Selasa, 23 Agustus 2016

3 Hal Yang Paling Menentukan Dalam Penyelesaian Sengketa Pemilihan dengan Cara Cepat

Menjadi seorang pengawas pemilu ternyata tidaklah ringan. Banyak kewajiban yang harus dijalankan sebagai bentuk kewenangan seorang pengawas yang diamanatkan dalam undang-undang. Di antara kewenangan tersebut adalah melaksanakan tindakan-tindakan pencegahan pelanggaran dalam berbagai bentuk pendekatan, menerima dan memproses setiap laporan pelanggaran pemilihan, menerima-memeriksa dan memutus perkara politik uang, melakukan penanganan pelanggaran, dan menerima permohonan dan melakukan penyelesaian sengketa pemilihan. Dengan kewenangan-kewenangan ini maka pengawas pemilu dituntut untuk memahami aturan perundang-undangan serta dituntut mampu melaksanakan tugas dan kewenangan tersebut sebagaimana yang diamanatkan oleh undang-undang. Untuk menjalankan kewajiban-kewajiban tersebut tentunya membutuhkan performa fisik dan mental yang cukup mendukung, karena pekerjaan pengawasan tidak mengenal batas waktu dan batas tempat. Sebagai contoh bahwa dalam kewenangannya menyelesaikan sengketa pengawas pemilu dikenal metode penyelesaian sengketa dengan cara cepat untuk menyelesaikan perselisihan antar peserta pemilihan, misalnya terjadi keadaan dimana dua peserta pemilihan mendapat jadwal kampanye yang sama dalam satu zona di waktu bersamaan. Kondisi ini membutuhkan penyelesaian sesegera mungkin pada saat itu juga ditempat yang disepakati oleh para pihak yang bersengketa. Maka dalam situasi seperti ini ada 3 hal yang harus dimiliki oleh seorang pengawas pemilihan demi tercapainya penyelesaian sengketa, yaitu :
1. Kesigapan
    - Sigap memahami situasi
      Di setiap tahapan penyelenggaraan pemilihan seorang pengawas selalu dihadapkan dengan situasi yang dinamis. Dinamika inilah yang cenderung menimbulkan resiko konflik antar peserta pemilihan dan tim sukses. Kemampuan seorang pengawas dalam memahami setiap dinamika yang berpotensi konflik atau menimbulkan perselisihan menjadi hal yang penting dimiliki dalam upaya melakukan tindakan preventif maupun antisipatif. Oleh karena itulah seorang pengawas harus memiliki kesigapan untuk cepat memahami situasi di setiap gerak tahapan pemilihan.
    - Sigap koordinasi
Konflik atau perselisihan kerap menimbulkan ancaman terganggunya keamanan, baik keamanan diri maupun lingkungan. Dukungan personil keamanan menjadi standar baku yang tidak bisa diabaikan dalam setiap penanganan sengketa antar peserta. Begitupun dengan kehadiran unsur tokoh netral dalam upaya melakukan langkah persuasif antara pihak yang bersengketa perlu menjadi perhatian untuk dikoordinasikan sebelum menangani sengketa.
    - Sigap aksi
Setelah keadaan dapat dipahami dan dikoordinasikan dengan pihak terkait maka langkah selanjutnya adalah kesigapan seorang pengawas untuk segera beraksi untuk menangani sengketa. 
    - Sigap identitas
Setiap pihak yang bersengketa tentulah mengharapkan ada pihak yang tepat untuk menangani perselisihan yang terjadi. Dalam hal ini panwaslah yang secara resmi diberikan kewenangan untuk itu. Oleh karena itu maka identitas menjadi alat yang penting untuk memperknalkan diri seorang pengawas terutama kepada publik dan secara kusus kepada pihak yang bersengketa.
2. Keberanian
    - Berani mendatangi dan menangani
    - Berani menjadi pengendali
    - Berani menjadi pengambil keputusan
3. Ketepatan
    - Tepat situasi
    - Tepat lokasi
    - Tepat regulasi
Bila hal ini luput dari tindakan yang dilakukan oleh seorang pengawas pemilihan maka akan menimbulkan resiko kegagalan dalam penyelesaian sengketa bahkan bila ketiga-ketiganya tidak muncul dalam diri seorang pengawas maka bisa dipastikan resiko terburuknya adalah berakhir 'gatot' alias gagal total.


