Minggu, 28 April 2013

Sekilas Riwayat Pribadi

 BAGIAN PERTAMA
  Kisah Kehidupan 
Nanang Masaudi

1.   Profil Kehidupan
a.      Deskripsi Singkat Riwayat Hidup
Secara singkat riwayat kehidupan saya dapat diceritakan berawal dari sebuah jazirah kecil yang berada di tengah kepala Sulawesi bernama Gorontalo. Di daerah inilah Saya terlahir sebagai seorang anak yang tumbuh dengan segala dinamika kehidupan yang serba terbatas dari sepasang suami isteri, Thamrin Masaudi (alm) dan Asma Ahmad. Rumah sederhana di pojok pertigaan jalan Arif Rahman Hakim (dulu jalan Yusuf  Hasiru) menjadi saksi bisu kelahiran saya yang cukup dramatis sebagai anak pertama yang dilahirkan oleh ibu saya. Senin, tanggal 15 Oktober 1980 bertepatan dengan 5 Zulhijjah 1400 hijriyyah tercatat sebagai pembuka sejarah kehidupan saya di atas muka bumi.
b.      Tumbuh Menjadi Dewasa
Terlahir sebagai anak pertama dari sebuah keluarga sederhana kedua orangtua saya menyematkan saya sebuah nama yang cukup sederhana pula, Nanang MasaudiSaya  tumbuh dan besar ditengah keluarga yang menjunjung nilai-nilai agama dan adat. Walaupun hidup dalam keterbatasan, namun alhamdulillaah kedua orangtua saya masih menganggap pendidikan adalah kebutuhan penting bagi masa depan anak-anak mereka. Setelah menyelesaikan pendidikan SD, almarhum ayah memutuskan untuk memasukkan saya ke pondok pesantren Alkhairaat kota Gorontalo. Momen penting tersebut terjadi setahun sebelum meninggalnya almarhum ayah. Ketika memasuki awal tahun kedua atau saat kelas 2 MTs maka pada saat itu resmi pula saya menyandang status sebagai anak yatim bersama keempat adik saya. Dibawah didikan pesantren itulah saya menerima dasar-dasar ajaran agama yang cukup membekali pemahaman agama saya tentang Islam. Itulah barangkali yang menjadi harapan kedua orang tua terutama almaruh ayah saya yang kesehariannya menghabiskan waktunya untuk memenuhi nafkah keluarga sebagai pedagang dan hampir tidak memiliki kesempatan untuk mendidik anak-anak.
Singkat cerita, ditengah kondisi ekonomi keluarga yang terseok-seok saya dapat menyelesaikan kuliah S1 di Universitas Negeri Gorontalo pada tahun 2006 meski pada waktu itu adik-adik saya harus berkorban tidak dapat melanjutkan sekolah. Di almamater itu pula saya mendedikasikan diri selama dua tahun sebagai pengajar tidak tetap. Di samping itu, pekerjaan sebagai seorang News Anchor (jurnalis salah satu televisi lokal sebagai reporter berita) saya jalani sebagai pekerjaan sampingan untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari.  Tiga tahun kemudian saya diangkat sebagai PNS oleh pemerintah kota Gorontalo sebagai guru. Alhamdulillaah kehidupan yang saya jalani setelahnya bergerak cukup stabil. Bersama seorang isteri bernama Nurlaila Maksud yang saya nikahi tepat tanggal 26 Oktober 2008 dan tiga puteri kecil saya bernama Aira Khairani Masaudi (7), Alika ‘Izzunnisa Masaudi (5), dan Azkiyyah Ghinayya Masaudi (4), saya menjalani kehidupan bersama mereka dengan rasa syukur dan kesabaran sambil berusaha terus menghidupkan nilai-nilai agama di tengah keluarga kecil saya. Delapan tahun sudah saya menjalani kehidupan bersama keluarga kecil tercinta ditemani oleh sang ibu mertua di sebuah rumah sederhana tepatnya di kompleks perumahan Misfalah Rasaindo blok G-6.
c.       Aktivitas Keseharian di Luar Pekerjaan
Bekerja sebagai dosen pada jurusan Bahasa Inggris Universitas Negeri Gorontalo selama 2 tahun memberikan sebuah pengalaman akademik yang sangat berharga bagi kehidupan saya. Tak berselang lama kemudian setelah diangkat sebagai pegawai negeri sipil di lingkungan pemerintah kota Gorontalo, saya langsung dipekerjakan sebagai guru Bahasa Inggris di Pondok Pesantren Alkhairaat kota Gorontalo. Menjalani pekerjaan sebagai guru madrasah ibtidaiyah selama 3 tahun, kemudian bekerja sebagai guru madrasah tsanawiyah bersamaan pula sebagai pembina santri pondok pesantren Alkhairaat kota Gorontalo membuat saya sering berinteraksi dengan banyak orang mulai dari santri, para ustadz/ustadzah, orangtua santri dan pejabat-pejabat yang menjadi komisaris maupun pengurus yayasan. Lingkungan relijius tempat saya bekerja telah memberi warna orientasi yang berbeda dalam pandangan-pandangan hidup saya.
Semenjak dilantik sebagai anggota Bawaslu Provinsi Gorontalo pada 5 Februari 2016 maka dengan sertamerta saya melepaskan profesi guru sebagai wujud tanggungjawab atas komitmen dan tuntutan untuk bekerja penuh waktu sebagaimana yang telah diamanatkan oleh pasal 85 huruf k Undang-Undang nomor 15 tahun 2011 tentang Penyelenggara Pemilihan Umum. Secara otomatis aktivitas keseharian saya di luar pekerjaan resmi tidak lagi seperti ketika sebelum menjadi anggota Bawaslu provinsi Gorontalo. Sebagai konsekwensi atas tanggungjawab yang baru saya emban maka saya secara santun berpamitan kepada Ketua MUI Kota Gorontalo KH. Drs. Abdul Muin Mooduto yang juga merupakan pimpinan pondok pesantren Alkhairaat kota Gorontalo dan kepada Ketua MUI Provinsi Gorontalo KH. Abdurrahman Bahmid untuk berkonsentrasi menunaikan tanggungjawab sebagai Anggota Bawaslu Provinsi Gorontalo.
