Minggu, 30 Juli 2017

PROBLEM DAN TANTANGAN BAWASLU PASCA PENGESAHAN UNDANG-UNDANG PEMILU

Penulis : Nanang Masaudi
(Koordinator Divisi Pencegahan Bawaslu Provinsi Gorontalo 2016-2017)

nanangmasaudi.blogspot.com - Setelah melalui dinamika yang cukup panjang sejak dibentuknya pansus RUU Penyelenggaraan Pemilu pada 28 Oktober 2016, akhirnya RUU tersebut baru dapat disahkan secara aklamasi pada tanggal 21 Juli 2017 dalam rapat paripurna DPR-RI meski rapat tersebut masih diwarnai dengan aksi walk-out 4 fraksi di DPR yaitu fraksi Gerindra, fraksi PAN, fraksi Demokrat dan fraksi PKS. Secara umum Undang-Undang Penyelenggaraan Pemilu tersebut mengatur tentang penyelenggara pemilu, penyelenggaraan pemilihan umum legislatif, dan penyelenggaraan pemilihan umum presiden dan wakil presiden. Beberapa perubahan signifikan yang sempat menjadi isu krusial pembahasan RUU diantaranya menyangkut kedudukan dan kewenangan penyelenggara pemilu. Badan Pengawas Pemilu sebagai salah satu unsur penyelenggara pemilu menjadi lembaga penyelenggara yang semakin kuat kedudukannya dalam undang-undang tersebut.
Secara struktural kini pembentukan Badan Pengawas Pemilu yang bersifat tetap atau permanen akan sampai ke tingkat kabupaten/kota seperti struktur lembaga KPU yang sejak lama telah bersifat tetap sampai ke tingkat kabupaten/kota. Penerapan peningkatan struktur kelembagaan Bawaslu yang diamanatkan dalam undang-undang tersebut paling cepat baru dapat diterapkan setahun setelah Undang-Undang Pemilu disahkan oleh DPR. Bersamaan itu pula penambahan jumlah anggota Bawaslu tingkat provinsi dan kabupaten/kota dari 3 menjadi 5-7 komisioner akan disesuaikan dengan tingkat coverage yang diawasi. Sementara itu untuk pengawas ad-hoc dari tingkat kecamatan sampai TPS tetap diberlakukan seperti pada undang-udang penyelenggara pemilu yang berlaku sebelumnya.  Penguatan kelembagaan pengawas pemilu dirasakan perlu dan mendesak karena didorong oleh sebuah komitmen yang kuat dalam upaya meningkatkan peran dan fungsi pengawas pemilu di setiap level tingkatan struktur dalam mengawal proses penyelenggaraan pemilu agar benar-benar bertumpu pada asas-asas dan prinsip penyelenggaraan pemilu.
Di periode kepemimpinan Bawaslu RI 2017-2022 lembaga ini meluncurkan sebuah tagline atau slogan baru yakni Bersama Rakyat Awasi Pemilu, Bersama Bawaslu Tegakkan Keadilan Pemilu’. Slogan ini diharapkan tidak saja sebagai pemicu energi dan motivasi seluruh jajaran tetapi harus menjadi arah penting penguatan strategi pengawasan pemilu saat ini hingga di masa yang akan datang Bawaslu kelak menjadi lembaga supreme dalam pengawasan proses penyelenggaraan pemilu dan penegakan hukum pemilu. Pencegahan dan penindakan pelanggaran pemilu yang selama ini menjadi core strategy pengawasan yang diterapkan oleh Bawaslu kini menghadapi tantangan yang semakin dinamis dan canggih. Isu-isu yang sempat santer terdengar tentang bentuk-bentuk pelanggaran pemilu yang makin berkembang akhir-akhir ini hingga isu pemanfaatan teknologi canggih sebagai modus kecurangan pemilu harus disikapi secara arif oleh Bawaslu untuk terus mengembangkan strategi pengawasannya. Program-program pengawasan yang melibatkan berbagai kelompok dan komunitas masyarakat yang terus menerus digencarkan dalam berbagai event perlu terus digagas dan dikreasikan. Mengingat masih rendahnya peran serta masyarakat untuk terlibat secara partisipatif dalam pengawasan pemilu yang ditunjukkan oleh masih tingginya grafik kesenjangan antara laporan masyarakat dan temuan pengawas pemilu, maka  juga sudah sewajarnya Bawaslu perlu mempertegas eksistensi program pengawasan partisipatifnya.
Dengan bertambahnya kewenangan-kewenangan strategis yang diamanatkan undang-undang kepada Bawaslu seperti kewenangan untuk menerima laporan, memeriksa, dan memutus pelanggaran TSM (Terstruktur, Sistematis, dan Masif),  hal tersebut menjadi tantangan bagi lembaga ini untuk memaksimalkan peran dan fungsi yudikatifnya untuk menciptakan sebuah formulasi hukum yang tepat sekaligus mengukur tingkat kerawanan dan mengantisipasi dampak sosial politik atas penerapan sanksi pembatalan calon atau peserta pemilihan ditengah suasana dengan tensi politik yang bergejolak. Begitupun halnya dengan kewenangan untuk menerima dan memutus permohonan sengketa pemilihan juga menuntut Bawaslu di tengah waktu tahapan pilkada, pileg dan pilpres yang berhimpit-himpitan untuk segera memastikan hadirnya para pengawas pemilu di daerah yang sanggup berperan sebagai mediator dan adjudikator sengketa pemilihan yang benar-benar terlatih.
Disamping beragam tantangan di atas, Bawaslu juga terus berupaya untuk secara serius menemukan solusi bagi problem dan tantangan berikut ini:
1.    Capacity Building Bawaslu Kabupaten/Kota
Penguatan struktur kelembagaan pengawas pemilu mempunyai arti penting tidak saja terhadap peningkatan peran dan fungsi pengawas pemilihan di daerah, namun juga memberikan efek positif terhadap aspek psikologis para pengawas di daerah yang selama ini memiliki masalah kepercayaan diri dengan fungsi dan kewenangannya yang bersifat ad-hoc. Perubahan status kelembagaan Panwaslu yang kini bersifat tetap dan berubah nama menjadi Bawaslu memunculkan tantangan baru pula berupa penyiapan dan penguatan aspek sumber daya manusia. Tahapan pemilihan sudah di depan mata dan banyak beban tanggungjawab yang akan bertumpu di level kabupaten/kota di awal tahapan, ditambah lagi belum terbentuknya lembaga sekertariat yang harus dikepalai oleh pejabat setingkat eselon III. Kondisi ini benar-benar memaksa lembaga ini untuk berjibaku dengan program-program peningkatan kapasitas pengawas pemilihan dari level menengah sampai ke tingkat bawah.