Selasa, 24 November 2015

Pia Saronde Tembus Istana Negara

Sebanyak 22 perusahaan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) memperoleh penghargaan produktivitas PARAMAKARYA tahun 2015. Penghargaan tingkat nasional itu diserahkan langsung oleh Presiden Jokowi pada Selasa (24/11) di Istana Negara, Jakarta. 
Menteri Ketenagakerjaan M Hanif Dhakiri mengatakan pemerintah Indonesia memberikan penghargaan PARAMAKARYA sebagai bentuk apresiasi kepada perusahaan yang telah berhasil menerapkan konsep kualitas dan produktivitas dengan baik.
Menteri Tenaga Kerja Hanif  Dakhiri mengatakan 22 perusahaan yang mendapatkan penghargaan PARAMAKARYA terdiri dari 11 perusahaan skala kecil dan 11 perusahaan skala menengah yang berasal dari berbagai wilayah Indonesia. Perusahaan milik pengusaha Gorontalo, Yunan Harahap menjadi salah satu penerima penghargaan tersebut.
Pengusaha asal Gorontalo, Yunan Harahap, SE menerima langsung penghargaan PARAMAKARYA dari Presiden RI,  Joko Widodo pada Selasa (24/11) di Istana Negara, Jakarta. Pengusaha yang dikenal sebagai owner  Pia Saronde ini sukses meraih penghargaan tersebut setelah melalui seleksi ketat dari juri independen tingkat nasional. Pengusaha muslim yang kini sedang mengembangkan sayap bisnisnya di bidang property ini sebelumnya juga sempat menjadi 5 besar nominator terbaik di ajang SNI award tingkat nasional pada tahun 2014. Beberapa usaha bisnis yang kini sedang digeluti oleh pengusaha tampan ini di antararnya adalah Pia Saronde, O Mart, dan Milana Hotel.
“Perusahaan-perusahaan UMKM yang mendapatkan penghargaan produktivitas PARAMAKARYA ini telah melalui tahapan-tahapan penilaian dan seleksi yang ketat dari auditor dan para juri independen. Kinerja perusahaan-perusahaan itu memang layak dijadikan contoh bagi UMKM lainnya agar bisa terus maju dan berkembang,”kata Hanif.
 Kriteria yang menjadi dasar penilaian antara lain kepemimpinan, perencanaan strategi, fokus pada pelanggan dan perluasan pasar, pengembangan kompetensi SDM dan organisasi, kelengkapan data, informasi dan analisa, manajemen proses dan hasil usaha.
 “Perusahan-perusahaan yang meraih penghargaan PARAMAKARYA adalah perusahaan-perusahaan unggul yang selalu memiliki kinerja yang baik dan selalu memperbaiki kinerjanya kearah yang lebih baik sehingga siap berkompetensi dalam era globalisasi,” kata Hanif.
Dikatakan Hanif Pemberian penghargaan adalah sebagai upaya untuk lebih memasyarakatkan konsep kualitas dan produktivitas sehingga mereka diharapkan dapat menjadi panutan didalam penerapan konsep kualitas dan produktivitas bagi perusahaan-perusahaan lain. (dikutip dari beberapa sumber)

Minggu, 20 September 2015

Khutbah Idul Adha 1436 H: TIGA PESAN MORAL IBADAH HAJI SEBAGAI SPIRIT KEBANGKITAN


السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الله أكبر )× (لا إله إلا الله، والله أكبر ، الله أكبر ولله الحمد
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَسْتَهْدِيْهِ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اهْتَدَى بِهُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.

            Panggilan Allah telah disambut, kalimat talbiyah terus bergema, takbir tahmid dan tahlil tak henti dikumandangkan untuk memuji kesucian dan ketinggian-Nya. Segala puji hanya layak kita panjatkan untuk-Nya, zat yang menguasai kerajaan langit dan bumi. Dialah Allah SWT yang hanya kepada-Nya segala ketinggian cinta dan pengorbanan kita persembahkan.
Hari ini milyaran ummat Islam di seluruh dunia merayakan hari yang agung, hari raya Idul Adha 1436 H. Di saat yang sama pula lebih dari 2 juta ummat Islam dari segala penjuru dunia berkumpul di Makkah mukarramah untuk memuji kebesaran-Nya dalam rangka menunaikan suatu kewajiban sebagaimana yang difirmankan Allah SWT:
وَلِلّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ اِلَيْهِ سَبِيْلاَ *
Artinya : “Dan Allah mewajibkan atas manusia haji ke Baitullah bagi orang yang mampu mengerjakannya” . (QS. Ali ‘Imran: 97).

