keterbatasan, meski secara fisik nampak sempurna. Namun tak dapat dipungkiri bahwa manusia diciptakannya lengkap dengan sayhwat ingin kaya, sifat lupa, dan tidak merasa puas. Atas segala sifat manusiawi itu maka Allah membekali kita dengan kesabaran untuk tidak mengambil yang bukan hak kita. Tingkat kesabaran seseorang akan bergantung pada tingkat keimanannya sebagai hamba dan tapal batas kesabaran itu tidak lain sesungguhnya terletak di dalam liang lahatnya. Hanya dengan memahami dan mengamalkan hal ini yang diringi dengan rasa syukur in syaa Allah saya sanggup mempertahankan skor integritas saya.



BAGIAN II
PANDANGAN DAN SIKAP TERHADAP 
KECURANGAN, GRATIFIKASI DAN PENYELESAIAN KONFLIK

A. Sikap dan Pandangan Terhadap Kecurangan dalam Kontestasi Politik
       Taktik, strategi dan intrik selalu ada dan memang diperlukan dalam setiap pertarungan atau kompetisi apalagi dalam sebuah kontestasi politik dalam Pemilu atau Pilkada. Namun tidak jarang hal tersebut seringkali menyimpang menjadi kecurangan. Kecurangan dalam kontestasi politik memunculkan konflik yang tidak terhindarkan. Kepentingan yang begitu tajam dari para kontestan pemilu atau pemilukada menjadi sebab utama munculnya konflik. Apapun alasannya yang namanya pelanggaran atau kecurangan tetap harus dikenakan sanksi yang sesuai tingkat pelanggarannya. Karena pelanggaran besar atau kecil tetap saja akan menjadi pemicu adanya kerawanan hingga konflik kepentingan. Konflik kepentingan ini seringkali diperparah oleh tindakan oknum yang mengabaikan aturan atau suka menghalalkan segala cara. Sehingganya penegakan aturan menjadi salah satu upaya dalam menetralisir konflik yang tidak terhindarkan. Tidak ada alasan untuk mentolerir setiap bentuk pelanggaran aturan. 
       Kecurangan dalam pemilu akan sangat merusak prinsip tatanan demokrasi yang harganya sangat mahal. Kualitas demokrasi sangat ditentukan oleh kedewasaan berpolitik dan kesantunan menyikapi perbedaan. Sikap tersebut lahir dari sebuah proses yang panjang hingga aturan hukum dapat menempati posisinya yang superior. Bagi pelanggaran-pelanggaran ringan yang disebabkan oleh ketidaktahuan maka tentu saja kita perlu menghadirkan kearifan dan kebijaksanaan kita dalam menyikapi keadaan tersebut. Sanksi peringatan tentu saja adalah salah satu bentuk alternatif sikap yang dapat ditempuh untuk kondisi-kondisi seperti itu.
       Pengalaman pernah menunjukkan bahwa betapa sebuah kecurangan sangat mencederai proses berdemokrasi. Salah satu contoh kasus yang pernah terjadi pada pemilu 2009 di kota Gorontalo yakni manipulasi perolehan suara pada pemilu 2009 di tingkat PPK di salah satu kecamatan. Salah seorang caleg hampir menjadi korban manipulasi suara dengan memanfaatkan jasa oknum-oknum tertentu. Tindakan seperti ini sama sekali tidak boleh ditolerir. Pelanggaran sekecil apapun tidak boleh dibiarkan karena selain merusak tatanan juga sangat mengganggu rasa keadilan dalam berdemokrasi. ‘Anda melanggar, kami lapor! Anda curang, kami proses! Kredo ini mengandung prinsip yang tegas dan harus dipelihara serta didukung oleh siapapun.