Tidak kalah pentingnya dalam upaya menekan persoalan SDM yang sangat mungkin terjadi maka Bawaslu perlu menerapkan sistem meritokrasi dengan mempertimbangkan aspek-aspek yang dimiliki oleh calon-calon komisionernya yang akan direkrut di daerah, seperti kemampuan teknis dan verbal, pengalaman, mental kepengawasan, keahlian, dan terutama integritas. Begitupun dengan formasi keanggotaan, kombinasi gabungan berdasarkan bidang keilmuan atau latar pengalaman pada unsur keanggotaan Bawaslu juga penting untuk diadaptasikan. Bidang keahlian hukum, komunikasi, politik, kepemiluan, pengalaman keorganisasian dan pengalaman birokrasi akan menjadi kombinasi yang ideal bila disesuaikan dengan kebutuhan divisi yang ada.
2.    Pertaruhan Kepercayaan Publik Bawaslu
Bawaslu dengan kewenangannya yang semakin besar sebagaimana yang telah diamanatkan undang-undang maka akan diiringi pula dengan meningkatnya ekspektasi publik terhadap peran lembaga tersebut dalam mengawal pelaksanaan demokrasi di Indonesia. Catatan sejarah pemilu di Indonesia tidak pernah lepas dari permasalahan dan pelanggaran yang kerap mencederai asas dan prinsip pemilu demokratis. Oleh karena itu posisi Bawaslu akan sangat vital dalam upaya menciptakan kualitas legitimasi hasil pemilihan umum. Tingkat kepercayaan publik terhadap Bawaslu yang bertengger pada angka 71 persen berdasarkan hasil survey yang dirilis Lembaga Survei Indonesia (LSI) bekerja sama dengan lembaga survei asal Washington DC, IFES di penghujung tahun 2013 benar-benar dipertaruhkan pada tahun-tahun politik menjelang pilkada 2018 dan pemilu 2019.
Pada tahun 2016 KPU sudah merasakan terpuruknya tingkat kepercayaan publik terhadap lembaga tersebut yang tesungkur di angka 44 persen yang boleh jadi berkorelasi dengan kualitas penyelenggaraan pemilu tahun 2014. Upaya yang paling efektif bagi Bawaslu untuk mempertahankan atau meningkatkan public trust terhadap lembaganya dengan kewenangan yang semakin besar ini tentu saja adalah dengan cara memanfaatkan ‘palu hukum’ pemilu yang ada dalam genggamannya secara tegas, berefek jera dan berdampak pada aspek pencegahan.
3.    Disfungsi Tanggungjawab Fungsional Sekertariat dan Style Leadership Komisioner
Selama ini ada anggapan umum bahwa dinamika eksternal pada event politik adalah tantangan terberat yang dihadapi Bawaslu sebagai salah satu unsur lembaga penyelenggara pemilu. Padahal sesungguhnya dinamika pada internal lembaga jauh lebih berat menguras energi pada jajarannya dan dihadapi hampir setiap saat. Mencermati berbagai keputusan DKPP terhadap penyelenggara pemilu di daerah khususnya di jajaran Bawaslu/Panwaslu yang ternyata tidak saja menjatuhkan vonis pada komisioner tetapi juga pada para staf pegawai Bawaslu menggambarkan adanya beberapa persoalan pada internal tubuh lembaga pengawas di daerah yang perlu dihadapi secara arif dan bijaksana. Persoalan itu terutama menyangkut dosis kewenangan antara komisioner dan sekertariat lembaga yang kadang-kadang saling bergesekan. Hal ini diakibatkan oleh lemahnya pola komunikasi dan pemahaman terhadap wilayah kewenangan dan tanggungjawab masing-masing unsur. Bila tanggungjawab fungsional sekertariat dapat terkontrol dengan baik sehingga dapat dijalankan dengan tepat sesuai ketentuan maka tentunya akan cukup mendukung stabilitas kinerja kelembagaan yang diharapkan. Begitupun sebaliknya bila style leadership unsur-unsur pimpinan lembaga mampu menciptakan pola komunikasi dan koordinasi yang lebih luwes maka tentu saja akan memberi kontribusi bagi terwujudnya suasana internal kelembagaan yang kondusif. Interaksi-interaksi ringan dalam membangun suasana akrab antar semua unsur pimpinan sebaiknya juga diprogramkan dengan jelas selain interaksi personal yang terjadi secara spontan di lingkungan kerja maupun di luar kantor.
Problem berikutnya juga adalah birokrasi sekertariat Bawaslu di daerah masih didominasi oleh staf pegawai yang dipekerjakan oleh pemerintah daerah otonom. Kondisi ini membuka celah besar bagi elit dan aktor-aktor politik untuk memanfaatkannya demi kepentingan politik. Para staf yang ditempatkan oleh pemerintah daerah di lembaga Bawaslu memiliki kecenderugan untuk meng’komoditas’kan loyalitas mereka dengan materi atau jabatan kepada pihak-pihak tertentu. Sense of belonging para staf daerah sangat lemah terhadap Bawaslu bahkan mereka dapat membentuk sel kubu tersendiri dalam tubuh lembaga sehingga sangat mengancam soliditas, harmonisasi dan netralitas lembaga penyelenggara pemilu. Bahkan hal ini sangat potensial memunculkan kotak-kotak diametral di tubuh internal lembaga. Olehnya itu, pembinaan yang ketat dan intensif terhadap staf pegawai di daerah perlu diprogramkan secara terarah. Penempatan pegawai organik Bawaslu RI  di daerah juga dapat menjadi solusi teknis agar secara individu para staf sekertariat memiliki tanggungjawab subordinatif secara vertikal pada lembaga tingkat pusat.