Suara tangis haru dan ta’zhim ketika menatap ka’bah turut menghiasi kalimat-kalimat talbiyah para jama’ah haji. Bagi kita yang belum merasakan suasana haji di tanah suci-pun seolah tak kuat membendung air mata dan ingin rasanya segera menyentuh ka’bah serta ingin segera merasakan betapa indahnya getar iman kerinduan ketika berada di raudhoh, makam nabi kita nabiyyullah Muhammad SAW. Kalimat talbiyah itupun seakan-akan terdengar sampai di tempat ini dan terus menggugah spirit keimanan kita untuk ikut merengkuh mabrur di tanah suci Makkah.

لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لاَشَرِيْكَ لَكَ
Jama’ah Idul Adha rahimakumullah,
Idul Adha hari ini kembali menjadi momentum bagi setiap pribadi muslim untuk kembali melakukan napak tilas atas syari’at haji yang telah diwariskan oleh Nabi Ibrahim AS. Tepatlah kiranya di kala ummat Islam sedang mengalami berbagai problematika kekinian, maka patutlah kita melakukan napak tilas maknawiyah dan mengimplentasikan dalam kehidupan kita tiga pesan moral yang terkandung di balik pelaksanaan ibadah haji.

1.    Ukhuwah Islamiyyah (Persaudaraan Islam)
Kaum muslimin yang menunaikan ibadah haji di tanah suci diwajibkan mengenakan pakaian ihram tanpa jahitan. Nuansa putih yang mendominasi pemandangan Mekkah menjadi fenomena yang khas dalam ritual ibadah haji. Di Miqat Makany, di tempat di mana ritual ibadah haji dimulai, perbedaan dan pembedaan harus ditanggalkan. Semua harus memakai pakaian yang sama. Pengaruh-pengaruh psikologis dari pakaian harus ditanggalkan, hingga semua merasa dalam satu kesatuan dan persamaan. Tak ada lagi perbedaan dari sisi penampilan antara pejabat dan rakyat, antara raja dan jelata, antara si kaya dan miskin. Semuanya terlihat setara dengan pakaian yang tidak lagi menjadi simbol status sosial. Raja yang biasa mengenakan mahkotanya, harus menanggalkannya. Pejabat yang selalu berdasi, tak lagi dapat mengenakannya. Si kaya yang biasanya mengenakan pakaian yang mahal, tak dapat lagi memakainya dengan bangga.
Dengan mengenakan dua helai pakaian berwarna putih-putih, sebagaimana yang akan membalut tubuh manusia ketika ia mengakhiri perjalanan hidup di dunia ini, seorang yang melaksanakan ibadah haji akan merasakan jiwanya dipengaruhi oleh pakaian ini. Ia akan merasakan kelemahan dan keterbatasannya, serta pertanggungjawaban yang akan ditunaikannya kelak di hadapan Tuhan Yang Maha Kuasa. Ihram dapat disimbolisasi sebagai bentuk persamaan derajat kemanusiaan. Persamaan dan kesetaraan itulah yang menumbuhkan semangat persaudaraan ummat Islam. Tak ada sekat-sekat pemisah yang kerap menjadi hambatan bagi terwujudnya persatuan dan persaudaraan kaum muslimin. Faktor jabatan, kekayaan, perbedaan organisasi, perbedaan suku, dan status sosial lainnya yang  tidak disadari telah menumbuhkan sikap superior dan inferior di kalangan ummat Islam, tidak dikenal lagi di Mekkah.
Dalam kehidupan ummat Islam dewasa ini begitu sulit untuk menghindarkan diri dari perbedaan amal peribadatan kita. Perbedaan paham yang kerap terjadi di kalangan ummat Islam telah menjadi sebuah keniscayaan yang telah lama dikabarkan oleh Rasulullah, namun perbedaan itu tidak boleh menghancurkan sendi-sendi persaudaraan kita sebagai sesama muslim. Perbedaan adalah sebuah keniscayaan yang harus disikapi secara bijak berdasarkan petunjuk al-Qur’an, sunnah nabi dan nasehat para ulama.