B. Pengalaman Ketika Ditawarkan Gratifikasi
       Secara pribadi ketika Saya menghadapi sebuah situasi yang memberikan peluang untuk melakukan manipulasi seperti pada kasus ketika Saya ditawarkan sejumlah uang gratifikasi karena telah mendukung salah satu proyek pada program PNPM Mandiri Perkotaan, maka Saya sampaikan bahwa sesuai aturan yang berlaku Saya tidak berhak menerima pemberian apapun dari seluruh alokasi dana PNPM Mandiri perkotaan. Maka sejumlah uang itupun tidak saya sentuh sama sekali. Dalam kasus lainnya pula ketika saya berusaha memperoleh status CPNS ditengah banyaknya calo yang berkeliaran maka tidak pernah terpikirkan untuk memanfaatkan jasa para calo tersebut.
       Berdasarkan pengalaman, saya belum pernah menghadapi situasi dilematis dalam mencapai sesuatu namun harus melanggar aturan. Jikapun itu dalam keadaan terpaksa harus melanggar aturan maka paling tidak yang harus dipastikan adalah tercapainya konsensus yang sifatnya sementara atau dalam situasi force majeure perlu berkoordinasi dengan pihak-pihak berkompeten dalam mencapai konsensus yang sifatnya darurat.
       Dalam keadaan ketika suatu peristiwa tidak dtemukan atau tidak jelas landasan hukumnya maka yang perlu dilakukan adalah menempuh jalur koordinasi hierarkis ke lembaga yang lebih tinggi untuk meminta pendapat atau penjelasan. Langkah terakhir bagi sebuah kebuntuan hukum dalam perundang-undangan tentu saja memberi ruang bagi kita untuk memanfaatkan langkah hukum permohonan fatwa kepada mahkamah yang berwewenang sesuai ketentuan undang-undang.

C. Pandangan dalam Hal Penyelesaian Konflik
       Dalam sebuah perkara yang pijakan hukumnya kurang jelas bahkan tidak ada, maka cara-cara yang ditempuh dalam mengambil keputusan adalah dengan mencari alternatif solusi yang dapat menjadi konsensus bersama antara pihak-pihak yang berkompeten. Hakekatnya adalah bahwa setiap masalah pasti ada jalan keluarnya. Maka oleh karena itu ikhtiar sekecil apapun menjadi sangat penting dalam situasi sesulit apapun walau hanya dengan membangun komunikasi. 