d.      Organisasi dan Jabatan yang Digeluti
Sejak menjadi santri MTs di pondok pesantren Alkhairaat kota Gorontalo saya mulai menjajaki dunia keorganisasian. Debut organisasi yang pertama kali saya jalani yaitu sebagai pengurus PPIA (Persatuan Pelajar Islam Alkhairaat) yang di sekolah umum dikenal dengan OSIS. Sejak saat itu di setiap jenjang sekolah yang saya geluti selalu bergabung menjadi pengurus OSIS. Posisi puncak yang pernah saya raih dalam karir keroganisasian sekolah adalah sebagai Ketua OSIS Madrasah Aliyah Negeri Gorontalo (1999 – 2000). Tidak berhenti sampai di situ, ghirah aktivisme saya mulai terpupuk ketika bergabung dengan organisasi ekstra kemahasiswaan sejak semester awal. Bergabung di FKMM (Forum Komunikasi Mahasiswa Muslim) Cabang Gorontalo menjadi awal karir sebagai aktivis mahasiswa hingga diberi mandat menjadi ketua pada tahun 2002. Pada tahun 2005 saya juga pernah menjadi bagian dari aliansi mahasiswa dan rakyat bernama Gemaratu (Gerakan Mahasiswa dan Rakyat Bersatu) yang kala itu menuntut pemberantasan praktek premanisme yang merambah ke dalam sendi-sendi pemerintahan dan lembaga legislatif. Beberapa aliansi mahasiswa yang pernah saya geluti juga adalah FAK (Forum Anti Korupsi) dan ADAT (Aliansi Dakwah Terpadu). Memasuki jenjang semester 3, saya juga ikut menjajal organisasi intra universiter sebagai ketua bidang keagamaan di Himpunan Mahasiswa Jurusan, ketua bidang keagamaan di Senat Mahasiswa Fakultas, kemudian mencalonkan diri sebagai calon Ketua BEM UNG pada tahun 2004 dan berkahir dengan kekalahan, dan akhirnya hanya bisa mencapai puncak karir keorganisasian di intra kampus sebagai ketua Bidang Pembinaan Organisasi Badan Eksekutif  Mahasiswa pada tahun itu juga. Salah satu tanggungjawab yang paling berkesan ketika menjadi pengurus BEM UNG adalah ketika diamanatkan menjadi ketua panitia PBK-PK (Pembinaan Belajar di Kampus dan Pembinaan Kerohanian) bagi Mahasiswa Baru tahun 2004 yang jumlahnya kala itu sekitar 2000 mahasiswa yang terbagi di enam fakultas. Itulah pertama kalinya pembinaan mahasiswa yang menghilangkan gaya perpoloncoan OSPEK dan pertama kali menerapkan pembinaan kerohanian bagi agama masing-masing mahasiswa baru.
Ketika tidak lagi menjadi mahasiswa saya pernah bergelut di beberapa organisasi kemasyarakatan, keagamaan dan kepemudaan di daerah, di antaranya pada Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan Dulalowo Timur sebagai ketua, di Badan Keswadayaan Masyarakat kelurahan Dulalowo sebagai anggota, di KNPI kecamatan Kota Tengah sebagai ketua bidang keagamaan, di KNPI Provinsi Gorontalo sebagai pengurus bidang kominfo, di FKUB Provinsi Gorontalo sebagai anggota, di Forum Remaja Kreatif Insan Madani sebagai ketua, di Komite Nasional untuk Rakyat Palestina provinsi Gorontalo sebagai ketua korps muballigh, di MUI Provinsi Gorontalo sebagai anggota komisi kajian dan penelitian, di MUI kota Gorontalo  sebagai sekertaris II, di Himpunan Pemuda Alkhairaat kota Gorontalo sebagai ketua bidang, juga pernah diamanatkan sebagai ketua Mathlaul Anwar Provinsi Gorontalo, dan terakhir mengemban tugas sebagai sekertaris badan ta’mir Mesjis Rahmatullah 2 sekaligus menjadi imam tetap di mesjid tersebut.
e.      Interaksi Khusus Dengan Orang-Orang Tetentu
Dalam pergaulan saya sering berinterkasi dengan orang-orang dari berbagai kalangan dan dari latar belakang yang berbeda-beda. Di antara orang-orang yang dapat saya ceritakan interaksi saya dengan mereka yaitu :
-       Herman, usia 18 tahun, pekerjaan mahasiswa/marbot mesjid.
Beliau sering berinteraksi dengan saya dalam hal-hal yang berhubungan kegiatan memakmurkan mesjid, seperti sholat 5 waktu, tarhib Ramadhan, pelaksanaan jumatan, pengumpulan, pembagian dan pengelolaan zakat dan infak jamaah, dll. Keberadaan beliau sangat membantu saya dalam menjalankan tugas sebagai imam mesjid dan menjaga rutinitas ibadah sholat 5 waktu di mesjid yang jaraknya 100 meter dari kediaman saya. Bersama 4 marbot mesjid lainnya yang tinggal di mesjid Rahmatullah 2 kelurahan Pulubala, Herman membantu mengkoordinasikan tata laksana surat menyurat badan ta’mir mesjid.
-       Abdur Rahman Djafar, Lurah Pulubala.
Beliau adalah kepala pemerintah kelurahan di mana saya tinggal. Bersama beliau tidak saja memikirkan program-program untuk masyarakat, tapi saling berkoordinasi dalam kegiatan-kegiatan sosial kemasyarakatan seperti peringatan hari-hari besar Islam dan pelaksanaan jenazah. Di beberapa acara adat juga kadang-kadang bertemu dengan beliau.