Allah SWT berfirman dalam QS. Huud ayat 118-119:
وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ ٱلنَّاسَ أُمَّةً وَٰحِدَةً  وَلَا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَۚ إِلَّا مَن رَّحِمَ رَبُّكَ
 “Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu”.

Mereka yang tetap menjaga sikapnya sebagai seorang muslim dalam menghadapi keniscayaan perbedaan di antara ummat Islam, merekalah yang berhak meraih rahmat atau kasih sayang Allah seperti yang terkandung dalam ayat tersebut. Namun sebaliknya mereka yang menjadi pemicu percerai-beraian karena sikap sentimen yang tidak terkendali hingga saling menyesatkan bahkan mengkafirkan, mereka inilah yang menjadi sumber masalah di tengah ummat Islam. Kita tidak boleh terjebak dalam sikap dan tindakan untuk mencari kemenangan, tapi justeru menemukan dan menguatkan perkara yang mendekati kebenaran, karena kebenaran mutlak hanya milik Allah SWT. Kita tidak boleh pula terseret oleh arus perpecahan, tetapi justeru harus menguatkan persaudaraan dengan menghargai pendapat yang berbeda serta menghormati dan mencintai saudara kita yang tidak sependapat khususnya dalam wilayah khilafiyah fiqhiyah ijtihadiyah.

Simaklah dan renungkan firman Allah SWT :
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَة مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آَيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونٍَ 
Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan ni`mat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena ni`mat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (QS. Ali Imran: 103)

Dalam masalah khilafiyah kita dapat saling menghargai untuk menjadikan perbedaan itu menjadi sebuah rahmat, tetapi dalam perkara prinsip agama seperti masalah aqidah tauhid maka kita harus tegas menolak dan melawan yang telah nyata dalam kesesatan aqidah siapapun pelakunya.

2.    Mujahadah bisy- Syari’ah (Kesungguhan dalam Bersyari’at)
Pelaksanaan ibadah haji diawali dengan ihram dan diakhiri dengan melakukan tahallul membawa pesan penting dalam kehidupan kita bahwa seorang muslim harus senantiasa berkomitmen sungguh-sungguh dalam batasan-batasan syar’i khususnya pada perkara al-halal wal haram. Oleh karenanya pengetahuan tentang ilmu syari’ah menjadi perkara yang wajib dimiliki oleh setiap muslim. Tidak dibenarkan bagi setiap muslim hidup tanpa batas dengan mengabaikan pokok dan prinsip hukum syari’ah. Sama halnya dengan seorang yang beribadah haji ketika dia sedang ihram, maka tidak dibenarkan untuk melakukan hal-hal yang dilarang, bahkan perkara yang mubahpun menjadi larangan yang tidak boleh dilanggar seperti mengenakan penutup kepala bagi laki-laki dan mengenakan cadar bagi perempuan. Itulah konsekwensi dari pakaian ihram yang dikenakan. Demikian pula seorang muslim harus tunduk dan patuh terhadap setiap perkara yang diharamkan dan hanya beramal dengan apa yang dihalalkan Allah dalam kehidupan ini.

Dari An Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الْحَلاَلَ بَيِّنٌ وَإِنَّ الْحَرَامَ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا مُشْتَبِهَاتٌ لاَ يَعْلَمُهُنَّ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ وَمَنْ وَقَعَ فِى الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِى الْحَرَامِ
Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram pun jelas. Di antara keduanya terdapat perkara syubhat -yang masih samar- yang tidak diketahui oleh kebanyakan orang. Barangsiapa yang menghindarkan diri dari perkara syubhat, maka ia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya. Barangsiapa yang terjerumus dalam perkara syubhat, maka ia bisa terjatuh pada perkara haram...” (HR. Bukhari - Muslim)

Potret wajah negeri kita  menunjukkan bahwa betapa masih sulit bagi ummat ini untuk menggalakkan  nilai-nilai syar’i dan tegas dalam perkara halal dan haram. Padahal penduduk negeri ini mayoritas sebagai muslim dengan agama yang sempurna. Mudah sekali kita menemukan perikalu-perilaku yang tidak syar’i dalam kehidupan ummat Islam bahkan tidak mempedulikan lagi status halal-haramnya. Pergaulan bebas, kumpul kebo’, kos-kosan mesum yang tidak mempedulikan batasan-batasan syar’i berpotensi terjadi pembauran antara laki-laki dan perempuan hingga perzinahan masih mudah ditemukan dimana-mana. Budaya malu sudah mulai luntur. Kejahatan lingkungan marak terjadi di mana-mana hingga menimbulkan dampak alam dan sosial yang kian hari kian parah. Dalam mencari nafkahpun terkadang kita masih sering melihat segelintir orang yang menggunakan cara-cara yang batil seperti mengurangi takaran, penipuan, hingga korupsi. Mereka berprinsip, mencari yang haram saja susah, apalagi yang halal sehingga perilaku mereka cenderung bertipologi H3 (Halal Haram Hantam). Fenomena ini sudah dikabarkan Rasulullah dalam sabdanya:

يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لَا يُبَالِي الْمَرْءُ مَا أَخَذَ مِنْهُ أَمِنَ الْحَلَالِ أم من الْحَرَام
Akan datang suatu zaman dimana manusia tidak peduli apakah hartanya diperoleh dengan jalan halal atau haram.” (HR Bukhari)

Kesadaran tentang pentingnya kesungguhan dalam bersyariat harus terus kita bangun. Pembinaan ummat harus terus digalakkan dalam masalah-masalah fiqih. Kita galakkan revitalisasi gerakan hidup halal untuk masyarakat berkah.

3.    Harokah Nahdhoh (Gerakan Kebangkitan)
Pelaksanaan ibadah haji begitu sarat dengan pergerakan. Dari satu tempat menuju ke tempat yang lain, dari satu rukun ke rukun haji yang lain. Para jamaah haji memasuki miqot masing-masing dibarengi dengan mengenakan pakaian ihram, menuju mekkah untuk melakukan thawaf, di bukit shafa dan marwah berlari-lari kecil untuk sa’i. Selanjutnya menuju arafah untuk wukuf, kemudian mabit di muzdalifah, dilanjutkan ke mina untuk melontar jumroh dan kembali ke Mekkah untuk melakukan thawaf.
 Begitulah gambaran prosesi ibadah haji yang begitu sarat dengan aktivitas yang dinamis sambil memperbanyak dzikir kepada Allah. Salah satu contoh ritual ibadah haji yang sarat makna itu adalah sa’i sebagai napak tilas apa yang pernah dilakukan oleh Hajar dalam kesulitannya menemukan sumber air di antara bukit shafa dan marwah.  Hajar tidak duduk termangu menunggu keajaiban dari langit. Ia berlari ke sana ke mari dari satu bukit tandus ke bukit tandus lainnya mencari air. Ia tidak duduk termenung dan menangis tanpa daya. Ia gunakan segenap kekuatan kakinya, kehendaknya, dan pikirannya dengan terus mencari, bergerak, dan berjuang tanpa henti. Sehingganya sa’i dapat dismbolisasikan sebagai perjuangan tanpa henti dan tak kenal lelah. Sedangkan thawaf merupakan simbolisasi ke-ilahian yang universal. Jumroh merupakan simbolisasi perlawanan terhadap kebatilan dan Wukuf di Arafah merupakan simbolisasi kearifan manusia.
Seperti halnya dinamika prosesi dalam ibadah haji maka seperti itu pula perjuangan ummat Islam untuk mewujudkan khairu ummat (ummat terbaik). Cita-cita ini menjadi satu rangkaian utuh bersama terwujudnya kebangkitan Islam yang akan meneteskan embun-embun kebaikan dan kasih sayang di setiap jengkal bumi Allah. Islam yang kelak akan menjadi lokomotif bagi peradaban bangsa-bangsa di dunia. Itulah spirit moral yang harus terus tumbuh dan menjadi energi maknawi bagi setiap muslim sejati.
كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah...” (QS. Ali Imran : 110)
Langkah terpenting dari sebuah gerak kebangkitan adalah memulai dari diri sendiri, kemudian keluarga dan masyarakat. Kemudian, menyadari persoalan pokok ummat saat ini yaitu kejahiliyahan yang melanda ummat Islam dan marodhunnafs yakni aspek mentalitas kaum muslimin yang mengalami pelemahan potensi seperti melemahnya keberanian, melemahnya komitmen terhadap Islam, dan melemahnya ketaatan terhadap Allah. Maka sudah sepatutnya setiap kita harus memiliki peran dan bergerak aktif di semua lini kehidupan, baik itu di lini pemerintahan, lembaga legislatif, ormas dan yayasan, maupun lembaga-lembaga pendidikan untuk melakukan perbaikan ummat menuju tranformasi peradaban yang menjadi cita-cita kita bersama.
Masih banyak anggota keluarga muslim yang buta terhadap ajaran agamanya sendiri, banyak pula kaum muslimin yang terperangkap dalam kubangan gaya hidup hedonis dan sekuler hingga membuat gerak kebangkitan ini terus mengalami pelambatan. Tak ada cara selain terus memacu gerak kebangkitan kita agar terus melaju tanpa henti.
وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ
"Dan katakanlah: Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mu’min akan melihat pekerjaanmu itu..." (QS. At-Taubah: 105)