BAGIAN III
AKTIVITAS KEMASYARAKATAN 
DAN MANFAAT PENGALAMAN BERORGANISASI

A. Pengalaman dalam Dunia Aktivisme
       Sebagai seorang aktivis maka tujuan akan perubahan itu adalah sesuatu yang sangat penting. Saya akui untuk melakukan sebuah perubahan itu tidaklah mudah. Namun perubahan sekecil apapun demi maslahat di masyarakat akan menjadi sebuah kontribusi yang sangat berarti dibandingkan dengan tanpa berbuat apapun. Secara pribadi saya pernah melakukan beberapa kegiatan yang walaupun tidak seberapa, tapi insya Allah telah cukup mengurangi beban-beban yang seringkali dirasakan oleh masyarakat. Kegiatan tersebut antara lain adalah saya bersama teman-teman aktivis pernah melakukan advokasi terhadap karyawan PT. Rajawali (sekarang PG. Tolangohula) yang mengalami PHK sebagai imbas perubahan manajemen yang diterapkan oleh direksi yang baru, peran saya pada saat itu adalah sebagai negosiator sekaligus orator pada saat aksi damai dalam rangka menuntut pemerintah untuk melakukan mediasi antara pihak manajemen dan karyawan.
       Pada tahun 2004 saya pernah berperan serta dalam mensukseskan suksesi kenegaraan yang pertama kali menerapkan pemilihan langsung, yakni sebagai ketua KPPS Pemilu dan Pilpres. Hal yang menarik adalah di TPS yang kami tercatat sebagai TPS yang paling cepat melakukan proses penghitungan suara di antara semua TPS di kelurahan Dulalowo, kota Gorontalo. 
       Selama lima tahun menjadi ketua LPM (Lembaga Pemberdayaan Masyarakat), saya menginisiasi dan melaksanakan kegiatan pelatihan pelaksanaan jenazah. Hal ini dilaksanakan karena menyadari semakin berkurangnya para pelaksana jenazah saat itu sedangkan jumlah kematian terus meningkat setiap saat. Peran saya pada saat itu adalah sebagai fasilitator kegiatan. Selain itu beberapa usulan pembangunan seperti pelebaran jalan, perbaikan sanitasi, pengadaan fasilitas kebersihan dan lain-lain berhasil kami perjuangkan melalui Musrenbang daerah.
       Sejak menjadi anggota BKM (Badan Keswadayaan Masyarakat), saya juga menginisiasi program-program yang terkait langsung dengan kebutuhan masyarakat. Di antaranya adalah program dana bergulir sebesar Rp. 2.500.000.-/unit kelompok usaha kecil, pembuatan gerobak sampah untuk lima lingkungan di kelurahan Dulalowo, pembuatan drainase di kompleks rumah penduduk yang berada di sisi belakang kawasan barat kampus UNG dan pembangunan salah satu rumah layak huni di kelurahan Dulalowo Timur.
       Sebagai bagian dari komponen masyarakat kelurahan Dulalowo saya juga terlibat dalam upaya pemekaran kelurahan Dulalowo Timur. Peran kami pada saat itu adalah sebagai anggota komite pemekaran. Tujuan dari upaya tersebut tentunya adalah dalam rangka memperjuangkan aspirasi masyarakat serta untuk mewujudkan pelayanan yang cepat dan efisien dalam urusan-urusan kemasyarakatan dan pemerintahan.
       Saya berkeyakinan bahwa setiap hal yang kita lakukan demi memperjuangkan kepentingan orang banyak akan selalu memperoleh dukungan positif dari banyak pihak. Sebagaimana yang telah saya lakukan selama ini, bahkan aksi-aksi tersebut insya Allah bersih dari segala tendensi pribadi karena ingin memperoleh pujian, popularitas atau materi. Saya bekerja semata-mata menganggap bahwa setiap amal untuk menyenangkan hati saudara kita itu adalah sebuah seni pergaulan sosial yang juga mengandung pahala sedekah. Dengan apalagi kita akan bersedekah bila materipun tak punya? Alhamdulillaah, apa yang telah saya kontribusikan untuk masyarakat telah sedikit dirasakan manfaatnya. Masyarakat semakin mudah dan cepat mengakses layanan dari pemerintah, usaha kecil masyarakat berkembang, masyarakat dapat melakukan pengurusan jenazah keluarganya sendiri, terjadinya komunikasi yang membuahkan hasil positif antara karyawan dan manajemen PT. Rajawali Plantation, dan banyak lagi dampak positif lainnya.

B. Pihak-Pihak yang Berperan Dalam Kegiatan Kemasyarakatan
       Dalam dunia aktivisme saya dan kawan-kawan aktivis lainnya saling bahu-membahu dalam aksi-aksi advokasi dalam memperjuangkan aspirasi masyarakat. Di antara kawan-kawan yang cukup berperan aktif pada saat itu adalah Bapak Arten Mobonggi yang berperan sebagai ketua komite pemekaran kelurahan Dulalowo Timur (sekarang dosen IAIN), Ghalib (ketua BEM UG pada waktu itu) yang sempat menjadi koordinator tim advokasi gabungan antara BEM UG dan UNG dalam rangka memperjuangkan aspirasi karyawan PT. Rajawali, Deddy K. Hamzah yang sempat menjadi ketua BEM UNG (mantan anggota DPRD Provinsi Gorontalo), Farid Hudodo sebagai koordinator BKM Mawar, Rasyid Thalib sebagai sekretaris LPM dan Erna Hiola sebagai Bendahara LPM.