-       KH. Drs. Abdul Muin Mooduto, pimpinan pondok pesantren Alkhairaat.
Beliau adalah guru sekaligus sesepuh kami di lingkup keluarga besar Alkhairaat kota Gorontalo. Ketika masih aktif sebagai pengajar di madrasah bersama beliau kami kerap berdiskusi tentang masa depan pondok pesantren. Saya sendiri pernah mengupayakan TVRI membuat liputan khusus tentang pesantren Alkhairaat kota Gorontalo dan beliau sendiri sebagai narasumbernya. Setelah saya tidak lagi aktif mengajar di madrasah, kadang-kadang beliau masih memberi kesempatan saya untuk mengisi muhadharahatau ceramah pembinaan bagi para santri.
2.      Tokoh Teladan Hidup
a.      Sosok teladan yang menjadi acuan nilai atau karakter kehidupan
Sebagai manusia yang tidak luput dari banyak kekurangan dan kelemahan, saya berusaha untuk mengambil manfaat dari kebaikan-kebaikan orang yang dapat dijadikan sebagai acuan hidup. Apa yang menjadi kelebihan-kelebihan mereka terutama yang berhubungan dengan nilai dan karakter dalam kehidupan menjadi daya dorong untuk terus mengikhtiarkan tersebarnya kebaikan. Buah pikir dan buah amal mereka menjadi sumber inspirasi hidup untuk menjadikan kehidupan manusia menjadi memiliki makna. Di antara sekian banyak orang-orang inspiratif  (selain Rasulullah dan sahabatnya serta para tabi’ wat tabi’iin), saya amat mengagumi sosok seperti Hasyim Asy’ari yang terkenal sebagai ulama yang memiliki daya juang nasionalisme, Buya Hamka yang terkenal sebagai sosok yang cerdas dan mempunyai jiwa besar, HOS Cokroaminoto yang dikenal tokoh pemikir dan piawai mencetak kader-kader bangsa yang memiliki daya juang. Tokoh-tokoh nasional yang saya banggakan seperti Prof. Dr. Mahfud MD, SH., Prof. Dr. Jimly Ashshiddiqie. Di tataran tokoh daerah Gorontalo, saya juga mempunyai kekaguman pada sosok yang sangat berkesan seperti alm. Moh. Thayeb Gobel, Prof. Dr. Jasin Tuloli, M.Pd dan almarhum dr. Rahman Pakaya.
b.      Cerita tentang mereka
Saya memiliki sekilas cerita untuk mengenang sosok almarhum dr. Rahman Pakaya yang cukup mengharukan. Tidak terhitung lagi berapa kali saya pernah berobat pada beliau (almarhum dr. Rahman Pakaya). Sejak masih kecil sampai sudah memiliki anak, beliau tetap menjadi andalan ibu saya dan saya sendiri, termasuk untuk anak-anak saya. Benar-benar dokter paling murah sejagad, itulah barangkali salah satu alasan kenapa ibu saya yang hanya seorang pedagang mainan anak pada waktu itu gemar membawa anak-anaknya yang sakit ke dr. Rahman (1980-1990-an).Tarifnya pada saat itu menurut orang-orang kira-kira antara Rp. 5000-Rp. 10000. Beliau itu dokter ‘pribadinya’ para rakyat jelata. Itu kesaksian saya.
Hal lainnya  yang tidak bisa saya lupakan dari beliau adalah sekitar tahun 2006,pagi dihari lebaran dalam keadaan sakit saya diantarkan adik saya ke rumah dr. Rahman.Saya sempat pesimis tidak akan mendapatkan pelayanan dihari libur seperti itu. Tapi dia tetap mau melayani. Mungkin karena melihat kondisi saya yang memang tampak sakit dan berwajah pucat. Alhamdulillaah suntikannya manjur.
Sering sekali dia bertanya, “Bapak kerja dimana?” Saya mengerti pertanyaan itu. Barangkali penampilan saya terlihat susah? Beberapa kali juga saya sering mendapat potongan harga hingga hanya membayar 20 ribu saja, bahkan sempat hanya menebus obat saja. Cerita ini ternyata tidak hanya saya yang mengalami, hampir semua pasien yang pernah berobat kepadanya pernah merasakan kemurahan hati beliau.
Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Selamat jalan wahai dokter rakyat. Semoga kesaksian saya dan orang-orang yang pernah menerima jasamu menjadi syafaat di akhirat kelak.
Hadits:Dari Anas ra. berkata, “Pada suatu ketika ada jenazah lewat, kemudian para sahabat memuji atas kebaikan jenazah itu, kemudian Nabi saw. bersabda: “Wajib baginya”. Kemudian pada saat yang lain ada jenazah lewat, kemudian para sahabat menceritakan kejelekan jenazah itu, kemudian Nabi SAW bersabda: “Wajib baginya”. Lantas Umar bin Khattab bertanya: “Apakah yang yang wajib baginya itu?” Beliau menjawab: “Terhadap orang yang kamu puji kebaikannya, maka wajib baginya syurga, dan terhadap orang yang kamu katakan jahat, maka wajib baginya neraka. Kamu sekalian adalah merupakan saksi Allah yang ada di muka bumi ini”. (HR. BUkhari Muslim).
c.       Nilai atau karakter yang menonjol dari sosok teladan
Saya sangat mengagumi nilai dan karakter yang terpancar dari pribadi tokoh-tokoh yang saya sebutkan di atas. Integritas dan ketegasan mereka yang lembut dan penuh kebersahajaan memancarkan pesona kejiwaan mereka yang begitu dalam. Mereka tidak hanya cerdas, tapi memiliki kekayaan jiwa yang tergambar dari kekuatan tutur kata mereka. Karya-karya mereka tidak hanya membumi, tapi juga menggetarkan petala langit.