SABAR, BERAT DIAMALKAN NAMUN INDAH DI PUNCAKNYA

nanangmasaudi.blogspot.com - Setiap kita pasti akan mengalami atau sering mengalami keadaan hidup yang berdampak pada hilangnya perasaan bahagia dan ketenangan. Di antara contoh perkara kehidupan yang menghimpit batin manusia itu telah Allah sebutkan di dalam firman-Nya: “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan”. (QS. Al-Baqarah: 155).

Ketakutan yang kerap melahirkan kegelisahan atau stress dan frustasi boleh jadi dikarenakan banyak hal, di antaranya adalah rasa takut ditinggalkan jabatannya, takut kehilangan nama baiknya, takut jatuh dari kejayaannya, dan takut ditimpa kekalahan dan kehinaan. Itulah contoh di antara beberapa cobaan yang Allah berikan. Sebagian manusia memiliki pandangan yang sempit tentang cabaan Allah. Di antara mereka ada yang hanya mengenal keluh kesah saat ditimpa cobaan. Adapula yang hanya mengenal putus asa saat mengalami frustasi dan terpaksa menempuh cara yang sesat dalam mengakhiri cobaan, terkadang malah menghindarinya dengan mengakhiri hidup. Na’uudzu billaahi min dzaalik!
Sabar adalah ‘jodoh’ dari setiap cobaan, oleh karena itu bila setiap cobaan hidup dipasangkan dengan perkara yang bukan jodohnya maka yang akan terjadi adalah masalah di atas masalah dan akhirnya hidup menjadi berantakan. Bahkan tidak jarang ketika seseorang menjodohkan masalahnya dengan putus asa maka yang terjadi adalah ‘perceraian’ antara orang tersebut dengan kehidupan. Jadi, bagaimanakah Allah memberi formula yang tepat bagi setiap cobaan hidup yang Dia berikan kepada hamba-Nya? Berdasarkan petunjuk Allah dalam firman-Nya:
Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik),” (QS. ar-Ra’d: 22)
Berikut ini adalah cara untuk menghadirkan sikap sabar dalam menghadapi setiap cobaannya berdasarkan petunjuk di dalam Al-Quran maupun hadits Rasulullah.
Menerima Kehendak-Nya
Berusaha keraslah untuk tetap menjaga kestabilan iman dan keseimbangan jiwa saat badai kehidupan menerpa. Pandanglah setiap pergerakan dinamika kehidupan kita seperti sedang menikmati film inspiratif yang menegangkan sekaligus menyenangkan karena kita yakin bahwa setiap berakhirnya satu dinamika hidup maka akan dilanjutkan dengan plot baru yang akan memberi warna baru pula dalam suasana kejiwaan kita. Begitulah cara Allah mengajarkan kita tentang warna-warni kehidupan sekaligus mengarahkan kita untuk memahaminya kemudian menerimanya dengan ikhlas. Telah menjadi sebuah sunnatullah bila hidup manusia bergerak secara dinamis, ibarat kurva grafik yang selalu naik turun. Seperti silih bergantinya siang dan malam, maka demikian pula dinamika kehidupan manusia yang akan mengalami silih bergantinya duka dan bahagia, kemenangan dan kekalahan, serta kesulitan dan kemudahan. Terhadap setiap masalah dalam hidup kita maka hadapi, hayati dan nikmatilah.
Mengharap-Nya
Jadikan hanya Dia tempat kita mengadu, memelas, dan meminta. Jangan berharap dari selain-Nya. Kalaupun ada yang menjadi sebab jalan keluar maka itu hanyalah perantara. Dia-lah pemberi masalah dan Dia pula pemberi jalan keluar. Dia menghadirkan duka dan Dia pula yang menghadirkan bahagia. Dapatkanlah perhatian Allah dengan tangismu dalam doa. Hindari meratapi nasib, apalagi mencacinya. Jangan membuat-Nya murka dengan bergantung pada selainnya seperti dukun, penguasa, kuburan, matahari, lautan, pegunungan, ramalan paranormal, atau unsur apapun itu yang hanya akan memberi tipuan dan masalah baru bahkan tak dapat meberi apapun. Jadikan Allah sebagai tempat bersandar ketika jiwa kita letih. Jadikan Dia tempat bergantung ketika kita ingin bangkit dari kejatuhan. Berbesar jiwalah dengan berharap selalu keridhaan-Nya di setiap ujung harapan kita.
Berbagi Titipan-Nya
Kebahagiaan sejati bukan pada saat kita menerima sebuah nikmat, tetapi ketika kita dapat berbagi apa yang ada di atas telapak tangan kita. Semua nikmat yang ada dalam kekuasaan kita berstatus sebagai titipan. Ada saatnya nanti ketika titipan itu harus berpindah tangan. Bila kita tak dapat memberi harta, maka ilmu bisa dibagi. Jika kita tak bisa berbagi ilmu, maka senyumpun bisa kita tebarkan. Namun seringkali manusia terjebak dengan kebekuan jiwanya saat tertimpa cobaan. Jiwanya tak sanggup memberikan dorongan positif saat hati terasa galau. Keadaan itulah yang menjadi penyebab makin menyempitnya dada, padahal yang kita butuhkan adalah kelapangan hati untuk menampung beban-beban masalah jiwa kita. Ketika kita dapat menghilangkan satu kesulitan dan mengukir gurat bahagia di wajah saudara kita maka itulah momen dimana kita dapat merasakan kebahagiaan sejati. Ketika seorang manusia kelaparan berhari-hari dan kitalah yang memberinya makanan, maka bayangkanlah perasaan kita saat menatap wajahnya saat ia makan dengan lahapnya. Rasa bahagia itulah yang memberi efek sensorik hingga hati kita terasa lapang. Betapapun besarnya masalah yang kita hadapi niscaya dapat tertampung di dada ini bila hati dan jiwa kita lapang. Sikap berbagi itu pulalah yang akan menjadi semacam rayuan kepada sang Khaliq untuk meminta jalan keluar darinya atas kesusahan kita juga.
Mengingat-Nya
Shalat adalah sarana paling efektif untuk mengingat Allah (dzikrullah). Kecemasan, ketakutan, frustasi, kesedihan adalah keadaan-keadaan jiwa yang membuat hati kalut dan rentan terhadap godaan-godaan setan. Dalam kepanikan hatinya, manusia terkadang sering mengikuti pikiran pendeknya hingga terjerumus pada kebinasaannya. Saat manusia dalam keadaan yang selemah itu, maka dia membutuhkan Allah sebagai penguatnya. Obat bagi setiap hati yang panik dan kalut adalah dzikrullah, mengingat Allah dengan hati dan pikirannya. Allah telah berjanji melalui firman-Nya:
“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah (dzikir). Ingatlah, dengan mengingat Allah, hati menjadi tentram.” (QS. Ar-Ra’du:28).
Jika hati masih tetap galau maka berintrospeksilah, barangkali masih ada yang membuat-Nya murka kepadamu. Bersihkanlah lambungmu dari zat-zat yang haram dengan memperbanyak istighfar, musnahkanlah benda-benda sakti dan kramat yang menguasaimu selama ini, putuskanlah hubunganmu dengan manusia ‘mandraguna’ dan jin yang menjadi langgananmu di setiap masalahmu dan segeralah bertaubat.
Berhasanah Atas Nama-Nya
Musibah datang saat kau sedang giat-giatnya beribadah. Dengan serta merta kau merasa ada ketidakadilan. Mengapa bukan mereka yang tak pernah shalat dan suka berbuat zhalim itu yang ditimpa musibah?
Itulah salah satu perbuatan buruk sangka kita kepada Allah. Padahal sikap yang seharusnya kita kedepankan sebagai refleksi iman kita kepada-Nya adalah husnu-zhon.
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ – رضى الله عنه – قَالَ قَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِى بِى ، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِى ، فَإِنْ ذَكَرَنِى فِى نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِى نَفْسِى ، وَإِنْ ذَكَرَنِى فِى مَلأٍ ذَكَرْتُهُ فِى مَلأٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ ، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَىَّ بِشِبْرٍ تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا ، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَىَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا ، وَإِنْ أَتَانِى يَمْشِى أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً
Dari Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu-, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah Ta’ala berfirman: Aku sesuai persangkaan hamba-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku saat bersendirian, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan, Aku akan mengingatnya di kumpulan yang lebih baik daripada pada itu (kumpulan malaikat). Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan (biasa), maka Aku mendatanginya dengan berjalan cepat.” (HR. Bukhari no. 6970 dan Muslim no. 2675).
Begitupun perbuatan buruk lainnya yang berpotensi ada dalam diri kita, maka kita harus terus menguatkan tekad untuk senantiasa menghidupkan segala potensi kebaikan diri kita sebagai bentuk perlawanan terhadap potensi keburukan itu.
Berserah Diri Pada-Nya
“(yaitu) orang-orang yang sabar dan hanya kepada Tuhan saja mereka bertawakkal”. (QS. An-Nahl: 42)
Puncak dari setiap amal kesabaran adalah tawakkal. Jika orang-orang yang sabar dibersamai oleh Allah, maka pada puncak tawakkalnya ia memperolah curahan rahmat Allah dalam bentuk nikmat dunia. Itulah makna basysyirish shobiriin (berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar) pada QS. Al-Baqarah : 155. Mereka juga memperoleh kesudahan yang berupa nikmat di akhirat:
“(yaitu) syurga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang shalih dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu”. (QS. Ar-Ra’d: 23).