C. Manfaat Pengalaman Organisasi
       Menyadari betapa besar tantangan dalam dunia aktivisme dan keorganisasian seolah telah memupuk motivasi saya untuk berperan aktif lebih jauh lagi. Saya berharap kemampuan yang saya miliki tidak terpendam dan harus selalu diperhadapakan dengan tantangan yang lebih besar lagi. Saya melihat ada tantangan tersendiri ketika menjadi penyelenggara pemilu dan ini menjadi kesempatan berkontribusi kembali pada masyarakat.
       Dunia aktivisme telah memberikan sesuatu yang sangat luar biasa bagi kehidupan saya. Berjuta pengalaman telah menjadi bekal yang begitu berharga dalam meniti kehidupan, baik dalam kehidupan sosial, agama, keluarga, dan keprofesian. Saya telah membuktikan bahwa pengalaman saya selama ini dalam berbagai organisasi ternyata sangat bermanfaat dalam pekerjaan-pekerjaan yang terkait dengan kepemiluan.




BAGIAN IV
MENYIKAPI INTERVENSI DAN STRATEGI KEMITRAAN

A. Sikap Terhadap Intervensi
       Bawaslu adalah sebuah lembaga penyelenggara Pemilu yang mandiri dan dibentuk berdasarkan undang-undang. Hal ini harus dapat menjamin kewibawaan Bawaslu itu sendiri agar tidak dirongrong oleh pihak-pihak yang memiliki kepentingan tertentu apalagi jika kepentingan tersebut akan mencederai rasa keadilan. Pengambilan keputusan oleh Bawaslu tidak boleh terpengaruh oleh bentuk tekanan dan intimidasi apapun. Hal-hal yang patut diwaspadai khususnya dalam rangka menjaga kepercayaan publik terhadap penyelenggaraan pemilu adalah intervensi penguasa, tekanan partai politik, pengusaha yang menjadi komprador penguasa atau pihak partisan, dan agen-agen kepentingan partai politik yang disusupkan ke lembaga-lembaga penyelenggara pemilu. Bawaslu harus mengambil langkah tepat dalam membuka diri untuk menerima segala masukan dan laporan. Pihak manapun harus dihadapi secara profesional.

B. Mitra Kerja Pengawasan
       Adapun pihak-pihak yang patut dijadikan sebagai mitra strategis dalam menjalankan fungsi-fungsi penyelenggaraan pemilu khususnya pengawasan antara lain adalah KPU, KPID, media massa, aparat keamanan, akademisi dan LSM yang terlibat langsung dalam aktivitas pemantauan pemilu, dan tentunya juga tokoh-tokoh masyarakat. Peran serta berbagai pihak sangat diperlukan dalam rangka menciptakan suasana demokrasi yang sejuk dan berkualitas. Segala bentuk peran serta dari pihak manapun selama itu sejalan dengan misi Bawaslu harus dijadikan bahan pertimbangan, tapi bila terindikasi memiliki muatan-muatan tertentu maka harus diabaikan. Penyelenggara pemilu bekerja untuk kepentingan bangsa dan negara berdasarkan undang-undang, bukan untuk memuluskan keinginan pihak-pihak tertentu karena kepentingan pribadi maupun kelompok.

C. Strategi Menghadapi Intervensi Pihak-Pihak Tertentu
       Intervensi dalam setiap penyelenggaraan suksesi politik hampir pasti ada. Maka harus ada kiat khusus untuk menghindarkan diri dari pengaruh tersebut. Salah satu kiat yang bisa dilakukan adalah dengan tidak memberi peluang pihak-pihak yang berkepentingan untuk mengajak bertemu secara khusus atau pribadi, memberi sesuatu, atau menjanjikan sesuatu. Referensi utama seorang anggota Bawaslu provinsi dalam bekerja adalah peraturan, bukan pengaruh atau tekanan dari pihak-pihak yang memiliki kepentingan. 
       Lemahnya pola interaksi dan terjadinya kebuntuan komunikasi antara stakeholder pemilu serta aktor-aktor politik boleh jadi dapat menimbulkan akibat terhadap tidak sehatnya proses penyelenggaraan pemilu. Jikapun upaya untuk mengintervensi itu dilakukan oleh pihak tertentu maka dalam situasi apapun seorang anggota Bawaslu harus mampu membawanya ke dalam suasana diskursus yang lebih komunikatif dan mencerdaskan kedua belah pihak.