3.      Skor Integritas
a.      Tingkat Keyakinan Bersih dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme.
Dalam hidup saya tidak terlintas sekalipun keinginan untuk mengejar kejayaan hidup yang diraih dengan cara-cara tidak bermoral. Hati yang jujur dan bersih pasti akan menolak perkara-perkara yang mendatangkan kerusakan (mudhorot) sosial dan ekonomi seperti korupsi, kolusi dan nepotisme.Tidak ada makhluk yang sempurna kecuali yang Maha Menciptakan sehingga Allah menjadikan manusia juga lengkap dengan segala kodrat dan keterbatasannya. Manusia bisa lapar, mengantuk, lelah, berbuat dosa, bahkan pasti mati. Korupsi, kolusi dan nepotisme adalah jenis dosa yang biasa dilakukan oleh manusia karena kelemahannya tersebut meskipun ada segelintir orang yang mencari-cari alasan pembenar untuk menghalalkan korupsi, kolusi dan nepotisme. Namun demikian kebencian terhadap korupsi, kolusi dan nepotisme tidak dapat diragukan lagi kini telah mendarah daging pada diri saya dan mungkin pada sebagian besar masyarakat. Hal ini tentu beralasan karena perbuatan tersebut merupakan jenis kejahatan kemanusiaan yang bisa melahirkan efek negatif (mudharat) yang sangat luas. Bahkan efek itupun tidak hanya sekali pernah saya rasakan langsung. Kebencian itu telah ada sejak Saya berkecimpung di dunia aktivisme yakni ketika masih duduk di bangku kelas 3 MA tepatnya pada tahun 1999. Semua organisasi yang saya geluti sejak menjadi mahasiswa seperti FKMM, Gemaratu, BEM dan LDK justeru memiliki visi dan komitmen yang sejalan dengan apa yang saya yakini bahwa korupsi, kolusi dan nepotisme adalah musuh bersama. Dapat saya yakinkan bahwa saya tidak pernah secara sendiri atau bersama-sama memerintahkan atau melakukan praktek-praktek tidak terpuji berupa korupsi, kolusi dan nepotisme untuk memperkaya diri ataupun orang lain. Untuk melawan niat-niat itu saya berusaha keras untuk menjadi orang yang selalu dapat menyenangkan orang lain semampu saya dengan cara-cara yang halal. Semoga Allah akan terus menguatkan saya dengan prinsip tersebut dan terus menjadi penopang kebutuhan para janda-janda tua dan lemah, marbot-marbot mesjid di samping rumah saya, para staf honorer di tempat saya bekerja, panti asuhan Darul Mubin, Panti Asuhan Harapan Kita, anak-anak yatim yang menjadi keluarga saya, saudara-saudari saya yang harus mengorbankan sekolah mereka untuk saya, para pegiat dakwah yang tidak kenal lelah. Doa mereka akan menyelamatkan saya. Semoga Allah menguatkan saya, aamiin.
b.     Prosentase tingkat Integritas
Skor prosentasi integritas pribadi saya 99,99 persen.Insyaa Allah diri ini akan tetap konsisten (istiqomah) untuk menolak korupsi, kolusi dan nepotisme dengan memberikan skor terhadap tingkat integritas diri saya pada angka 99,99 persen. Biarlah 0,01 persennya menjadi bagian sebatas nafsu dalam diri ini atau bagian dari sunnatullaah tentang kelemahan diri saya sebagai manusia yang tak luput  dari dosa dan khilaf karena saya memang diciptakan Allah SWT bukan sebagai malaikat yang tidak memiliki syahwat terhadap keduniaan. Penangkal yang mungkin bisa saya andalkan terhadap syahwat itu tentu saja adalah kesabarandan sifat qona’ah.
c.      Penjelasan Terhadap Skor Integritas Pribadi
Sebagai manusia saya sadar betul bahwa Tuhan menciptakan saya dengan banyak keterbatasan, meski secara fisik nampak sempurna. Namun tak dapat dipungkiri bahwa manusia diciptakannya lengkap dengan sayhwat ingin kaya, sifat lupa, dan tidak pernah merasa puas. Atas segala sifat manusiawi itu maka Allah membekali kita dengan kesabaran untuk tidak melakukan perbuatan zholim seperti mengambil yang bukan hak kita. Tingkat kesabaran seseorang akan bergantung pada tingkat keimanannya sebagai hamba dan batas kesabaran itu tidak lain adalah liang lahatnya. Hanya dengan menyelami dan mengamalkan sifat inisecara sungguh-sungguh disertai iringan rasa syukur in syaa Allah kita sanggup mempertahankan skor integritas kita.

