Minggu, 28 April 2013

Sekilas Tentang Riwayat Pribadi

Terlahir sebagai anak pertama dari sebuah keluarga sederhana dari pasangan almarhum Thamrin Masaudi dan Asma Ahmad, bertepatan dengan hari Senin tanggal 15 Oktober 1980, Saya diberi nama Nanang Masaudi. Saya tumbuh dan besar ditengah keluarga yang sangat menjunjung nilai agama dan adat. Walaupun hidup dalam keterbatasan, namun alhamdulillaah kedua orangtua Saya masih menganggap pendidikan adalah kebutuhan penting bagi masa depan anak-anak mereka. Setelah menyelesaikan pendidikan SD, almarhum ayah memutuskan untuk memasukkan Saya ke pondok pesantren. Momen penting tersebut terjadi pada saat dua tahun sebelum meninggalnya almarhum ayah Saya. Alhamdulillah, dibawah didikan pesantren itulah Saya menerima dasar-dasar pendidikan agama yang telah cukup menguatkan pemahaman agama Saya tentang Islam. Itulah barangkali yang menjadi harapan kedua orang tua Saya yang kesehariannya menghabiskan waktunya untuk memenuhi nafkah keluarga sebagai pedagang dan hampir tidak memiliki kesempatan untuk mendidik anak-anak.

Setelah menyelesaikan kuliah strata 1 di UNG pada tahun 2006, Saya mendedikasikan diri di almamater tersebut selama dua tahun sebagai pengajar tidak tetap. Bekerja sebagai seorang News Anchor (jurnalis salah satu televisi lokal sebagai reporter berita) Saya jalani sebagai pekerjaan sampingan untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Saat ini, setelah tiga tahun bekerja sebagai seorang guru madrasah berstatus PNS golongan III/a alhamdulillaah kehidupan yang Saya jalani semakin stabil. Bersama seorang isteri bernama Nurlaila Maksud dan tiga orang puteri bernama Aira Khairani (4), Alika ‘Izzunnisaa (2), dan Azkiyyah Ghinayya (0,5) Saya menjalani kehidupan Saya dengan bahagia sambil berusaha menerapkan konsep Islam di tengah keluarga kecil Saya. Tiga tahun sudah Saya menjalani kehidupan bersama keluarga kecil tercinta ditemani oleh sang Ibu mertua, Fatimah Kamarullah Di sebuah rumah sederhana tepatnya di kompleks perumahan Misfalah Rasaindo blok G nomor 6.

Di luar pekerjaan sebagai seorang guru Saya menjalani aktivitas sebagai seorang da’i (pendakwah). Kegiatan dakwah yang Saya jalani cukup beragam, diantaranya berupa ceramah, kajian islam, majlis ta’lim, menulis di blog, khutbah dan lain-lain. Waktu yang sangat terbatas memaksa Saya untuk melakukan manajemen waktu agar dapat menjalani segala aktivitas tersebut dengan lancar dan teratur. Apalagi disamping kegiatan dakwah tersebut ada beberapa organisasi yang juga membutuhkan kontribusi secara langsung, seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Gorontalo dan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Sombari. Aktivitas Saya di organisasi KNPI Provinsi Gorontalo kurang intens sebagai akibat dari mandeknya organisasi tersebut karena munculnya dualisme kepemimpinan. Obsesi untuk mendirikan yayasan Pendidikan bersama teman-teman aktivis untuk saat ini terhenti karena kendala kesibukan dan kekurangan dana. Organisasi lainnya yang Saya geluti saat ini (namun kurang intens) adalah Barindo Kota Gorontalo, HPA (Himpunan Pemuda al-Khairaat) kota Gorontalo, Badan Keswadayaan Masyarakat kelurahan Dulalowo Timur, dan Perguruan Silat Teratai Matahari.

Aktivitas Saya diluar pekerjaan sebagai guru menyebabkan Saya semakin sering melakukan interaksi sosial dengan orang-orang tertentu. Pertemuan-pertemuan tersebut selain dalam rangka menjalin silaturrahim juga dalam rangka urusan-urusan yang terkait dengan perihal dakwah, sosial-kemasyarakatan, ekonomi, pendidikan, politik, seni, jurnalistik, bahkan hukum. 

Patron Karakter dan Nilai-nilai Hidup

Bila ditanyakan apakah ada orang yang menjadi patron kuat dalam menapaki jalan hidup ini, maka jawabannya tentu saja ada. Selain Rasulullah SAW, para sahabat sahbiyahnya dan kedua orang tua tentunya, sosok Hasan al-Banna, Ahmadinejad, Muhammad Mursi, dan Mahfud MD adalah figur yang layak dijadikan sebagai patron . Nilai-nilai luhur yang begitu menarik untuk diteladani dari keempat tokoh tersebut adalah kesederhanaan, integritas dan keberanian mereka dan juga tentunya ketakutan mereka hanya kepada Allah SWT semata. Walau tidak mudah karena banyaknya godaan dan tantangan Saya terus berupaya dengan segala kemampuan diri untuk meneladani nilai-nilai dan karakter hidup mereka. 

Integritas Melawan KKN

Tidak ada makhluk yang sempurna kecuali yang maha menciptakan sehingga Allah menjadikan manusia juga lengkap dengan keterbatasanya. Manusia bisa lapar, mengantuk, lelah, berbuat dosa, bahkan bisa juga mati. Korupsi, kolusi dan nepotisme adalah jenis dosa yang biasa dilakukan oleh manusia karena kelemahannya tersebut meskipun ada segelintir orang yang mencari-cari alasan pembenaran untuk menghalalkan korupsi, kolusi dan nepotisme karena untuk melindungi kebenaran yang dia yakini. Insya Allah diri ini akan tetap konsisten (istiqomah) untuk memerangi korupsi, kolusi dan nepotisme dengan memberikan skor terhadap tingkat integritas diri Saya pada angka 99. Biarlah 1 persennya menjadi bagian yang terbatas pada nafsu dalam diri ini atau bagian dari sunnatullaah tentang kelemahan diri Saya sebagai manusia yang tak luput dari dosa dan khilaf karena Saya memang diciptakan Allah SWT bukan sebagai malaikat yang tidak memiliki nafsu. Namun demikian kebencian terhadap korupsi, kolusi dan nepotisme tidak dapat diragukan lagi kini telah mendarah daging pada diri Saya dan mungkin pada sebagian besar orang. Hal ini tentu beralasan karena perbuatan tersebut merupakan jenis kejahatan kemanusiaan yang bisa melahirkan efek negatif (mudharat) yang sangat luas. Bahkan efek itupun tidak hanya sekali pernah Saya rasakan langsung. Kebencian itu telah ada sejak Saya berkecimpung di dunia aktivisme yakni ketika masih duduk di bangku kelas 3 MA tepatnya pada tahun 1999. Semua organisasi yang Saya geluti sejak menjadi mahasiswa seperti FKMM, KAMMI, Gemaratu, BEM dan LDK justeru memiliki visi dan komitmen yang sama dengan apa yang Saya yakini bahwa korupsi, kolusi dan nepotisme adalah musuh bersama dan harus dibantai sampai ke akar-akarnya.