Selasa, 23 Agustus 2016

3 Hal Yang Paling Menentukan Dalam Penyelesaian Sengketa Pemilihan dengan Cara Cepat

Menjadi seorang pengawas pemilu ternyata tidaklah ringan. Banyak kewajiban yang harus dijalankan sebagai bentuk kewenangan seorang pengawas yang diamanatkan dalam undang-undang. Di antara kewenangan tersebut adalah melaksanakan tindakan-tindakan pencegahan pelanggaran dalam berbagai bentuk pendekatan, menerima dan memproses setiap laporan pelanggaran pemilihan, menerima-memeriksa dan memutus perkara politik uang, melakukan penanganan pelanggaran, dan menerima permohonan dan melakukan penyelesaian sengketa pemilihan. Dengan kewenangan-kewenangan ini maka pengawas pemilu dituntut untuk memahami aturan perundang-undangan serta dituntut mampu melaksanakan tugas dan kewenangan tersebut sebagaimana yang diamanatkan oleh undang-undang. Untuk menjalankan kewajiban-kewajiban tersebut tentunya membutuhkan performa fisik dan mental yang cukup mendukung, karena pekerjaan pengawasan tidak mengenal batas waktu dan batas tempat. Sebagai contoh bahwa dalam kewenangannya menyelesaikan sengketa pengawas pemilu dikenal metode penyelesaian sengketa dengan cara cepat untuk menyelesaikan perselisihan antar peserta pemilihan, misalnya terjadi keadaan dimana dua peserta pemilihan mendapat jadwal kampanye yang sama dalam satu zona di waktu bersamaan. Kondisi ini membutuhkan penyelesaian sesegera mungkin pada saat itu juga ditempat yang disepakati oleh para pihak yang bersengketa. Maka dalam situasi seperti ini ada 3 hal yang harus dimiliki oleh seorang pengawas pemilihan demi tercapainya penyelesaian sengketa, yaitu :
1. Kesigapan
    - Sigap memahami situasi
      Di setiap tahapan penyelenggaraan pemilihan seorang pengawas selalu dihadapkan dengan situasi yang dinamis. Dinamika inilah yang cenderung menimbulkan resiko konflik antar peserta pemilihan dan tim sukses. Kemampuan seorang pengawas dalam memahami setiap dinamika yang berpotensi konflik atau menimbulkan perselisihan menjadi hal yang penting dimiliki dalam upaya melakukan tindakan preventif maupun antisipatif. Oleh karena itulah seorang pengawas harus memiliki kesigapan untuk cepat memahami situasi di setiap gerak tahapan pemilihan.
    - Sigap koordinasi
Konflik atau perselisihan kerap menimbulkan ancaman terganggunya keamanan, baik keamanan diri maupun lingkungan. Dukungan personil keamanan menjadi standar baku yang tidak bisa diabaikan dalam setiap penanganan sengketa antar peserta. Begitupun dengan kehadiran unsur tokoh netral dalam upaya melakukan langkah persuasif antara pihak yang bersengketa perlu menjadi perhatian untuk dikoordinasikan sebelum menangani sengketa.
    - Sigap aksi
Setelah keadaan dapat dipahami dan dikoordinasikan dengan pihak terkait maka langkah selanjutnya adalah kesigapan seorang pengawas untuk segera beraksi untuk menangani sengketa. 
    - Sigap identitas
Setiap pihak yang bersengketa tentulah mengharapkan ada pihak yang tepat untuk menangani perselisihan yang terjadi. Dalam hal ini panwaslah yang secara resmi diberikan kewenangan untuk itu. Oleh karena itu maka identitas menjadi alat yang penting untuk memperknalkan diri seorang pengawas terutama kepada publik dan secara kusus kepada pihak yang bersengketa.
2. Keberanian
    - Berani mendatangi dan menangani
    - Berani menjadi pengendali
    - Berani menjadi pengambil keputusan
3. Ketepatan
    - Tepat situasi
    - Tepat lokasi
    - Tepat regulasi
Bila hal ini luput dari tindakan yang dilakukan oleh seorang pengawas pemilihan maka akan menimbulkan resiko kegagalan dalam penyelesaian sengketa bahkan bila ketiga-ketiganya tidak muncul dalam diri seorang pengawas maka bisa dipastikan resiko terburuknya adalah berakhir 'gatot' alias gagal total.