 *****



BAGIAN KEDUA
Prisip Kehidupan

Sikap dan Pandangan terhadap Kecurangan dalam Kontestasi Politik
Taktik, strategi dan intrik selalu ada dan memang diperlukan dalam setiap pertarungan atau kompetisi apalagi dalam sebuah kontestasi politik dalam Pemilu atau Pilkada yang kerap mempertaruhkan banyak hal, seperti social and political cost, kedudukan dan kehormatan. Tidak jarang hal tersebut seringkali menyimpang menjadi kecurangan. Kecurangan dalam kontestasi politik memunculkan konflik yang tidak terhindarkan. Kepentingan yang begitu tajam dari para kontestan pemilu atau pemilukada menjadi sebab munculnya konflik. Namun apapun alasannya yang namanya pelanggaran atau kecurangan tetap harus dikenakan sanksi yang sesuai tingkat pelanggarannya. Karena pelanggaran besar atau kecil tetap saja akan menjadi pemicu adanya kerawanan akibat konflik kepentingan. Konflik kepentingan ini seringkali diperparah oleh tindakan oknum yang mengabaikan aturan atau suka menghalalkan segala cara. Sehingganya penegakan aturan menjadi salah satu upaya dalam menetralisir konflik yang tidak terhindarkan. Tidak ada alasan untuk mentolerir setiap bentuk pelanggaran aturan.
Kecurangan dalam pemilu akan sangat merusak prinsip dan kualitas demokrasi yang harganya sangat mahal. Kualitas demokrasi sangat ditentukan oleh kedewasaan berpolitik dan kesantunan menyikapi perbedaan.Sikap tersebut lahir dari sebuah proses dinamika yang panjang hingga aturan hukum dapat menempati posisinya yang superior. Bagi pelanggaran-pelanggaran ringan yang diakibatkan oleh ketidaktahuan maka tentu saja kita perlu menghadirkan kearifan dan kebijaksanaan kita dalam menyikapi keadaan tersebut. Sanksi peringatan tentu saja adalah salah satu bentuk alternatif sikap yang dapat ditempuh untuk kondisi-kondisi seperti itu.
Pengalaman pernah menunjukkan bahwa betapa sebuah kecurangan sangat melukai proses sebuah demokrasi. Salah satu contoh kasus yang pernah terjadi pada pemilu 2009 di kota Gorontalo yakni manipulasi perolehan suara pada pemilu 2009 di tingkat PPK salah satu kecamatan. Salah seorang caleg menjadi korban manipulasi suara dengan memanfaatkan jasa premanisme. Tindakan seperti ini sama sekali tidak boleh ditolerir. Pelanggaran sekecil apapun tidak boleh dibiarkan karena selain merusak tatanan juga sangat mengganggu rasa keadilan dalam berdemokrasi. ‘Anda melanggar, kami proses! Anda curang, kami sikat! Kredo ini mengandung prinsip yang tegas dan harus dipelihara serta didukung oleh siapapun.
Pengalaman Ketika Ditawarkan Gratifikasi
Secara pribadi ketika saya menghadapi sebuah situasi yang memberikan peluang untuk melakukan manipulasi seperti pada kasus ketika saya ditawarkan sejumlah uang gratifikasi oleh seseorang karena telah mendukung salah satu proyek pada program PNPM Mandiri Perkotaan, maka saya sampaikan pada orang tersebut bahwa sesuai aturan yang berlaku saya tidak berhak menerima pemberian apapun dari seluruh alokasi dana PNPM Mandiri perkotaan. Maka sejumlah uang itupun tidak saya sentuh sama sekali. Dalam kasus lainnya pula ketika Saya berusaha memperoleh status CPNS ditengah banyaknya calo yang berkeliaran maka tidak pernah terpikirkan untuk memanfaatkan jasa para calo tersebut.Pernah pula suatu ketika saya didesak-desak oleh beberapa tim sukses untuk menerima sejumlah uang, maka dengan santun saya menolak tawaran tersebut. Ketika akan ditemui di luar daerah pun saya beralasan untuk menghindari pertemuan yang mereka rencanakan.
Berdasarkan pengalaman, saya belum pernah menghadapi situasi dilematis dalam mencapai sesuatu namun harus melanggar aturan. Jikapun itu dalam keadaan terpaksa harus melanggar aturan maka paling tidak yang harus dipastikan adalah tercapainya konsensus yang sifatnya sementara atau dalam situasi force majeure perlu membangun komunikasi dan koordinasi dengan pihak-pihak berkompeten dalam mencapai konsensus darurat.
Dalam keadaan ketika suatu peristiwa tidak dtemukan atau tidak jelas landasan hukumnya maka yang perlu dilakukan adalah menempuh jalur koordinasi hirarkis kepada lembaga yang lebih tinggi untuk meminta pendapat atau petunjuk. Langkah terakhir bagi sebuah kebuntuan hukum dalam perundang-undangan tentu saja dengan memanfaatkan langkah hukum permohonan fatwa kepada mahkamah yang berwewenang sesuai ketentuan undang-undang.
Pandangan dalam Hal Penyelesaian Konflik
Dalam sebuah perkara yang pijakan hukumnya kurang jelas, maka cara-cara yang ditempuh dalam mengambil keputusan adalah dengan mencari alternatif solusi yang dapat menjadi konsensus bersama antara pihak-pihak yang berkompeten. Hakekatnya adalah bahwa setiap masalah pasti ada jalan keluarnya, maka oleh karena itu ikhtiar sekecil apapun menjadi sangat penting dalam situasi sesulit apapun walau hanya dengan membangun komunikasi. Prinsipnya adalah win-win solution artinya jangan sampai ada individu atau pihak yang dirugikan.