D. Pengaruh Keluarga dan Pihak-Pihak yang Layak Didengarkan
       Siapapun yang pandai menghargai orang lain adalah orang yang sebenarnya layak untuk kita dengarkan. Sudah sepantasnya kita memberi perhatian pada seseorang dengan mendengarkannya ketika dia sanggup menunjukkan rasa hormatnya terhadap diri kita. Selain itu orang-orang yang patut kita dengarkan dalam kehidupan kita adalah mereka yang ada dalam lingkaran cinta sejati kita yaitu sahabat dan keluarga, karena merekalah pendukung utama kita saat kita bahagia atau saat kita terpuruk. Cinta dan persahabatan adalah pemanis kehidupan, sehingga bila kita kehilangan sahabat dan cinta dari keluarga maka itu artinya kita telah kehilangan manisnya kehidupan. Menjalin dan menjaga hubungan yang erat dengan sahabat dan keluarga harus menjadi prioritas. Namun bila orang-orang terdekat dalam lingkungan keluarga kita hendak memanfaatkan posisi kita untuk hal-hal yang kontra-produktif maka kita perlu menunjukkan sikap bijak dan tegas dengan memberi pengertian bahwa kita bekerja bukan untuk kepentingan pribadi, orang perorang atau keluarga tapi demi kepentingan orang banyak. 

E. Bila Menjadi Anggota Bawaslu Provinsi Gorontalo
       Bawaslu adalah sebuah lembaga penyelenggara Pemilu yang mandiri dan dibentuk berdasarkan undang-undang nomor 07 tahun 2017. Hal ini harus dapat menjamin kewibawaan Bawaslu itu sendiri agar tidak dirongrong oleh pihak-pihak yang memiliki kepentingan tertentu apalagi jika kepentingan tersebut akan mencederai rasa keadilan. Pengambilan keputusan oleh Bawaslu tidak boleh terpengaruh oleh bentuk tekanan dan intimidasi dari siapapun. Hal-hal yang perlu diwaspadai khususnya dalam rangka menjaga kewibawaan penyelenggaraan pemilu adalah intervensi penguasa, tekanan partai politik, pengusaha yang menjadi komprador penguasa atau pihak partisan, dan agen-agen kepentingan politik yang disusupkan ke lembaga-lembaga penyelenggara pemilu. Bawaslu harus mengambil langkah cerdas dalam membuka diri untuk menerima segala masukan dan laporan. Pihak manapun harus dihadapi secara profesional dan proporsional.




BAGIAN V
DEMOKRASI, KEPEMILUAN DAN KARYA JURNALISTIK

A. Ketertarikan Terhadap Praktek Kepemiluan 
       Sejak masih duduk di bangku sekolah SMA saya telah mempraktekkan dan menerapkan konsep kepemiluan dan demokrasi. Pada tahun 1999, saya menjadi ketua OSIS yang pernah dipilih secara langsung oleh seluruh siswa dalam satu sekolah, karena sesuai dengan inisiatif kami sebagai pengurus pada saat itu kepada pembina OSIS agar sistem pemilihan dilakukan secara langsung. Pada tahun 2004 saya masuk dalam bursa pemilihan calon ketua BEM UNG, mulai dari membentuk koalisi pendukung, berkampanye, hingga dipilih secara langsung. Ketertarikan saya terhadap kepemiluan dan demokrasi sebenarnya berawal dari antusiasme saya mengikuti perkembangan politik Indonesia ketika tumbangnya rezim Orde Baru. Sejak saat itulah saya sudah mulai tertarik dengan segala hal yang terkait dengan proses politik termasuk yang namanya pemilu dan hampir tidak pernah melewatkan perkembangan yang terkait dengan isu-isu politik, hukum dan demokrasi. Minat saya pada kepemiluan dan demokrasi cukup beralasan karena sejak SD saya sudah akrab dengan praktek kepemimpinan, seperti menjadi ketua kelas, ketua OSIS, ketua Forum Remaja, ketua lembaga, maupun menjadi pengurus di beberapa bidang organisasi dan lembaga.
       Sejak tahun 2004 saya sudah mulai bersentuhan dengan kegiatan-kegiatan penyelenggaraan pemilu. Sempat dua kali menjadi ketua KPPS kemudian terakhir menjadi pengganti antar waktu sebagai anggota Bawaslu provinsi Gorontalo sejak tahun 2016 sampai dengan tahun 2017. Beberapa kali saya juga sempat menjadi enumerator survey yang berhubungan dengan penyelenggaraan pemilu maupun pilkada. Praktis selama 12 tahun lamanya saya memberi perhatian khusus terhadap hal-hal yang berhubungan erat dengan penyelenggaraan pemilu di Indonesia baik sebagai penyelenggara aktif maupun sebagai aktivis yang terus mengikuti perkembangan pemilu di Indonesia.