Minggu, 20 September 2015

Khutbah Idul Adha 1436 H: TIGA PESAN MORAL IBADAH HAJI SEBAGAI SPIRIT KEBANGKITAN


السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الله أكبر )× (لا إله إلا الله، والله أكبر ، الله أكبر ولله الحمد
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَسْتَهْدِيْهِ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اهْتَدَى بِهُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.

            Panggilan Allah telah disambut, kalimat talbiyah terus bergema, takbir tahmid dan tahlil tak henti dikumandangkan untuk memuji kesucian dan ketinggian-Nya. Segala puji hanya layak kita panjatkan untuk-Nya, zat yang menguasai kerajaan langit dan bumi. Dialah Allah SWT yang hanya kepada-Nya segala ketinggian cinta dan pengorbanan kita persembahkan.
Hari ini milyaran ummat Islam di seluruh dunia merayakan hari yang agung, hari raya Idul Adha 1436 H. Di saat yang sama pula lebih dari 2 juta ummat Islam dari segala penjuru dunia berkumpul di Makkah mukarramah untuk memuji kebesaran-Nya dalam rangka menunaikan suatu kewajiban sebagaimana yang difirmankan Allah SWT:
وَلِلّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ اِلَيْهِ سَبِيْلاَ *
Artinya : “Dan Allah mewajibkan atas manusia haji ke Baitullah bagi orang yang mampu mengerjakannya” . (QS. Ali ‘Imran: 97).

Suara tangis haru dan ta’zhim ketika menatap ka’bah turut menghiasi kalimat-kalimat talbiyah para jama’ah haji. Bagi kita yang belum merasakan suasana haji di tanah suci-pun seolah tak kuat membendung air mata dan ingin rasanya segera menyentuh ka’bah serta ingin segera merasakan betapa indahnya getar iman kerinduan ketika berada di raudhoh, makam nabi kita nabiyyullah Muhammad SAW. Kalimat talbiyah itupun seakan-akan terdengar sampai di tempat ini dan terus menggugah spirit keimanan kita untuk ikut merengkuh mabrur di tanah suci Makkah.

لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لاَشَرِيْكَ لَكَ
Jama’ah Idul Adha rahimakumullah,
Idul Adha hari ini kembali menjadi momentum bagi setiap pribadi muslim untuk kembali melakukan napak tilas atas syari’at haji yang telah diwariskan oleh Nabi Ibrahim AS. Tepatlah kiranya di kala ummat Islam sedang mengalami berbagai problematika kekinian, maka patutlah kita melakukan napak tilas maknawiyah dan mengimplentasikan dalam kehidupan kita tiga pesan moral yang terkandung di balik pelaksanaan ibadah haji.

1.    Ukhuwah Islamiyyah (Persaudaraan Islam)
Kaum muslimin yang menunaikan ibadah haji di tanah suci diwajibkan mengenakan pakaian ihram tanpa jahitan. Nuansa putih yang mendominasi pemandangan Mekkah menjadi fenomena yang khas dalam ritual ibadah haji. Di Miqat Makany, di tempat di mana ritual ibadah haji dimulai, perbedaan dan pembedaan harus ditanggalkan. Semua harus memakai pakaian yang sama. Pengaruh-pengaruh psikologis dari pakaian harus ditanggalkan, hingga semua merasa dalam satu kesatuan dan persamaan. Tak ada lagi perbedaan dari sisi penampilan antara pejabat dan rakyat, antara raja dan jelata, antara si kaya dan miskin. Semuanya terlihat setara dengan pakaian yang tidak lagi menjadi simbol status sosial. Raja yang biasa mengenakan mahkotanya, harus menanggalkannya. Pejabat yang selalu berdasi, tak lagi dapat mengenakannya. Si kaya yang biasanya mengenakan pakaian yang mahal, tak dapat lagi memakainya dengan bangga.
Dengan mengenakan dua helai pakaian berwarna putih-putih, sebagaimana yang akan membalut tubuh manusia ketika ia mengakhiri perjalanan hidup di dunia ini, seorang yang melaksanakan ibadah haji akan merasakan jiwanya dipengaruhi oleh pakaian ini. Ia akan merasakan kelemahan dan keterbatasannya, serta pertanggungjawaban yang akan ditunaikannya kelak di hadapan Tuhan Yang Maha Kuasa. Ihram dapat disimbolisasi sebagai bentuk persamaan derajat kemanusiaan. Persamaan dan kesetaraan itulah yang menumbuhkan semangat persaudaraan ummat Islam. Tak ada sekat-sekat pemisah yang kerap menjadi hambatan bagi terwujudnya persatuan dan persaudaraan kaum muslimin. Faktor jabatan, kekayaan, perbedaan organisasi, perbedaan suku, dan status sosial lainnya yang  tidak disadari telah menumbuhkan sikap superior dan inferior di kalangan ummat Islam, tidak dikenal lagi di Mekkah.
Dalam kehidupan ummat Islam dewasa ini begitu sulit untuk menghindarkan diri dari perbedaan amal peribadatan kita. Perbedaan paham yang kerap terjadi di kalangan ummat Islam telah menjadi sebuah keniscayaan yang telah lama dikabarkan oleh Rasulullah, namun perbedaan itu tidak boleh menghancurkan sendi-sendi persaudaraan kita sebagai sesama muslim. Perbedaan adalah sebuah keniscayaan yang harus disikapi secara bijak berdasarkan petunjuk al-Qur’an, sunnah nabi dan nasehat para ulama.