Jama’ah ‘ied rahimakumullaah,
Inilah 3 pesan moral dari prosesi pelaksanaan ibadah haji yang tentunya kita harapkan dapat terpateri secara implementatif dalam kehidupan keluarga dan masyarakat muslim. Agar ketiga pesan moral ini tidak terhenti hanya pada simbolisasi tanpa implementasi hingga menjadikan kita hanya unggul mayoritas tapi tidak berkwalitas, maka kesemuanya tentu harus bermuara pada sebuah pengorbanan nyata.
Akankah kita siap mengorbankan ke-akuan dan sikap ashobiyyah (sentimen kelompok) kita demi terwujudnya ukhuwah islamiyyah hingga sampai pada derajat itsar yakni mendahulukan saudara kita di atas segala kepentingan pribadi dan kelompok atau jama’ah kita? Akankah juga kita siap mengorbankan syahwat hewaniyah  kita demi sebuah ketaatan yang tanpa syarat terhadap segala perintah dan larangan Allah SWT kemudian mempertegas kembali pemahaman dan sikap kita terhadap perkara halal dan haram? Akankah juga kita siap berkorban untuk meninggalkan zona kenyamanan kita selama ini kemudian bergerak menuju pada sebuah sikap kepedulian terhadap urusan agama ini, mengorbankan sebagian waktu kita untuk berfikir dan bekerja demi kembalinya izzatul Islam wal muslimin? Jika kita siap, maka itulah qurban yang juga bernilai tinggi di sisi Allah SWT. Allahu akbar walillaahil hamd!
Semoga Allah tidak hanya memudahkan jalan kita untuk menunaikan syari’at haji ke tanah suci Makkah, namun sekaligus menuntun kita dengan taufik-Nya agar dapat merekonstruksi hikmah qurban dan nilai-nilai ibadah haji dalam kehidupan kita.

Dengan sepenuh hati marilah kita doakan negeri ini beserta pemimpin dan rakyatnya agar  senantiasa berada dalam naungan dan bimbingan Allah SWT, amiin yaa robbal ‘aalamiin.

(Lanjutkan dengan doa) :
Ya Allah, perbaikilah agama kami untuk kami, karena ia merupakan benteng bagi urusan kami. Perbaiki dunia kami untuk kami yang ia menjadi tempat hidup kami. Perbaikilah akhirat kami yang menjadi tempat kembali kami. Jadikanlah kehidupan ini sebagai tambahan bagi kami dalam setiap kebaikan dan jadikan kematian kami sebagai kebebasan bagi kami dari segala kejahatan.

Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum muslimim, campakkanlah pelaku syirik dan kemusyrikan, kekalkanlah para penegak agama Islam. Jadikanlah Negara ini aman dan tenteram, demikian pula seluruh negeri Islam. 

Ya Allah, ampunilah dosa kaum muslimin dan muslimat, mukminin dan mukminat, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar, Dekat dan Mengabulkan doa.

Ya Allah, jadikanlah mereka (para jamaah haji) haji yang mabrur, sa’i yang diterima, dosa yang diampuni, perdagangan yang tidak akan mengalami kerugian.

Yaa Allah yaa Rahiim yaa Rahmaan, walau kami tahu bahwa Engkau yang Maha Memelihara dan Yang Maha Memberi makhluk-Mu, namun dalam hati ini ada rasa tak tega melihat mereka yang lemah dan kekurangan, ada airmata yang menetes karena sedih dan haru. Yaa Allah, beri kami kekuatan untuk dapat menghilangkan kesulitan kaum yang lemah dan lebihkan apa yang ada di tangan kami agar kami dapat berbagi dengan mereka. Engkau yang telah menghadirkan kesedihan dan keharuan ini di hati kami dan hanya kepada-Mu pula kami memohon pertolongan.