 *****


  
BAGIAN KETIGA
Kiprah Perjuangan di Dunia Aktivisme

Pengalaman dalam Dunia Aktivisme
Sebagai seorang aktivis maka tujuan akan perubahan itu adalah segala-galanya. Saya akui untuk melakukan sebuah perubahan itu tidaklah mudah. Namun perubahan sekecil apapun demi perbaikan masyarakat akan menjadi sebuah kontribusi yang sangat berarti dibandingkan dengan tanpa berbuat apapun. Secara pribadi saya sendiri pernah melakukan beberapa kegiatan yang alhamdulillah walaupun tidak seberapa, tapi insyaa Allah telah cukup mengurangi beban-beban yang seringkali dirasakan oleh masyarakat. Kegiatan tersebut antara lain adalah saya bersama teman-teman BEM UNG pernah melakukan advokasi terhadap karyawan PT. Rajawali (sekarang PG. Tolangohula) yang mengalami PHK sebagai imbas perubahan manajemen yang diterapkan oleh direksi yang baru, peran Saya pada saat itu adalah sebagai negosiator sekaligus orator pada saat aksi damai dalam rangka menuntut pemerintah untuk melakukan mediasi antara pihak manajemen dan karyawan.
Pada tahun 2004 Saya pernah berkontribusi dalam mensukseskan suksesi kenegaraan yang pertama kali menerapkan pemilihan langsung, yakni sebagai ketua KPPS Pemilu maupun Pilpres. Hal yang menarik adalah di TPS kami tercatat sebagai TPS yang paling cepat melakukan proses penghitungan suara di antara semua TPS di kelurahan Dulalowo, kota Gorontalo.
Selama lima tahun menjadi ketua LPM Saya sempat menginisiasi dan melaksanakan kegiatan pelatihan pelaksanaan jenazah. Hal ini dilaksanakan karena menyadari semakin berkurangnya para pelaksana jenazah saat ini sedangkan jumlah kematian terus meningkat setiap saat. Peran saya pada saat itu adalah sebagai fasilitator. Di periode kepemimpinan saya sebagai ketua LPM juga sempat mengusulkan pelebaran jalan Kalimantan pada musrenbang kota Gorontalo tahun 2007 yang alhamdulillah sekarang dapat dinikmati oleh masyarakat.
Ketika menjadi anggota BKM kelurahan Dulalowo saya juga sempat menginisiasi program-program yang terkait langsung dengan kebutuhan masyarakat, diantaranya adalah program dana bergulir sebesar Rp. 2.500.000.-/unit kelompok usaha kecil, pembuatan gerobak sampah di kelurahan Dulalowo, pembuatan drainase di kompleks rumah penduduk yang berada di sisi belakang kawasan barat kampus UNG dan pembangunan sebuah rumah layak huni di kelurahan Dulalowo Timur, jalan Pangeran Hidayat 1.
Sebagai bagian dari komponen masyarakat kelurahan Dulalowo sayapun terlibat dalam upaya pemekeran kelurahan Dulalowo Timur. Peran kami pada saat itu adalah sebagai anggota komite pemekaran. Tujuan dari upaya tersebut tentunya adalah dalam rangka memperjuangkan aspirasi masyarakat serta untuk mewujudkan pelayanan yang cepat dan efisien dalam urusan-urusan kemasyarakatan dan pemerintahan.
Ketika saya diamanatkan menjadi panitia amal penggalangan dana untuk Palestina dari warga masyarakat Gorontalo pada tahun 2015, momen tersebut memberi kesan yang dahsyat dalam hidup saya. Semula terselip kekhawatiran bahwa target 400 juta dari hasil penggalangan dana kemanusiaan tidak akan mudah dicapai, tapi alhamdulillaah atas izin Allah target itu terlampaui hingga mencapai lebih dari 500 juta. Soliditas, kerja keras dan keyakinan dan kepasrahan atas kuasa-Nya saya sadari adalah kunci sukses atas setiap proyek amal yang kita kerjakan.
Saya memiliki keyakinan bahwa setiap yang kita lakukan dan kita perjuangkan demi kepentingan orang banyak in syaa Allah akan selalu memperoleh dukungan positif dari banyak pihak. Sebagaimana yang telah saya lakukan selama ini, bahkan aksi-aksi tersebut in syaa Allah bersih dari segala tendensi pribadi karena niat-niat yang berorientasi keduniaan semata. Saya bekerja tulus semata-mata menganggap bahwa setiap amal untuk menyenangkan hati saudara kita itu adalah ibadah/sedekah. Dengan apalagi kita akan bersedekah bila materipun tak punya? Alhamdulillaah, apa yang telah saya kontribusikan untuk masyarakat telah sedikit dirasakan manfaatnya. Masyarakat semakin mudah dan cepat mengakses layanan dari pemerintah, usaha kecil masyarakat berkembang pesat, masyarakat dapat melakukan pengurusan jenazah keluarganya sendiri, terjadinya pertemuan yang membuahkan hasil positif antara karyawan dan manajemen PT. Rajawali Plantation, dan lain-lain.
Melihat betapa luar biasanya tantangan dalam dunia aktivisme dan keorganisasian seolah telah memupuk motivasi saya untuk berperan aktif lebih jauh lagi. Saya sangat berharap kemampuan yang saya miliki tidak akan mati terpendam dan harus diperhadapakan dengan tantangan yang lebih besar lagi. Saya melihat ada tantangan tersendiri di Bawaslu dan ini menjadi kesempatan berkontribusi lebih luas lagi pada masyarakat, bangsa dan negara.
Dalam dunia aktivisme saya dan kawan-kawan aktivis lainnya saling bahu-membahu dalam aksi-aksi advokasi dan memperjuangkan aspirasi masyarakat. Di antara kawan-kawan yang cukup berperan aktif bersamasaya tersebut adalah Bapak Arten Mobonggi yang berperan sebagai ketua komite pemekaran kelurahan Dulalowo Timur (sekarang dosen IAIN), Ghalib Lahidjun yang sempat menjadi koordinator tim advokasi gabungan antara BEM UG dan UNG dalam rangka memperjuangkan aspirasi karyawan PT. Rajawali (sekarang jubir Gubernur Gorontalo), Deddy K. Hamzah yang sempat menjadi ketua BEM UNG (mantan anggota DPRD Provinsi Gorontalo), Opick (artis) yang sangat membantu suksesnya penggalangan dana untuk Palestina, Farid Hudodo sebagi koordinator BKM Mawar, Rasyid Thalib sebagai sekretaris LPM dan Erna Hiola sebagai Bendahara LPM.
Dunia aktivisme telah memberikan sesuatu yang sangat luar biasa bagi karir kehidupan Saya. Berjuta pengalaman telah menjadi bekal yang begitu berharga dalam meniti kehidupan saya, baik dalam kehidupan sosial, agama, keluarga, dan keprofesian. Pengalaman-pengalaman itulah yang saya rasakan menjadi faktor penentu kesuksesan akademik saya hingga dinobatkan sebagai mahasiswa berprestasi UNG tahun 2014. Sayatelah membuktikan bahwa pengalaman saya selama ini dalam berbagai organisasi ternyata sangat bermanfaat dalam pekerjaan-pekerjaan yang terkait dengan kepemiluan khususnya dalam keanggotaan Bawaslu provinsi Gorontalo. Pengalaman dalam menerapkan strategi manajemen organisasi, manajemen konflik dalam organisasi, kemampuan public speaking, jaringan persahabatan adalah beberapa teknik membangun oraganisasi yang telah saya praktekkan ketika menjadi anggota Bawaslu provinsi Gorontalo.