Allah SWT berfirman dalam QS. Huud ayat 118-119:
وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ ٱلنَّاسَ أُمَّةً وَٰحِدَةً  وَلَا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَۚ إِلَّا مَن رَّحِمَ رَبُّكَ
 “Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu”.

Mereka yang tetap menjaga sikapnya sebagai seorang muslim dalam menghadapi keniscayaan perbedaan di antara ummat Islam, merekalah yang berhak meraih rahmat atau kasih sayang Allah seperti yang terkandung dalam ayat tersebut. Namun sebaliknya mereka yang menjadi pemicu percerai-beraian karena sikap sentimen yang tidak terkendali hingga saling menyesatkan bahkan mengkafirkan, mereka inilah yang menjadi sumber masalah di tengah ummat Islam. Kita tidak boleh terjebak dalam sikap dan tindakan untuk mencari kemenangan, tapi justeru menemukan dan menguatkan perkara yang mendekati kebenaran, karena kebenaran mutlak hanya milik Allah SWT. Kita tidak boleh pula terseret oleh arus perpecahan, tetapi justeru harus menguatkan persaudaraan dengan menghargai pendapat yang berbeda serta menghormati dan mencintai saudara kita yang tidak sependapat khususnya dalam wilayah khilafiyah fiqhiyah ijtihadiyah.

Simaklah dan renungkan firman Allah SWT :
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَة مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آَيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونٍَ 
Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan ni`mat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena ni`mat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (QS. Ali Imran: 103)

Dalam masalah khilafiyah kita dapat saling menghargai untuk menjadikan perbedaan itu menjadi sebuah rahmat, tetapi dalam perkara prinsip agama seperti masalah aqidah tauhid maka kita harus tegas menolak dan melawan yang telah nyata dalam kesesatan aqidah siapapun pelakunya.

2.    Mujahadah bisy- Syari’ah (Kesungguhan dalam Bersyari’at)
Pelaksanaan ibadah haji diawali dengan ihram dan diakhiri dengan melakukan tahallul membawa pesan penting dalam kehidupan kita bahwa seorang muslim harus senantiasa berkomitmen sungguh-sungguh dalam batasan-batasan syar’i khususnya pada perkara al-halal wal haram. Oleh karenanya pengetahuan tentang ilmu syari’ah menjadi perkara yang wajib dimiliki oleh setiap muslim. Tidak dibenarkan bagi setiap muslim hidup tanpa batas dengan mengabaikan pokok dan prinsip hukum syari’ah. Sama halnya dengan seorang yang beribadah haji ketika dia sedang ihram, maka tidak dibenarkan untuk melakukan hal-hal yang dilarang, bahkan perkara yang mubahpun menjadi larangan yang tidak boleh dilanggar seperti mengenakan penutup kepala bagi laki-laki dan mengenakan cadar bagi perempuan. Itulah konsekwensi dari pakaian ihram yang dikenakan. Demikian pula seorang muslim harus tunduk dan patuh terhadap setiap perkara yang diharamkan dan hanya beramal dengan apa yang dihalalkan Allah dalam kehidupan ini.

Dari An Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الْحَلاَلَ بَيِّنٌ وَإِنَّ الْحَرَامَ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا مُشْتَبِهَاتٌ لاَ يَعْلَمُهُنَّ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ وَمَنْ وَقَعَ فِى الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِى الْحَرَامِ
Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram pun jelas. Di antara keduanya terdapat perkara syubhat -yang masih samar- yang tidak diketahui oleh kebanyakan orang. Barangsiapa yang menghindarkan diri dari perkara syubhat, maka ia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya. Barangsiapa yang terjerumus dalam perkara syubhat, maka ia bisa terjatuh pada perkara haram...” (HR. Bukhari - Muslim)

Potret wajah negeri kita  menunjukkan bahwa betapa masih sulit bagi ummat ini untuk menggalakkan  nilai-nilai syar’i dan tegas dalam perkara halal dan haram. Padahal penduduk negeri ini mayoritas sebagai muslim dengan agama yang sempurna. Mudah sekali kita menemukan perikalu-perilaku yang tidak syar’i dalam kehidupan ummat Islam bahkan tidak mempedulikan lagi status halal-haramnya. Pergaulan bebas, kumpul kebo’, kos-kosan mesum yang tidak mempedulikan batasan-batasan syar’i berpotensi terjadi pembauran antara laki-laki dan perempuan hingga perzinahan masih mudah ditemukan dimana-mana. Budaya malu sudah mulai luntur. Kejahatan lingkungan marak terjadi di mana-mana hingga menimbulkan dampak alam dan sosial yang kian hari kian parah. Dalam mencari nafkahpun terkadang kita masih sering melihat segelintir orang yang menggunakan cara-cara yang batil seperti mengurangi takaran, penipuan, hingga korupsi. Mereka berprinsip, mencari yang haram saja susah, apalagi yang halal sehingga perilaku mereka cenderung bertipologi H3 (Halal Haram Hantam). Fenomena ini sudah dikabarkan Rasulullah dalam sabdanya:

يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لَا يُبَالِي الْمَرْءُ مَا أَخَذَ مِنْهُ أَمِنَ الْحَلَالِ أم من الْحَرَام
Akan datang suatu zaman dimana manusia tidak peduli apakah hartanya diperoleh dengan jalan halal atau haram.” (HR Bukhari)

Kesadaran tentang pentingnya kesungguhan dalam bersyariat harus terus kita bangun. Pembinaan ummat harus terus digalakkan dalam masalah-masalah fiqih. Kita galakkan revitalisasi gerakan hidup halal untuk masyarakat berkah.