Yaa Allah, selamatkanlah ummat ini dari perselisihan yang dapat membawa perpecahan dan kebinasaan. Anugerahkanlah kepada kami daya dan upaya untuk memegang tali agama-Mu dan jangan cerai beraikan kami karena kebodohan kami.

Yaa Allah yaa Tuhan kami, kami memohon limpahan rahmat, taufik dan hidayah-Mu bagi pemimpin-pemimpin dan seluruh rakyat di negeri tercinta ini. Mantapkanlah semangat dan tekad para pemimpin kami dengan penuh kesabaran dan bertawakkal kepada-Mu dalam memikul tanggungjawab memajukan daerah dan negara ini agar dicintai, disanjung dan disegani oleh rakyatnya, dihormati oleh bangsa-bangsa di dunia dalam ri’ayah dan naungan-Mu.

Aamiin yaa robbal ‘aalamiin…

  


KHUTBAH KEDUA (Jika diperlukan) :

اللهُ اَكْبَرْ (3×) اللهُ اَكْبَرْ (4×) اللهُ اَكْبَرْ كبيرا وَاْلحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ الله بُكْرَةً وَ أَصْيْلاً لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَللهِ اْلحَمْدُ. اْلحَمْدُ للهِ عَلىَ اِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَاَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ لَهُ تَعْظِيْمًا لِشَأْنِهِ وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى اِلىَ رِضْوَانِهِ اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثيْرًا. اَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا اَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَزَجَرَ.وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهّ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى اِنَّ اللهَ وَمَلآ ئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ

اَللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ بِالإِسْلاَمِ وَلَكَ الْحَمْدُ بِالإِيْمِانِ وَلَكَ الْحَمْدُ بِالْقُرْآنِ وَلَكَ الْحَمْدُ بِالأَهْلِ وَالْمَالِ وَالْمُعَافَاةِ لَكَ الْحَمْدُ بِكُلِّ نِعْمَةٍ أَنْعَمْتَ بِهَا عَلَيْنَا.
سُبْحَانَكَ لاَ نُحْصِيْ ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ فَلَكَ الْحَمْدُ حَتَّى تَرْضَى وَلَكَ الْحَمْدُ إِذَا رَضِيْتَ.
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى عَبْدِكَ ونَبِيِّكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِيْنَا وَارْحَمْهُمْ كَمَا رَبَّوْنَا صِغَارًا.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا رَبَّنـَا إِنَّكَ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ.
اَللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلاَهَا
اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِيْ هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِيْ فِيْهَا مَعَاشُنَا وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِيْ إَلَيْهَا مَعَادُنَا وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِيْ كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ.
اَللَّهُمَّ اجْعَلْهُمْ حَجًّا مَبْرُوْرًا وَسَعْيًا مَّشْكُوْرًا وَذَنْبًا مَغْفُوْرًا وَتِجَارَةً لَنْ تَبُوْرًا

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ شَبَابَ الْمُسْلِمِيْنَ وَحَبِّبْ إِلَيْهِمُ الإِيْمَانَ وَزَيِّنْهُ فِيْ قُلُوْبِهِمْ وَكَرِّهْ إِلَيْهِمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوْقَ وَالْعِصْيَانَ وَاجْعَلْهُمْ مِنَ الرَّاشِدِيْنَ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ يَا حَيُّ يَا قَيّوْمُ يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ يَا مُجِيْبَ دَعْوَةِ الْمُضْطَرِّ إِذَا دَعَاكَ نَسْأَلُكَ أَنْ تُعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِميْنَ وَأَنْ تُذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَأَنْ تُدَمِّرَ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَأَنْ تَجْعَلَ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا مُطْمَئِنًّا وَسَائِرَ بِلاَدِ الإِسْلاَمِ وَالْمُسْلِمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ أَفْرِغْ عَلَيْهِمْ صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَهُمْ وَانْصُرْهُمْ عَلَى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّهِمْ.
رَبَّنَا اصْرِفْ عَنَّا عَذَابَ جَهَنَّمَ إِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا.
اَللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لاَ يَنْفَعُ وَمِنْ قُلُوْبٍ لاَ تَخْشَعُ وَمِنْ نُفُوْسٍ لاَ تَشْبَعُ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ. وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ. وَالْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.