B. Dunia Literatur 
       Buku-buku tentang kepemiluan dan demokrasi tergolong buku yang terbitannya terbatas dan sulit diperoleh, namun beberapa judul buku yang sempat saya baca yaitu Demokrasi dan Konstitusi karya Prof. Dr. Muh. Mahfud MD., SH.SU., Oposisi Demokrasi karya Redi Panuju, Politik dan Kekuasaan, Undang-Undang Penyelenggara Pemilu yang diterbitkan oleh Pustaka Yustisia, dan Undang-Undang nomor 7 tahun 2017 yang diterbitkan oleh Fokus Media . Judul-judul buku tersebut sangat penting dibaca oleh para penyelenggara pemilu karena menjelaskan tentang struktur ketatanegaraan Indonesia, pelaksanaan pemilu, serta fenomena demokrasi di Indonesia yang mengalami banyak masalah dan hambatan.
       Mega Trends 2000, Das Kapital karya Karl Marks, Visi Peradaban Komprehensif, Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Fiqih Sunnah karya Sayyid Sabiq, Ihya Ulumuddin karya Imam Ghazali, Laa Tahzan karya Aidh al-Qorni, kitab Bulughul Maram, Fadho-ilul Amal karya al-Kandahlawi dan pernah melakukan riset ilmiah terhadap kitab terjemahan al-Qur’an berbahasa Inggris berjudul The Holy Quran karya Abdullah Yusuf Ali.
       Saya juga sedang menuntaskan membaca buku-buku tentang kepemiluan dan demokrasi, di antaranya adalah Mengawal Demokrasi karya Gunawan Suswantoro, Manusia Konstitusi karya Danial Zuchron, Membangun Pengawasan Partisipatif, dan buku-buku lainnya.

C. Karya Tulis
       Artikel-artikel yang pernah saya tulis dan sempat dimuat dalam bentuk buku kompilasi dan opini di media online dan surat kabar harian lokal di antaranya berjudul:

1. Problem dan Tantangan Bawaslu Pasca Pengesahan Undang-Undang Pemilu
2. Sinergi Nasional Menuju Keserentakan Pemilu
3. Visi Futuristik Gorontalo 2020
4. Disfungsi Psikhis Elit dalam Hiruk Pikuk Pilkada
5. DM 1 A (Dinamika politik menjelang pemilihan walikota Gorontalo tahun 2008)
6. Pornografi dan Pornoaksi dalam Wacana Demokrasi yang Kebablasan
7. Tunjangan Perumahan ‘Bandit Berdasi’
8. Antara Obsesi Karir dan Ambisi Politik
9. Perang Pemikiran

     Artikel-artikel tersebut sebagian besar merupakan argumentasi dan pandangan-pandangan pribadi saya sebagai penulis. Sebagiannya didasarkan pada basis teori para pakar seperti Samuel Huntington, Francis Fukuyama, Rod Hague, Ibnu Aqil, Thamrin Amal Tomagola, Nurcholis Majid, dan juga berdasarkan atas nash-nash berupa dalil al-Qur’an dan al-Hadits.



===[ S E L E S A I ]===