3.    Harokah Nahdhoh (Gerakan Kebangkitan)
Pelaksanaan ibadah haji begitu sarat dengan pergerakan. Dari satu tempat menuju ke tempat yang lain, dari satu rukun ke rukun haji yang lain. Para jamaah haji memasuki miqot masing-masing dibarengi dengan mengenakan pakaian ihram, menuju mekkah untuk melakukan thawaf, di bukit shafa dan marwah berlari-lari kecil untuk sa’i. Selanjutnya menuju arafah untuk wukuf, kemudian mabit di muzdalifah, dilanjutkan ke mina untuk melontar jumroh dan kembali ke Mekkah untuk melakukan thawaf.
 Begitulah gambaran prosesi ibadah haji yang begitu sarat dengan aktivitas yang dinamis sambil memperbanyak dzikir kepada Allah. Salah satu contoh ritual ibadah haji yang sarat makna itu adalah sa’i sebagai napak tilas apa yang pernah dilakukan oleh Hajar dalam kesulitannya menemukan sumber air di antara bukit shafa dan marwah.  Hajar tidak duduk termangu menunggu keajaiban dari langit. Ia berlari ke sana ke mari dari satu bukit tandus ke bukit tandus lainnya mencari air. Ia tidak duduk termenung dan menangis tanpa daya. Ia gunakan segenap kekuatan kakinya, kehendaknya, dan pikirannya dengan terus mencari, bergerak, dan berjuang tanpa henti. Sehingganya sa’i dapat dismbolisasikan sebagai perjuangan tanpa henti dan tak kenal lelah. Sedangkan thawaf merupakan simbolisasi ke-ilahian yang universal. Jumroh merupakan simbolisasi perlawanan terhadap kebatilan dan Wukuf di Arafah merupakan simbolisasi kearifan manusia.
Seperti halnya dinamika prosesi dalam ibadah haji maka seperti itu pula perjuangan ummat Islam untuk mewujudkan khairu ummat (ummat terbaik). Cita-cita ini menjadi satu rangkaian utuh bersama terwujudnya kebangkitan Islam yang akan meneteskan embun-embun kebaikan dan kasih sayang di setiap jengkal bumi Allah. Islam yang kelak akan menjadi lokomotif bagi peradaban bangsa-bangsa di dunia. Itulah spirit moral yang harus terus tumbuh dan menjadi energi maknawi bagi setiap muslim sejati.
كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah...” (QS. Ali Imran : 110)
Langkah terpenting dari sebuah gerak kebangkitan adalah memulai dari diri sendiri, kemudian keluarga dan masyarakat. Kemudian, menyadari persoalan pokok ummat saat ini yaitu kejahiliyahan yang melanda ummat Islam dan marodhunnafs yakni aspek mentalitas kaum muslimin yang mengalami pelemahan potensi seperti melemahnya keberanian, melemahnya komitmen terhadap Islam, dan melemahnya ketaatan terhadap Allah. Maka sudah sepatutnya setiap kita harus memiliki peran dan bergerak aktif di semua lini kehidupan, baik itu di lini pemerintahan, lembaga legislatif, ormas dan yayasan, maupun lembaga-lembaga pendidikan untuk melakukan perbaikan ummat menuju tranformasi peradaban yang menjadi cita-cita kita bersama.
Masih banyak anggota keluarga muslim yang buta terhadap ajaran agamanya sendiri, banyak pula kaum muslimin yang terperangkap dalam kubangan gaya hidup hedonis dan sekuler hingga membuat gerak kebangkitan ini terus mengalami pelambatan. Tak ada cara selain terus memacu gerak kebangkitan kita agar terus melaju tanpa henti.
وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ
"Dan katakanlah: Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mu’min akan melihat pekerjaanmu itu..." (QS. At-Taubah: 105)

Jama’ah ‘ied rahimakumullaah,
Inilah 3 pesan moral dari prosesi pelaksanaan ibadah haji yang tentunya kita harapkan dapat terpateri secara implementatif dalam kehidupan keluarga dan masyarakat muslim. Agar ketiga pesan moral ini tidak terhenti hanya pada simbolisasi tanpa implementasi hingga menjadikan kita hanya unggul mayoritas tapi tidak berkwalitas, maka kesemuanya tentu harus bermuara pada sebuah pengorbanan nyata.
Akankah kita siap mengorbankan ke-akuan dan sikap ashobiyyah (sentimen kelompok) kita demi terwujudnya ukhuwah islamiyyah hingga sampai pada derajat itsar yakni mendahulukan saudara kita di atas segala kepentingan pribadi dan kelompok atau jama’ah kita? Akankah juga kita siap mengorbankan syahwat hewaniyah  kita demi sebuah ketaatan yang tanpa syarat terhadap segala perintah dan larangan Allah SWT kemudian mempertegas kembali pemahaman dan sikap kita terhadap perkara halal dan haram? Akankah juga kita siap berkorban untuk meninggalkan zona kenyamanan kita selama ini kemudian bergerak menuju pada sebuah sikap kepedulian terhadap urusan agama ini, mengorbankan sebagian waktu kita untuk berfikir dan bekerja demi kembalinya izzatul Islam wal muslimin? Jika kita siap, maka itulah qurban yang juga bernilai tinggi di sisi Allah SWT. Allahu akbar walillaahil hamd!
Semoga Allah tidak hanya memudahkan jalan kita untuk menunaikan syari’at haji ke tanah suci Makkah, namun sekaligus menuntun kita dengan taufik-Nya agar dapat merekonstruksi hikmah qurban dan nilai-nilai ibadah haji dalam kehidupan kita.