*****


BAGIAN KEEMPAT
Visi dan Ekspektasi 

Bila Menjadi Anggota Bawaslu
Bawaslu adalah sebuah lembaga penyelenggara Pemilu yang mandiri dan dibentuk berdasarkan undang-undang nomor 15 tahun 2011. Hal ini harus dapat menjamin kewibawaan Bawaslu itu sendiri agar tidak dirongrong oleh pihak-pihak yang memiliki kepentingan tertentu apalagi jika kepentingan tersebut akan mencederai rasa keadilan. Pengambilan keputusan oleh Bawaslu tidak boleh terpengaruh oleh bentuk tekanan dan intimidasi apapun. Hal-hal yang perlu diwaspadai khususnya dalam rangka menjaga kewibawaan penyelenggaraan pemilu adalah intervensi penguasa, tekanan partai politik, pengusaha yang menjadi komprador penguasa atau pihak partisan, dan agen-agen kepentingan politik yang disusupkan ke lembaga-lembaga penyelenggara pemilu. Bawaslu harus mengambil langkah cerdas dalam membuka diri untuk menerima segala masukan dan laporan. Pihak manapun harus dihadapi secara profesional.
Mitra Kerja Pengawasan
Adapun pihak-pihak yang patut dijadikan sebagai mitra strategis dalam menjalankan fungsi-fungsi kepengawasan antara lain adalah kalangan media, akademisi/masayarakat ilmiah kampus, aparat kepolisian, LSM yang terlibat langsung dalam aktivitas pemantauan pemilu/KIPP, komunitas pemerhati teknologi, dan masyarakat. Peran serta berbagai pihak sangat diperlukan dalam rangka menciptakan suasana demokrasi yang berkualitas. Segala bentuk peran serta dari pihak manapun selama itu sejalan dengan misi Bawaslu harus dijadikan bahan pertimbangan, tapi bila terindikasi memiliki muatan-muatan tertentu maka harus diabaikan. Bawaslu bekerja untuk kepentingan bersama, bukan untuk memuluskan kepentingan pihak-pihak tertentu.
Sikap Menghadapi Intervensi
Intervensi dalam setiap penyelenggaraan suksesi politik hampir pasti ada. Maka harus ada strategi yang jitu untuk menghindarkan diri dari pengaruh tersebut. Saya telah membuktikan bahwa dengan cara-cara menghadirkan sikap-sikap berikut akan cukup menjaga diri kita dari resiko dintervensi :
-       Mempertegas kode etik keprofesian sebagai pengawas, seperti anggota Bawaslu tidak boleh berhubungan dan berkomunikasi secara intens dengan pihak-pihak peserta pemilu.
-       Menerapkan transparansi penanganan terhadap setiap kasus pelanggaran pemilu dengan memperkuat fungsi-fungsi kehumasan dan membangun kerjasama dengan media.
-       Memberi tenggat waktu yang cepat dan tegas terhadap proses penyelesaian setiap kasus pelanggaran, misalnya 5 hari tuntas atau dengan mengangkat slogan ‘Hari ini Anda Laporkan, Besok Kami proses!’. Dengan demikian tidak ada lagi kesempatan pihak-pihak tertentu untuk melakukan intervensi.
Orang-orang Yang Layak Didengarkan
Cinta dan persahabatan adalah pemanis kehidupan, sehingganya bila saya kehilangan teman atau cinta dari keluarga maka itu artinya saya telah kehilangan manisnya hidup. Bila berbicara tentang orang-orang yang patut saya dengarkan maka saya akan memberikan syarat terhadap orang tersebut. Pertama, orang tersebut tidak bermasalah dengan Tuhannya (terjaga kewajiban agamanya); kedua, orang tersebut sangat cerdas secara ma’nawiyah dan orang yang cerdas menurut Rasulullaah yaitu orang banyak mengingat kematian, biasanya kata-kata mereka lebih menyejukkan; ketiga, orang tersebut mau mendengarkan dan menghargai siapapun. Selain itu orang-orang yang patut kita dengarkan dalam kehidupan kita adalah mereka yang ada dalam lingkaran cinta sejati kita yaitu keluarga, karena merekalah pendukung utama kita saat kita bahagia atau saat kita terpuruk. I love my family, I want to hear them and I wanna close with them because they are my soul.