Dengan sepenuh hati marilah kita doakan negeri ini beserta pemimpin dan rakyatnya agar  senantiasa berada dalam naungan dan bimbingan Allah SWT, amiin yaa robbal ‘aalamiin.

(Lanjutkan dengan doa) :
Ya Allah, perbaikilah agama kami untuk kami, karena ia merupakan benteng bagi urusan kami. Perbaiki dunia kami untuk kami yang ia menjadi tempat hidup kami. Perbaikilah akhirat kami yang menjadi tempat kembali kami. Jadikanlah kehidupan ini sebagai tambahan bagi kami dalam setiap kebaikan dan jadikan kematian kami sebagai kebebasan bagi kami dari segala kejahatan.

Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum muslimim, campakkanlah pelaku syirik dan kemusyrikan, kekalkanlah para penegak agama Islam. Jadikanlah Negara ini aman dan tenteram, demikian pula seluruh negeri Islam. 

Ya Allah, ampunilah dosa kaum muslimin dan muslimat, mukminin dan mukminat, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar, Dekat dan Mengabulkan doa.

Ya Allah, jadikanlah mereka (para jamaah haji) haji yang mabrur, sa’i yang diterima, dosa yang diampuni, perdagangan yang tidak akan mengalami kerugian.

Yaa Allah yaa Rahiim yaa Rahmaan, walau kami tahu bahwa Engkau yang Maha Memelihara dan Yang Maha Memberi makhluk-Mu, namun dalam hati ini ada rasa tak tega melihat mereka yang lemah dan kekurangan, ada airmata yang menetes karena sedih dan haru. Yaa Allah, beri kami kekuatan untuk dapat menghilangkan kesulitan kaum yang lemah dan lebihkan apa yang ada di tangan kami agar kami dapat berbagi dengan mereka. Engkau yang telah menghadirkan kesedihan dan keharuan ini di hati kami dan hanya kepada-Mu pula kami memohon pertolongan.

Yaa Allah, selamatkanlah ummat ini dari perselisihan yang dapat membawa perpecahan dan kebinasaan. Anugerahkanlah kepada kami daya dan upaya untuk memegang tali agama-Mu dan jangan cerai beraikan kami karena kebodohan kami.

Yaa Allah yaa Tuhan kami, kami memohon limpahan rahmat, taufik dan hidayah-Mu bagi pemimpin-pemimpin dan seluruh rakyat di negeri tercinta ini. Mantapkanlah semangat dan tekad para pemimpin kami dengan penuh kesabaran dan bertawakkal kepada-Mu dalam memikul tanggungjawab memajukan daerah dan negara ini agar dicintai, disanjung dan disegani oleh rakyatnya, dihormati oleh bangsa-bangsa di dunia dalam ri’ayah dan naungan-Mu.

Aamiin yaa robbal ‘aalamiin…

  


KHUTBAH KEDUA (Jika diperlukan) :

اللهُ اَكْبَرْ (3×) اللهُ اَكْبَرْ (4×) اللهُ اَكْبَرْ كبيرا وَاْلحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ الله بُكْرَةً وَ أَصْيْلاً لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَللهِ اْلحَمْدُ. اْلحَمْدُ للهِ عَلىَ اِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَاَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ لَهُ تَعْظِيْمًا لِشَأْنِهِ وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى اِلىَ رِضْوَانِهِ اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثيْرًا. اَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا اَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَزَجَرَ.وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهّ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى اِنَّ اللهَ وَمَلآ ئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ

اَللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ بِالإِسْلاَمِ وَلَكَ الْحَمْدُ بِالإِيْمِانِ وَلَكَ الْحَمْدُ بِالْقُرْآنِ وَلَكَ الْحَمْدُ بِالأَهْلِ وَالْمَالِ وَالْمُعَافَاةِ لَكَ الْحَمْدُ بِكُلِّ نِعْمَةٍ أَنْعَمْتَ بِهَا عَلَيْنَا.
سُبْحَانَكَ لاَ نُحْصِيْ ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ فَلَكَ الْحَمْدُ حَتَّى تَرْضَى وَلَكَ الْحَمْدُ إِذَا رَضِيْتَ.
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى عَبْدِكَ ونَبِيِّكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِيْنَا وَارْحَمْهُمْ كَمَا رَبَّوْنَا صِغَارًا.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا رَبَّنـَا إِنَّكَ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ.
اَللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلاَهَا
اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِيْ هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِيْ فِيْهَا مَعَاشُنَا وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِيْ إَلَيْهَا مَعَادُنَا وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِيْ كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ.
اَللَّهُمَّ اجْعَلْهُمْ حَجًّا مَبْرُوْرًا وَسَعْيًا مَّشْكُوْرًا وَذَنْبًا مَغْفُوْرًا وَتِجَارَةً لَنْ تَبُوْرًا

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ شَبَابَ الْمُسْلِمِيْنَ وَحَبِّبْ إِلَيْهِمُ الإِيْمَانَ وَزَيِّنْهُ فِيْ قُلُوْبِهِمْ وَكَرِّهْ إِلَيْهِمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوْقَ وَالْعِصْيَانَ وَاجْعَلْهُمْ مِنَ الرَّاشِدِيْنَ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ يَا حَيُّ يَا قَيّوْمُ يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ يَا مُجِيْبَ دَعْوَةِ الْمُضْطَرِّ إِذَا دَعَاكَ نَسْأَلُكَ أَنْ تُعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِميْنَ وَأَنْ تُذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَأَنْ تُدَمِّرَ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَأَنْ تَجْعَلَ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا مُطْمَئِنًّا وَسَائِرَ بِلاَدِ الإِسْلاَمِ وَالْمُسْلِمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ أَفْرِغْ عَلَيْهِمْ صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَهُمْ وَانْصُرْهُمْ عَلَى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّهِمْ.
رَبَّنَا اصْرِفْ عَنَّا عَذَابَ جَهَنَّمَ إِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا.
اَللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لاَ يَنْفَعُ وَمِنْ قُلُوْبٍ لاَ تَخْشَعُ وَمِنْ نُفُوْسٍ لاَ تَشْبَعُ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ. وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ. وَالْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.