 *****
  


BAGIAN KELIMA
Pengalaman Kepemiluan  Dan Dunia Literatur

Pengalaman tentang Kepemiluan, Dunia Literatur dan Jurnalisme
Sejak masih dibangku sekolah SMA Saya sudah pernah mempraktekkan dan menerapkan konsep kepemiluan dan demokrasi di sekolah. Saya ingin katakan bahwa mungkin saya adalah ketua OSIS pertama di Indonesia yang pernah dipilih secara langsung oleh seluruh siswa dalam satu sekolah karena sesuai dengan inisiatif saya pada saat itu kepada pembina OSIS agar sistem pemilihan dilakukan secara langsung. Ketertarikan saya terhadap kepemiluan dan demokrasi sebenarnya berawal dari kekaguman saya terhadap salah seorang tokoh muda nasional berkharisma yang sempat saya idolakan sebagai calon presiden di penghujung era orde baru. Sejak saat itulah saya sudah mulai tertarik dengan segala hal yang terkait dengan proses politik termasuk yang namanya pemilu dan hampir tidak pernah melewatkan berita-berita yang terkait dengan isu-isu politik, hukum dan demokrasi. Minat saya pada kepemiluan dan demokrasi cukup beralasan karena sejak SD saya sudah akrab dengan praktek kepemimpinan, seperti ketua kelas, ketua OSIS, Ketua Forum Remaja, Ketua LPM,dan Ketua di berbagai Bidang Organisasi.
Karena begitu sulitnya untuk memperoleh buku-buku tertentu di Gorontalo menyebabkan saya kesulitan untuk mengakses buku-buku tentang kepemiluan dan demokrasi. Namun beberapa judul buku yang sempat saya baca yaitu Demokrasi dan Konstitusi karya Prof.Dr. Muh. Mahfud MD., SH.SU., Oposisi Demokrasi karya Redi Panuju, Politik dan Kekuasaan,dan Undang-Undang Penyelenggara Pemilu 2014 yang diterbitkan oleh Pustaka Yustisia. Judul-judul buku tersebut sangat penting dibaca oleh para penyelenggara negara karena menjelaskan tentang struktur ketatanegaraan Indonesia serta fenomena demokrasi di Indonesia yang mengalami banyak masalah dan hambatan.
Mega Trends 2000 karya John Naisbitt & Patricia Aburdene,  Das Kapital karya Karl Marks, Visi Peradaban Komprehensif, Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Fiqih Sunnah karya Sayyid Sabiq, The Holy Quran terjemahan Abdullah Yusuf Ali, Ihya Ulumuddin karya Imam Ghazali, Laa Tahzan karya Aidh al-Qorni, kitab Bulughul Maram, Fadho-ilul Amal karya al-Kandahlawi dan banyak lagi yang merupakan judul-judul buku yang pernah Saya baca.
Saya juga sedang menuntaskan membaca buku-buku tentang kepemiluan dan demokrasi. Di antaranya adalah Mengawal Demokrasi karya Gunawan Suswantoro, Membangun Pengawasan Partisipatif yang disusun oleh Bawaslu Jawa Barat, dan buku-buku lainnya.
Artikel yang pernah saya tulis dan sempat dimuat dalam bentuk buku kompilasi dan diterbitkandi media harian lokal diantaranya berjudul:
1.      Problem dan Tantangan Bawaslu Pasca Pengesahan Undang-Undang Pemilu
2.      3 Faktor Sukses Dalam Penyelesaian Sengketa Cepat Pilkada
3.      Visi Futuristik Gorontalo 2020
4.      Disfungsi Psikhis Elit dalam Hiruk Pikuk Pilkada
5.      DM 1 A (tentang pemilihan walikota Gorontalo tahun 2008)
6.      Pornografi dalam Wacana Demokrasi yang Kebablasan
7.      Tunjangan Perumahan Bandit Berdasi
8.      Antara Obsesi Karir dan Ambisi Politik
              Artikel-artikel tersebut sebagian besar merupakan argumentasi dan pandangan-pandangan pribadi Saya sebagai penulis. Sebagiannya didasarkan pada basis teori para pakar seperti Samuel Huntington, Francis Fukuyama, Rod Hague, Ibnu Aqil, Thamrin Amal Tomagola, dan juga berdasarkan atas nash-nash berupa dalil al-Qur’an dan al-Hadits. Sebagian tulisan dan naskah-naskah khutbah saya juga pernah termuat di beberapa media online yang telah ter-hits ribuan kali.



=== selesai ===